
Plak... tamparan keras Riyanti layangkan di wajah Laura. kedua wanita itu terus saja saling menatap tajam. api kemarahan Riyanti kian terbaca. Namun, sepertinya pemicu utama Riyanti bukanlah tentang suaminya.
"Selama ini Saya diam, meskipun saya tahu kamu telah bermain gila dengan suami saya. untuk kali ini, saya tidak akan membiarkan kamu, kalo kamu berani gangguin hidup anak saya, Sarah!" gerutu Riyanti pada Laura penuh kemarahan.
Laura terus saja memegangi pipinya yang terasa panas. wanita itu terkekeh, setelah mendengar pernyataan Riyanti. Laura bahkan sudah tau siapa Riyanti sebenarnya, saat keduanya saling berhadapan pun. Laura merasa dirinya sedang berkaca.
"Wanita munafik," umpat Laura kegelian. "kamu takut Sarah dan Darma ninggalin kamu?" sejenak Laura menghentikan ucapannya sambil memperdalam tatapan. "Kamu itu cuma wanita bodoh, kesepian. rela melakukan apapun untuk mendapatkan cinta seseorang yang hanya memperdulikan harta dan kekayaan kamu!" Laura menekan dada Riyanti dengan telunjuknya, "setelah ini pasti Darma akan ninggalin kamu, dan Sarah pasti akan membenci kamu! wanita penggoda."
Riyanti memiringkan senyumnya, ia mengangguk santai setelah mendengar ucapan omong kosong dari Laura. "Jika kamu jadi Darma, siapa yang akan kamu pilih?"
Laura mengerutkan dahinya dengan gigi yang mengerat.
"Saya, yang selalu memberikan cinta sekaligus harta. atau kamu? yang hanya bisa meminta harta? tanpa adanya cinta." imbuh Riyanti tersenyum licik.
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Laura. ia merasa kalah telak, karena semua yang Riyanti ucapkan adalah kebenaran. selama ini ia menjalin hubungan dengan Darma hanya agar hidupnya berjalan mulus dan bahagia. Namun, sepertinya sekarang Laura harus memutar otak. karena posisinya benar-benar sudah terancam. Saham yang Darma berikan juga sudah dialih namakan, menjadi milik Sarah kembali. yang akan Laura dapatkan setelah ini hanyalah kekalahan.
"Ini," Riyanti melempar sejumlah uang yang cukup banyak ke wajah Laura. "Saya rasa ini cukup untuk menghentikan semua rencana jahat kamu, untuk tidak menyakiti dan mengganggu Sarah!"
Laura merasa terhina, apalah arti uang tersebut. jika dirinya selalu mendapatkan sesuatu yang lebih dari Darma. jika Laura menerima, itu artinya dia sudah kalah. dan hidupnya hanya di hargai oleh segelintir uang yang Riyanti berikan.
"Tunggu!" Laura memekik, mencoba menghentikan langkah Riyanti. "untuk apa saya menerima ini? tapi saya lebih tertarik dengan suami kamu." celetuk Laura menyeringai.
Wajah Riyanti memanas, matanya menggenang seketika saat bayang-bayang Darma dan Laura sedang bermain gila melintas dalam pikirannya. "Jaga sedikit mulut kamu, jangan sampai saya tersingghng. karena Kamu harus ingat, Darma tanpa saya bukanlah apa-apa! kamu hanya akan bercinta dengan pria tua bangka yang tidak memiliki apapun jika saya menceraikannya." tukas Riyanti santai lalu melangkah begitu saja meninggalkan Laura menahan kesal.
Laura berdecak kesal. lagi-lagi ia dikalahkan oleh ucapan Riyanti. itu sungguh menyakitkan, karena selama ini hidup Darma hanyalah bergantung pada istrinya tersebut. bahkan Ibu kandung Sarah juga demikian.
Ditempat Lain, Darma terus saja memijat pelipisnya yang tidak pusing. ia merasa hidupnya sekarang benar-benar sudah Revan permainkan. kejutan apa lagi yang akan menantunya berikan setelah ini? pertanyaan itu terus saja terbesit dalam pikiran Darma.
"Sarah?" sejenak Darma mengeratkan giginya seolah berpikir. "Revan terus saja membuat hidup saya semakin kacau!" batinnya setengah prustasi.
"Siang, Pah." sapa Revan membuka pintu ruangan kantor pribadi Darma.
Bukan hanya kebetulan, Revan memang secara khusus telah Darma undang. pria paruh baya itu sudah begitu sangat kewalahan, menghadapi masalah yang terus saja menghantamnya.
"Duduk," titah Darma pada Revan.
Revan pun mendudukan bokongnya santai, matanya terus melirik ke kiri dan ke kanan untuk mengabsen setiap inci sudut ruangan. dengan kaki yang menyilang, Revan mengalihkan tatapannya kearah Darma kemudian berkata. "Ada apa?" tanya Revan santai.
"Seharusnya saya yang bertanya, apa mau kamu sebenarnya? saya sudah mengijinkan Sarah untuk kembali kerumah kamu! kenapa kamu masih mengganggu hidup saya?" ucap Darma bertanya sambil mencecar.
Ekspresi kekhawatiran yang Darma tunjukan bisa dengan mudah Revan kenali. pria yang baru saja menjadi seorang ayah itupun menghela nafas panjang lalu menjawab. "Papah nyerah?"
"Hentikan omong kosong ini Revan! saya udah kasih segalanya yang kamu mau. tolong jangan ganggu hidup saya lagi." tegas Darma menghimbau permintaan.
"Aku bakalan diem, kalo Papah berani jujur sama Sarah!" sahut Revan memincingkan matanya.
Bruak... Darma menggebrak meja dengan keadaan mata melotot tajam penuh kekesalan, "Revan, tolong jangan ikut campur! Kamu hanya menantu dan orang baru yang masuk dalam keluarga saya!" sejenak Darma mencengkram kerah kemeja yang Revan kenakan. "jaga batasan kamu!" imbuh Darma penuh penekanan.
Revan terkekeh, ia selalu seja bersikap tenang dalam mengahadapi situasi setegang apapun. bahkan saat Darma meluapkan amarahnya pada Revan. pria itu nampak tak memiliki rasa takut sedikitpun.
"Kenapa? pada saat kalian memisahkan aku sama Sarah kalian terlihat seperti seseorang yang tidak pernah melakukan dosa sedikitpun. kalian menghardik saya, kalian terus mengatakan sesuatu yang buruk dan bersi keras membawa Sarah pergi dari hidup saya!" sejenak Revan melepas paksa cengkraman yang Darma berikan di lehernya, "Papah harus tau ini, aku bakalan hancurin hidup seseorang yang berani misahin aku dengan Sarah. meskipun itu mertua aku sendiri. bahkan ngebunuh seseorang ajah bukan hal yang sulit bagi aku!" tegas Revan mengancam. "dan Papah adalah orang yang udah berani bohongin Sarah, mengalihkan saham yang seharusnya menjadi milik Sarah. aku gak bisa bayangin, gimana sakit dan kecewanya dia saat Sarah tau. kalo kalian semua hanya pembohong bermulut besar!"