Love By Accident

Love By Accident
Episode 6



Sarah terus menatap daun gugur yang bertaburan dihalaman rumah dari balik jendela kamar. raut wajah yang penuh arti tersebut justru membuat orang disekelilingnya bertanya, bagaimana perasaan Sarah sekarang.


Terbiasa dengan kehadiran Revan, tidak menutup kemungkinan jika Sarah sudah bisa mengikhlaskan kepergian kekasihnya tersebut. sejauh ini Revan juga sudah sangat berusaha mati-matian untuk ada dan selalu memenuhi apa yang Sarah inginkan. Setahun berlalu, Sarah juga sudah mendapat gelar sebagai istri dari Revan Erlangga.


Gemericik air terus terdengar dari balik kamar mandi yang sedang Revan gunakan. sementara itu, dibalik ruangan yang sedang Revan gunakan sudah ada sesosok gadis cantik yang terus menatap arlojinya dengan tatapan kosong.


"Sar..."


Sarah mendongak, melirik kesumber suara. mata langsung tertuju pada sesosok pria jangkung yang baru beberapa jam ini telah mempersunting dirinya. semburat senyum pun tercipta, dengan sedikit canggung Sarah menjawab, "Iyah?"


"Aku... itu kamar mandinya udah,"


Sarah hanya mengangguk, ia mulai menurunkan kakinya perlahan. mendekati Revan yang hanya mengenakan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya.


"Bantu aku," ucap Sarah meletakan jemarinya diatas dada bidang suaminya.


Sentuhan lembut yang Sarah daratkan sukses membuat hati Revan bergetar. darahnya bergejolak, naluri kelelakiannya bekerja. tak menyangkal sedari ia membersihkan diri, Revan terus memikirkan bagian penting setelah pernikahan, yaitu pergulatan diatas ranjang. sebagai pria normal hal itu memanglah wajar. namun apa Revan dan Sarah bisa melakukannya? sementara dari bibir keduanya belum terucap kata-kata manis cinta.


Revan mulai menarik resleting gaun pengantin Sarah perlahan. tangan Revan sampai bergetar saat matanya mulai dimanjakan dengan pemandangan bulu-bulu halus yang tersamar menyapanya. Revan semakin menurunkan alatyang digunakan untuk menyambung dua sisi kain tersebut, aroma yang khas mulai tercium. ingin rasanya Revan mengecup punggung dan leher Sarah tersebut. menikmati setiap jengkal kulit yang nyaris tanpa cacat itu dengan penuh kelembutan.


"Raka,"


"Raka?" sahut Revan spontan mengerutkan dahi.


"Euh, maksud aku Revan." Sarah mencoba meralat ucapannya, "Untuk saat ini kamu jangan minta hak dulu ya?" Setelah gaun itu terbuka, Sarah memalingkan wajahnya menatap wajah Revan lekat. "Kamu bisa kan sedikit sabar?"


"Setelah aku bersihin badan, kita makan bareng." ucap Sarah perhatian.


Lagi-lagi hanya anggukan yang Revan berikan. sedikit kecewa, karena sudah bersusah payah mempersiapkan hari pernikahan dirinya tidak bisa langsung mencicipi tubuh istrinya. namun demi kenyamanan Sarah, Revan mengalah. memang sedikit konyol, hidup Revan seolah sedang berada dalam kendali orang lain. dalam menjalankan aktifitas rumah tangga pun seperti ada tembok besar yang membatasi apa saja yang boleh dan tidak Revan lakukan.


Pintu kamar mandi sedikit terbuka, "Glek..." Revan menelan salivanya, saat samaran tubuh Sarah terlihat dari balik pintu. entah apa yang Sarah katakan, bawasaannya bibirnya seolah sedang berkata namun tak ada suara. mungkin karna suara gemericik air yang telah menyamarkan ucapannya tersebut. yang Revan lihat dan rasakan sekarang adalah, ia sangat menginginkan tubuh itu sekarang. entah sampai kapan Revan harus menahannya. sungguh lekukan tubuh Sarah benar-benar sangat indah, keidahan itu sukses membuat pikiran kotor Revan tak terkendalikan.


"Raka..." Sarah mulai menikmati sentuhan air hangat yang membasahi tubuhnya. ia memijat perlahan bahu dan pelipisnya yang sedikit terasa pusing. "Raka..."


Bayang-bayang kekasihnya terus saja datang. senyumnya tercipta, sepertinya Sarah sedang membayangkan sesuatu yang menyenangkan bersama Raka. cinta itu sudah menjadi obsesi, entah apa yang akan Sarah lakukan pada Revan sekarang. sepertinya hatinya hanya akan Sarah berikan pada Raka, mungkin Revan hanya sesosok pria yang Sarah bayangkan seperti Raka.


Jika itu semua benar, sungguh kasihan nasib Revan. ia hanya dijadikan alat sebagai bahan imajinasi Sarah semata, untuk memenuhi hasrat pemilik hatinya.


Drtt... Drrtt...


Revan tersentak, matanya membulat saat Sarah ternyata sudah menyelesaikan aktifitas mandinya. pria itu langsung menjauhbdari pintu kamar kecil tersebut dan segera meraih ponselnya yang bergetar.


Deon : "Udah nyentuh, Sarah?"


Apa ini? Deon sangat lancang. ia bahkan menanyakan hal yang seharusnya tidak ia tanyakan pada Revan. meskipun Revan sendiri tahu, hal ini Deon lakukan untuk memastikan jika Revan benar-benar sudah memenuhi tugas amanat dari sahabatnya Raka.


"Gila!" balas Revan singkat.