
"Cepat panggilkan suaminya! jika tidak kondisi Sarah akan semakin memburuk!" pekik Dokter dengan sangat jengkel. karena sudah muak melihat keributan antara Ratna dan Riyanti.
"Dokter tapi," Riyanti mencoba memberikan penjelasan pada Dokter agar dapat memahami keadaannya. "Dia tapi, tapi Sarah dan suaminya..."
Ratna mengangguk, ia langsung menyelak ucapan Riyanti dan berkata. "Baik, putra saya sudah diluar. saya akan panggilkan dia." tak lupa, Ratna pun keluar dengan menyeret Riyanti dari ruangan tersebut. sedangkan Sarah, terus saja menjerit. antara merasakan sakit, dan juga ingin bertemu dengan sang suami.
"Revan, Sarah udah nunggu kamu!"
Spontan kedua penjaga keamanan itu melirik kearah Ratna dan juga Darma secara bergantian.
"Tidak, jangan lepaskan dia." titah Darma pada keamanan.
"Hey!" Ratna melotot, dengan telunjuk yang mengarah pada wajah Darma. "Putri kamu lagi berjuang hidup dan mati! dan kamu masih memperdulikan kesalahan yang sudah anak saya lakukan?!" Sorot mata tajam Ratna teralihkan pada Riyanti, "Dan kamu, harusnya kamu ngerti kondisi keadaan anak kamu sekarang! kamu tentu pernah melahirkan bukan? kecuali, kalo kamu bukan ibu kandungnya yang gak ngerti sama sekali tentang apa itu yang dinamakan melahirkan!"
Plak... tamparan keras Riyanti layangkan tepat di wajah Ratna. "Cukup! jangan keterlaluan!"
Arman dan Darma terkejut, kedua pria paruh baya itu bahkan tak menyangka jika Riyanti akan berani menampar Ratna dengan begitu ringannya.
"Kamu..." Ratna menyentuh wajahnya yang terasa panas, akibat tamparan. ia memandang lekat Riyanti, lalu mendorong dan menarik rambutnya. "Beraninya kamu menampar saya, jika terjadi sesuatu sama Sarah dan juga calon cucu saya, apa kalian semua mau tanggung jawab?"
Seketika cengkraman tangan kedua keamanan itupun terlepas dari Revan. keduanya seolah takut setelah mendengar ancaman Ratna dan memilih untuk tidak mematuhi apa yang sudah Darma serukan.
"Sarah..." Revan langsung menerobos masuk ruangan dimana sang istri sedang mendapatkan penanganan.
Ratna yang sudah meredam emosinya itupun terdiam, dengan sorot mata terus tertuju pada Riyanti. ia masih berpikir, dengan berjuta pertanyaan yang terus berkutat dalam otaknya. kenapa Riyati menamparnya? dimana letak kesalahan Ratna dalam berucap, sampai Riyanti tidak bisa mengontrol amarahnya.
"Sar..." pria itu bahkan tak bisa mengontrol nafasnya yang tidak karuan. pandangan Revan terus tertuju pada wajah cantik sang istri yang memucat, "Aku disini, aku nemenin kamu. aku nepatin janji aku."
Sarah mencengkram kuat tangan Revan, air matanya menetes kemudian berkata. "Sakit..." lirih dengan suara terendah.
"Sepertinya kita harus melakukan tindakan oprasi." ucap Dokter pada Revan.
"Van," Sarah menderaskan tangisannya, seolah enggan untuk menerima tindakan tersebut. "Aku mau kamu ada disamping aku!"
"Sar, tapi..."
Pandangan Sarah mulai kabur, hal itu tentu semakin membuat seisi ruangan cemas termasuk para dokter.
"Jangan biarkan dia tidak sadarkan diri, ini bisa menghambat proses persalinan dan oprasi." seru dokter pada Revan.
Revan mengangguk, dengan perasaan cemas dan takut Revan langsung menepuk wajah Sarah mencoba menyadarkannya. "Sayang, sadar sayang, kamu denger aku kan? Bertahan demi aku dan juga bayi kita."
Nafas Sarah terasa sangat berat, ia bisa melihat Revan dan mendengar suaranya meskipun hanya samar.
"Sar, kamu denger aku kan?" air mata Revan menetes ia mengecup dan meraih wajah Sarah dengan penuh kasih sayang, "Aku mohon, kamu harus sadar. dengerin aku, aku ada di samping kamu! aku nemenin kamu! kamu harus janji, buat lewatin ini dengan selamat!"
Senyum Sarah tercipta, ia meraih wajah Revan sambil menganggukan kepalanya perlahan.
Tindakan oprasi mulai dilakukan, dan selama itu Revan diharuskan menjaga tingkat kesadaran sang istri tanpa lengah. tidak sedikit paham tentang masalah ini, Revan pikir selama oprasi persalinan Sarah akan dibuat terlelap dengan suntikan bius. nyatanya tidak, Sarah diharuskan membuka matanya tanpa boleh terlelap sedikitpun.
Entah apa yang dokter berikan pada Sarah, setelah dokter menyuntikan sesuatu pada tubuhnya. Sarah tiba-tiba saja pusing. ia merasa sangat mual, bahkan Revan sendiri sampai membantu Sarah saat wanita itu memuntahkan sesuatu dari dalam mulutnya.
"Pusing," lirih Sarah mengeluh.
"Sabar, sayang. semua akan terbayarkan setelah bayi kita lahir." ucap Revan menenangkan sambil memberikan suport beserta keyakinan pada sang istri.
Tanpa merasa risih, Revan terus saja mengecupi setiap inci wajah Sarah. mengelus dan menggoda sang istri saat proses oprasi persalinan itu berlangsung.
Dokter sampai berpikir, entah apa masalah yang sedang menimpa mereka sekarang. bahwasannya setelah melihat kemanisan diantara keduanya, Revan dan Sarah benar-benar saling mencintai.
Tanpa Sarah dan Revan sadari, perawat dan dokter yang sedang membantu Sarah semuanya mendoakan hubungan keduanya. mereka sangat tersentuh melihat perhatian dan kepedulian Revan. Bahkan saat Sarah lebih memilih menunggu Revan dari pada memperdulikan keselamatan dirinya dan juga bayi yang ada dalam perutnya. itu semu cukup membuktikan jika Sarah benar-benar tulus mencintai Revan, dan tak ingin berpisah dari suaminya tersebut.