
Hari berikutnya, Natalie sudah berada didalam satu ruangan bersama Sarah. kedua wanita itu memang sudah membuat janji, jika keduanya akan saling bertemu untuk membicarakan sindrom ketakutan Sarah.
Sejak awal Natalie menginjakan kakinya, Sarah terlihat lebih baik dari sebelumnya. Natalie juga sudah mengetahui, jika hubungan Sarah dan Revan kini sudah saling terbalaskan.
"Jadi, apa masalahnya?" tanya Natalie penasaran dengan sorot mata yang berbinar.
Sarah terlihat cemas, sebenarnya ia sendiri enggan membahas hal ini. tetapi demi cintanya, Sarah bersedia mengambil resiko untuk menghilangkan rasa takut yang terus menyelimuti dirinya, kala ia bersama Revan.
"Aku..." Sarah mengerjap, menghela nafas panjang kemudian mempertegas tatapan dan berkata, "Aku takut sama Revan."
Natalie spontan mengerutkan dahinya, memandang Sarah dengan ekspresi heran. "Bukannya kalian udah..."
"Iya, tapi aku sering tiba-tiba ngerasa takut kalo lagi di deket Revan. bayang-bayang mengerikan selalu melintas dalam pikiran aku, aku takut." ucap Sarah menjelaskan sambil memelas.
Natalie menganggukan kepalanya perlahan, ia meraih secangkir teh hangat yang Sarah sajikan kemudian menyeruputnya perlahan.
"Sar..." Natalie tersenyum tipis meletakan secangkir teh yang baru saja ia nikmati, "Aku ngerti, tapi kalo kamu takut sama Revan itu artinya kamu masih ragu..."
"Enggak," Sarah langsung menyelak ucapan Natalie saat wanita itu menganggap jika Sarah telah meragukan suaminya, "Aku cinta sama Revan. dia memang otak dari pembunuhan Raka, tapi Revan sampai detik ini belum pernah nyakitin aku."
"Terus, apa yang kamu takutin? aku juga percaya kalo Revan udah cinta mati sama kamu." celetuk Natalie disertai kekehan kecil.
Sarah berdecak sebal kemudian menggigit bibir bawahnya sambil berpikir, "Aku gak ngerti, tapi aku beneran udah cinta sama Revan."
Natalie menghela nafas panjang, sebagai seorang dokter tentu ia bisa mengerti jika sekarang Sarah sedang menghadapi sindrom delusi. gejala ini terjadi pada seseorang yang memiliki tingkat ketakutan yang tinggi akan benda, manusia, hewan maupun tumbuhan.
Penderita sindrom tersebut akan cenderung memikirkan hal-hal yang semakin membuat dirinya ketakutan meskipun hal itu tidak benar-benar terjadi. mereka akan merasa dirinya terancam meskipun hal yang mereka takutkan tidak terlihat memberikan ancaman.
"Oke, denger ini saran dari dokter cantik Natalie..."
Sarah langsung menegapkan posisi duduknya memperdalam tatapan pada lawan bicaranya.
"Tahapan awal untuk mengatasi masalah kamu adalah, kamu harus melawan ketakutan itu sendiri."
Sarah mengerutkan dahinya, karena belum bisa mencerna dengan jelas apa yang Natalie sarankan. "Maksudnya aku harus lawan Revan?" sahut Sarah bertanya polos.
Natalie menghela nafas kasar, "Bukan Revan, tapi ketakutan kamu."
"Caranya?"
"Eumm..." Natalie mengalihkan sorot matanya kearah lain seolah berpikir, "Mungkin kamu harus lebih terbuka. atau mungkin kalian harus memperintim lagi kedekatan."
Sarah berdecak kasar, "Kan aku lagi hamil." celetuk Sarah menjawab sambil mengerucutkan bibirnya.
Jawaban tersebut sukses membuat Natalie terkekeh, sepertinya Sarah memanglah tipekal orang yang tidak cepat tanggap, karena Sarah selalu saja menyalah artikan ucapan seseorang.
Sarah hanya bisa tersenyum getir dengan raut wajah sedikit merona. mungkin saja apa yang Natalie katakan memanglah benar, Sarah memang mudah sekali larut dalam delusinya saat dalam otaknya terbesit ingatan jika Revan adalah seseorang yang pernah mendalangi pembunuhan.
"Sampe sini paham, Sar?" tanya Natalie memastikan.
Sarah hanya menganggukan kepalanya perlahan, meskipun dirinya sendiri tidak begitu yakin.
"Yaudah aku pulang dulu, jangan lupa sama saran aku." ucap Natalie beranjak sambil meraih tas kecilnya.
"Bantu aku, aku gak mau terjebak dalam bayang-bayang masa lalu." tukas Sarah meraih tangan Natalie dengan ekspresi memohon.
"Aku bakalan bantu kamu, aku ngerti apa yang sedang kamu alamin sekarang." sahut Natalie meyakinkan.
Binar senyum cantik Sarah tercipta, semua terasa jauh lebih baik karena sekarang Sarah telah memiliki dukungan. meskipun harapannya sekarang telah bertolak belakang dengan hubungan masa lalunya, Sarah sudah memantapkan hatinya jika Revan adalah pria yang tepat untuk urusan kebahagiaan.
Setelah Natalie pergi, Sarah pun berdiri dipenjuru ruangan sambil menatap pemandangan yang terlihat dari jendela kamar. wanita itu menghela nafas panjang, untuk mengurangi kecemasan yang kini mulai menghampirinya. semua itu selalu saja muncul, saat Sarah sendirian dan kecemasan itu akan semakin mendominasi pada saat Revan datang.
"Sayang..." Revan memeluk Sarah dari belakang, mengecup bahu wanita itu penuh kelembutan.
Deg...
Detak jantung Sarah berpacu saat suara sang suami mulai menyapa daun telinganya.
"Van," Sarah memalingkan tubuhnya menatap Revan dengan semburat senyum yang tercipta, "Kamu udah pulang?"
Revan mengangguk, tangan Revan meraih wajah Sarah dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah sang empu.
"Revan pembunuh."
"Revan adalah pembunuh Raka."
"Revan benar-benar seorang pembunuh."
"Ahh..." Sarah meringis sambil memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Revan khawatir.
Sarah tersenyum tipis, ia langsung mengerjap mencoba melawan ketakutan yang kini mulai kembali ingin menguasai dirinya.
"Sayang, kamu baik-baik ajah kan?"
"Van..." Sarah langsung memeluk Revan dengan begitu erat, wanita itu bahkan langsung mengecup bibir suaminya guna mengusir rasa takut yang terus saja berkutat dalam pikirannya.