
"Dari mana?" tanya Revan saat mendapati sang istri baru saja kembali pulang setengah larut.
Seringai aneh Sarah tercipta, gadis itu tak menggubris ucapan Revan dan hanya langsung melewatinya begitu saja untuk menuju kamar yang berada dilantai atas.
"Sar!" Revan sedikit kesal, karena merasa dirinya tak dihargai oleh istrinya, "Aku tanya kamu!" ucapnya meninggikan suara.
"Astaga, Van. berisik tau gak, aku capek mau mandi," sahut Sarah sambil berlalu.
Pernikahan sudah berjalan selama beberapa bulan, tapi sikap Sarah justru malah semakin membuat Revan keheranan. gadis itu semakin tidak tahu aturan, sudah cukup ia di sakit kan dengan perlakuan Sarah yang sewaktu-waktu menganggap dirinya sebagai Raka. dan sekarang, Revan kembali diharuskan dengan ujian kesabaran lantaran Sarah yang tak kunjung menghargai perasaannya.
"Aku tau ini salah, gak seharusnya aku nikahin kamu dengan cara begini." Revan menghela nafas panjang untuk sedikit menata emosinya, "Aku udah bisa nerima segalanya tentang kamu, Sar. aku juga udah sabar buat nunggu buat gantiin posisi Raka di hati kamu!" Revan menelan ludah getir. sungguh, benih-benih cinta itu sudah mulai tumbuh.
Rasa kasihan Revan terhadap Sarah sepertinya sudah dibumbui dengan bubuk-bubuk cinta. Revan tak menampik, karena semakin Sarah terkurung dalam masa lalunya, Revan menjadi sangat terluka. ia merasa gagal karena tak kunjung bisa membuat Sarah menerima kenyataan, jika keduanya sekarang sudah terikat pernikahan.
Usaha demi usaha Revan lakukan, pria itu bahkan berani mengorek lebih dalam masa lalu percintaan Sarah dengan Raka. dibantu oleh Deon, Revan bisa sedikit menahan amarah dan emosinya agar tak bersikap gegabah dalam menghadapi istrinya. tentu saja hal ini hanya bisa dilakukan oleh orang seperti Revan, pria mana yang tahan untuk tidak menyentuh istrinya saat sudah di atas ranjang? Revan benar-benar luar biasa, tak sedikitpun ia mengutarakan kekecewaannya terhadap Sarah, meskipun berulang kali Sarah tak menghargainya.
Tekanan demi tekanan Revan dapatkan dari berbagai pihak agar segera membawa Sarah ke ahli kejiwaan untuk memeriksakan kondisinya. tetapi hal itu tak kunjung Revan lakukan karna takut membuat Sarah salah paham terhadap niatannya. padahal tidak semua sesuatu yang menyangkut psikiater bisa dikatakan gila. bisa saja karna tekanan hidup, beban, masa lalu yang mengharuskan seseorang tersebut mendapat bimbingan dari ahli jiwa tersebut.
Revan menyusul Sarah yang sudah berada di dalam kamar. perasaannya mulai tidak karuan, jantungnya berdebar diselingi suhu tubuh yang meningkat didalam ruangan dingin tersebut.
"Kamu udah makan?" tanya Sarah perhatian setelah menyelesaikan aktifitas mandinya. bahkan tubuh gadis itu juga masih terbungkus oleh handuk yang hanya menutupi tubuh area sensitifnya.
"Belum," sahut Reva sambil mendudukan diri dibibir ranjang dengan sorot mata tertuju pada istrinya.
"Oh," Sarah mulai memakai rangkaian skincare rutinnya.
Tenggorokan Revan mula tercekat, rasanya sangat sulit untuk mengatakan apa keinginan dan tujuannya sekarang. sungguh, Revan benar-benar takut jika ucapannya akan melukai hati istrinya, "Sar, aku mau ngomong."
"Ngomong ajah."
"Glek..." Revan menelan saliva nya dengan bersusah payah, "Aku..."
"Kenapa?" Sarah memutar badan menatap lekat wajah suaminya.
"Aku..."
"Kenapa?"
"Aku..."
"Bukan," Revan mengibaskan tangan sambil menggelengkan kepalanya spontan. "Aku mau kita ke dokter,"
Sarah mengangguk santai dengan semburat senyum yang tercipta, "Oh kamu sakit?"
"Bukan aku, tapi kamu."
"Kok aku?"
"Aku ngerasa kamu masih terjebak sama bayang-bayang, Raka. dengan bantuan psikiater mungkin kamu bisa lebih muda buat..."
"Van, aku gak gila," celetuk Sarah memotong ucapan Revan dengan mata yang berkaca-kaca.
Deg... benar saja, hal itu langsung membuat Sarah salah mengartikan apa maksud dan tujuan Revan tersebut, "Bukan gitu, Sar. aku cuma..."
"Cuma apa? aku tuh cinta sama Raka! aku tuh belum bisa lupain Raka! aku cuma minta kamu nunggu," lirih Sarah meloloskan air matanya.
"Tapi sekarang aku suami kamu!" tegas Revan setelah mendengar pernyataan menyakitkan Sarah, yang secara terang-terangan mengakui jika dirinya mencintai Raka.
"Karena kamu suami aku harusnya kamu bisa ngertiin aku!" jerit Sarah memecah tangisan.
Entah harus bagaimana Revan menyikapi masalah ini dalam rumah tangganya. tentu jika dibiarkan dan terus menunggu bukanlah pilihan yang tepat, karena melihat dari sikap dan kondisi Sarah, wanita itu tak bisa mendukung dirinya sendiri untuk terlepas dari masa lalunya. justru semakin hari, hal ini semakin menyakiti Revan dan perasaannya.
"Sar, aku cuma," Revan langsung mendekati Sarah dan meraih tangannya, "Aku gak bermaksud kaya gitu. aku cuma mau kamu bisa terlepas dari masa lalu kamu sama Raka, dan memulai hidup baru sama aku." ucap Revan menjelaskan penuh kelembutan.
Sarah menggelengkan kepalanya, "Aku salah, aku pikir kamu bakalan ngerti. ternyata enggak, sebagai sahabat Raka harusnya kamu ngertiin apa yang aku rasain sekarang, bukannya maksa aku buat lupain masa lalu terus-terusan."
Mulut Revan seolah terbungkam. lagi-lagi keinginannya tergeser oleh Sarah dan air matanya. sungguh, Revan tak bisa melihat istrinya terluka, sebagai seorang suami tentu ia tahu tanggung jawabnya adalah membahagiakan sang istri. apapun itu, mungkin sabar adalah jalan terbaiknya.