
Beberapa waktu pun berlalu, Deon yang memilih tak mencampuri urusan Revan pun pada akhirnya memilih untuk menanyakan hal tersebut secara langsung. sebenarnya sudah sedari awal ia menaruh curiga, tetapi Deon sendiri kebingungan harus menghadapi masalah tersebut dengan cara apa. baik Revan dan juga Raka, keduanya adalah sahabat baik Deon. itu sebabnya Deon tak ingin terlibat banyak atas permasalahan yang terjadi pada kedua pria tersebut.
"Bener lu yang bunuh Raka?" Deon langsung melempar pertanyaan tersebut pada Revan sebab rasa penasarannya terus mencuat, kala Natalie mengatakan segala sesuatu yang Sarah ceritakan.
Revan terlihat tenang, ia justru meraih sebatang rokok lalu menyalakannya menggunakan pemantik. sejenak Revan terdiam, sambil menghisap rokok yang terhimpit jari-jarinya kemudian berkata, "Natalie yang bilang?"
"Jawab, Van? kenapa lo tega?" dengan penuh kekesalan Deon mencengkram kerah pakaian yang Revan kenakan, "Raka itu temen temen lo!"
"Bukan!" Sahut Revan meninggikan suara, Revan bahkan menepis dan mendorong Deon dengan emosi yang memuncak saat pria itu memancing api amarahnya, "Kalo lo masih nganggep gue temen, stop! gue mohon lo gak usah ikut campur!"
Deon menghela nafas kasar, Bruak... pukulan kasar Deon daratkan tepat di perut sexy Revan hingga pria itu sedikit memundurkan langkahnya karena terdorong. "Bajingan lo, Van! gak punya hati!"
Revan terkekeh, ia terlihat begitu tenang. meskipun di bagian perutnya terasa sangat nyeri. "Jadi lo nyalahin gue?"
"Kenapa harus bunuh Raka, Bang*sat!" tanya Deon sambil menghardik penuh amarah.
"Karena hal itu pantes dia dapetin!" pekik Revan meninggikan suara.
Lagi-lagi Deon mendaratkan pukulan kewajah dan bahkan ke seluruh tubuh Revan. kali ini Revan melawan, bahkan mereka benar-benar saling menyakiti satu sama lain.
Sarah yang mendengar hal itupun langsung memasuki ruang kerja pribadi Revan dan mencoba memisahkan keduanya, "Cukup! Revan, Deon berenti." jerit Sarah mencoba menarik suaminya menjauhi Deon.
Sejenak mereka terdiam dengan sorot yang saling menatap penuh kemarahan. lalu kemudian Deon memilih untuk keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Revan dan juga Sarah.
Entah bagaimana Sarah harus menyikapi hal ini. disisi lain ia masih menyimpan dendam yang begitu besar pada suaminya, tapi untuk apa dendam itu terus ia simpan? pada kenyataannya Raka memang sudahlah tiada.
"Kenapa?" lirih Sarah bertanya.
Revan menepis tangan Sarah, pria yang masih dirundung kekesalan itupun memilih hengkang dari hadapan istrinya. atau lebih tepatnya, Revan sengaja memilih pergi karena tak ingin menjawab pertanyaan yang Sarah lemparkan.
Katakan saja ini adalah kali pertama untuk Revan mengacuhkan Sarah. bukan berarti pria itu sudah kehilangan perasaan terhadap istrinya, Revan hanya ingin melerai sejenak api kemarahannya tersebut. karena khawatir, jika pertanyaan Sarah akan semakin membakar dirinya.
Revan tak menanggapinya, ia hanya langsung menjatuhkan diri di atas tempat tidur sambil merasakan sakit akibat pukulan yang Deon daratkan dibeberapa bagian tubuhnya.
Sarah berdecak kasar, dengan perasaan kesal wanita itupun meraih sebuah kotak obat di dalam laci nakas. lalu Sarah mendudukan bokongnya di samping tubuh Revan yang sedang terbaring membelakangi tubuhnya.
Perlahan Sarah meraih tangan Revan, memalingkan wajah pria itu penuh kelembutan. Sarah mulai mengobati luka memar yang berada diwajah suaminya kemudian berkata, "Tolong jangan bikin aku bingung, sebenarnya apa sih yang ada dalam pikiran kamu sekarang? kenapa harus kaya gini, seenggaknya jelasin sedikit ajah motif dari rencana kamu. biar aku gak hidup dalam bayang-bayang penyesalan terus,"
Revan hanya menatap lekat mata istrinya, berikut dengan ekspresi ketulusan Sarah yang semakin menggetarkan hatinya.
"Aku takut sama kamu, Van." lirih Sarah meneteskan air matanya.
Deg...
Revan tertegun, pria itu semakin memperdalam tatapannya memandang kecantikan Sarah. tangan Revan terdorong oleh perasannya untuk menghapus cairan bening yang mengalir membasahi pipi sang istri. "Aku cinta kamu, Sar." ucap Revan menyunggingkan senyumnya.
Revan memalingkan wajahnya. ia berpikir, apalah arti cinta jika semua yang ada dihadapan mata Serah seakan terasa samar. Sarah tak bisa membedakan situasi rumit tersebut, disisi lain dirinya benar-benar yakin jika Revan tulus dengan perasaannya. tetapi disisi lain, pria yang telah menyandang status sebagai suami Sarah itu adalah otak dari pembunuhan kekasihnya.
"Aku berharap kamu bisa nerima aku, Sar." Revan mengecup tangan istrinya singkat lalu menempelkan tangan itu tepat dipipi kirinya.
"Tapi kamu udah ngancurin harapan aku, Van."
"Kebahagiaan kamu cuma sama aku, Raka gak pantes buat kamu, Sayang."
Sarah melirik kearah Revan dengan tatapan kejam, "Kamu sama sekali gak ada hak buat ngatur itu semua! kenyataannya aku sama Raka bahagia!"
Revan memiringkan senyumnya, ia spontan menarik tangan Sarah hingga tubuh wanita itu hampir saja menindi*h Revan.
"Lepasin aku, Van."
"Penolakan kamu selalu bikin aku bergairah," Revan mengelus wajah Sarah lalu membawa tubuh indah itu kedalam pelukannya. "Aku mau peluk kamu." ucap Revan mendekap erat.