Love By Accident

Love By Accident
Episode 8



"Gue curiga sama, Sarah."


Deon semakin menajamkan tatapannya kearah Revan, setelah mendengar pernyataan tersebut, "Curiga?"


Revan menghela nafasnya sejenak, ia mencoba mengingat kembali sikap dan prilaku Sarah yang tidak biasa, kemudian menjelaskannya pada Deon. dari mulai Sarah yang terus memanggil nama Raka disetiap obrolannya bersama Revan.


"Mungkin dia belum bisa lupain, Raka." ucap Deon santai seolah tak menganggap hal itu adalah masalah serius.


"Kalo lo diposisi gue gimana? gue nyentuh Sarah ajah belum. gue gak mungkin bisa milikin Sarah seutuhnya, kalo dia masih dihantui terus sama bayang-bayang Raka." Seolah sudah merasa jengah dengan keadaan, Revan akhirnya meluapkan kekesalannya tersebut pada Deon. jujur dalam hal ini ia sangat keberatan, hidup da masa depannya sedang dipertaruhkan olh seorang gadis yang sekarang sudah menjadi istrinya tersebut.


"Yaudah lo bawa ajah dia ke psikiater," celetuk Deon menyarankan.


"Psikiater?" Revan mulai mendalamkan lipatan didahihya, "Maksud lo Sarah gila?"


Dengan mata yang membulat, Deon mengibaskan tangannya seolah membantah ucapan Revan. "Bukan, gak semua hal yang menyangkut psikiater itu gila. bisa ajah Sarah depresi, butuh bimbingan dokter."


"Gue takut Sarah tersinggung, gimana caranya gue bawa dia kedokter?"


Deon menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia pun belum memikirkan cara bagaimana Revan akan membawanya. bawasaanya persoalan seperti ini sangatlah sensitif, dan takut akan menimbulkan kesalah pahaman bagi Sarah sendiri.


"Emang keanehan apa ajah yang lo rasain?" Deon kembali melemparkan pertanyaan, karna penasaran setelah mendengar keluhan dari sahabatnya tersebut.


Revan mengalihkan tatapannya pada Deon kemudian berkata, "Banyak. salah satunya setiap kali gue ngomong serius, gue selalu ngerasa kalo Sarah sedang menganggap gue ini, Raka."


"Lo yakin?"


"Yakin!" Revan berdecih, "Tadi pagi ajah dia manggil gue Raka."


Ditempat lain, Sarah terus mengelus wajah Raka melalui sebuah foto yang ia sembunyikan didalam dompetnya. cinta Sarah terhadap Raka sangat sulit untuk digambarkan. wajar jika Deon mengklaim wanita tersebut sudah kehilangan akalnya, sebab semua yang Revan katakan perihal keluhannya ternyata benar.


Sampai detik ini Sarah masih terjebak dalam bayangan Raka, ironisnya ia sering memandang tubuh kekar Revan adalah tubuh milik Raka. pernah sepintas Sarah berpikir untuk menyerahkan kesuciannya, karna yang ia lihat itu bukanlah Revan, melainkan Raka yang telah mempersuntingnya.


Sadar atau tidak, tindakan Sarah benar-benar sulit untuk dipahami. ingin bertindak tegas, namun Revan sendiri takut sikapnya melukai hati sang istri. tetapi jika terus dibiarkan, akan jadi apa hubungan yang sedang ia jalani sekarang untuk kedepannya? tentu dari sisi Revan ini sangatlah merugikan.


Salah melirik ke suatu arah, perlahan gadis tersebut meletakan foto kecil itu lalu pergi untuk melihat seseorang yang datang.


"Siapa?" tanya Sarah menyapa santun.


Wanita berpostur tubuh jangkung dan sedikit berisi itu pun menjabatkan tangannya pada, Sarah lalu memperkenalkan diri. "Aku Natalie,"


"Kamu cari Revan? dia lagi dikantor."


Natalie menggelengkan kepalanya dengan sorot yang tertuju letak pada Sarah, "Enggak. aku cari kamu."


Sarah mulai mengamati penampilan sederhana wanita dihadapannya, cantik dengan riasan wajah tidak terlalu tebal. raut wajahnya tidak terlihat mencurigakan, meskipun sepintas Sarah berpikir jika ini adalah wanita yang berusaha mengejar Revan dan akan meminta perhitungan karna Sarah sudah lebih dulu menikah dengan Revan.


"Boleh aku masuk?" Natalie mencoba mamulai kembali pembicaraan agar keduanya bisa semakin akrab.


"Sebenernya tujuan utama kamu apa? kenapa kamu cari aku?" Sarah melebarkan pintu utama, seolah mengartikan jika ia tak keberatan dengan kedatangan Natalie.


Natali pun mrndalamjan langkahnya, memasuki ruangan besar yang terlihat mewah tersebut sambil berkata, "Aku pacarnya Deon, Revan bilang kamu masih terbebani sama bayang-bayang Raka. jadi dengan senang hati aku mau nemenin kamu disini, aku bisa bantu kamu supaya kaju bisa lebih terbiasa dengan status baru kamu sekarang, yang udah jadi istri Revan."


Sarah terdiam, ia hanya memandang Natalie dengan raut wajah tanpa ekspresi.


"Kamu disuruh Revan?"


"Enggak," Natalie menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku yang berinisitif sendiri kok."


Seringai aneh tercipta diwajah Sarah, seketika Sarah langsung mengembangkan senyumnya kemudian berkata. "Silahkan duduk, aku mau bikinin kamu minum sebentar,"


Natalie hanya mengangguk, sorot matanya terus menatap tajam kearah Sarah yang berlalu begitu saja dari hadapannya.


Sebenarnya Natalie adalah seorang dokter, ia sudah diperintah oleh Deon dan juga Revan untuk mengamati gerak-gerik aneh Sarah. bukan tanpa alasan, mereka hanya ingin tahu bagaimana kondisi kejiwaan Sarah sekarang. kalau pun Sarah mengalami sedikit gangguan, mereka akan lebih mudah untuk membantu proses penyembuhan dengan bantuan ahlinya.