
"Karena sekarang kamu udah tau segalanya, aku gak perlu sungkan lagi." Revan melingkarkan tangannya di atas bahu sang istri, ia mengelus wajah Sarah penuh kasih sayang lalu merengkuh bibir wanita tersebut tanpa permisi.
"Mmm..." Sarah merapatkan bibirnya seolah menolak, raut wajahnya terlihat begitu dipenuhi dengan amarah terhadap Revan. tak berbeda jauh dengan Raka, setelah semua kebenaran itu terungkap Sarah juga tak segan untuk memperlihatkan rasa kebencian.
Seringai licik tercipta saat tubuh Revan sedikit terdorong kebelakang akibat penolakan Sarah. tak sampai di sana, justru Revan semakin yakin jika dirinya bisa membuat Sarah mencintai dirinya meskipun Revan sendiri adalah dalang dibalik kematian Raka.
Sudah mencoba untuk melarikan diri. Namun usaha Sarah itu tergagalkan lantaran Revan sudah mengetahui apa yang akan Sarah lakukan.
Kembali Revan mendekati sang istri, mendekatkan wajahnya diantara ceruk leher Sarah lalu menghirup aroma tubuh wanita tersebut dengan penuh rasa kagum, "Mmhh..." Revan melenguh mengukir senyum di bibirnya menatap lekat mata indah milik Sarah. "Semakin kamu nolak, semakin aku tertarik sama kamu."
"Apa maksud kamu?" tanya Sarah ketus.
Revan meletakan tangannya di pinggang sang istri, dan menariknya agar jarak mereka semakin dekat.
"Lepas," tubuh Sarah yang menempel di dekapan Revan kini mulai menegang, penuh kekesalan wanita itu mencoba memberontak atas apa yang baru saja Revan lakukan.
"Aku gak mungkin lepasin kamu, Raka ajah bisa aku bunuh! apapun itu, aku bakalan singkirin orang-orang yang berusaha rebut kamu dari aku." tegas Revan penuh penekanan.
Plak... tamparan keras Sarah daratkan di wajah Revan. ucapan pria tersebut semakin membuat Sarah merasa jiji, akan obsesi Revan yang terus saja menjadikan Sarah sebagai alasan atas perbuatan jahatnya.
"Jangan nguji kesabaran aku," Revan mempererat dekapannya merasakan bagaimana tubuh indah Sarah melekat dalam pelukannya sekarang. "Kamu cuma milik aku, Sar. kamu gak akan pernah bisa lepas dari aku!"
Mata Sarah mengembun, wajahnya memanas saat kenyataan pahit itu benar-benar telah menyelimutinya. bagaimana Sarah bisa hidup satu atap dengan pria yang membunuh kekasihnya sendiri? bahkan tubuh yang belum pernah tersentuh oleh siapapun itu telah Revan nikmati, diluar kesadaran Sarah.
"Sar..." Revan menyeka air mata Sarah penuh perhatian, "Jangan nangis, aku gak bisa liat kamu sedih kaya gini. aku tau aku salah, aku tau cara aku terlalu pengecut. tolong jangan nangis, aku cinta kamu, aku janji bakalan bahagiain kamu melebihi Raka."
"Ahhh..." Sarah menjerit, tubuhnya melemah seketika. ia memukul Revan dengan penuh amarah. "Kamu baji*ngan, aku benci kamu, Van. kamu udah hancurin hidup aku!"
"Maaf," lirih Revan penuh ketulusan.
Tentu semua ungkapan tulus yang terus Revan lontarkan tersebut tak akan cukup, untuk mengobati sakit hati dan kehancuran mimpi-mimpi indahnya bersama Raka. Bagaimana Sarah akan menjalani kehidupan tersebut bersama seseorang yang sudah melenyapkan nyawa kekasihnya sendiri. tentu ia merasa sangat bodoh dan berdosa, karena sudah terperangkap dalam permainan Revan.
Revan mengangkat tubuh Sarah lalu meletakannya perlahan diatas Ranjang. belaian lembut Revan beraikan meskipun Sarah langsung menjaga jarak dari pria tersebut dan memunggunginya sambil terisak.
"Enggak, aku gak mau." Sarah memejamkan matanya sambil meremat selimut yang sengaja ia gunaka untuk menutupi seluruh tubuhnya.
"Sar..." Revan menyingkirkan rambut halus yang menutupi wajah istrinya, ia mengelus wajah tersebut lalu sesekali mengecupinya. "Jangan nolak aku," pinta Revan dengan suara parau.
"Aku sayang banget sama kamu," Revan menyingkap selimut yang menutupi kaki jenjang Sarah. ia kembali menempelkan tubuhnya pada tubuh Sarah, sambil memaksa wanita tersebut agar memalingkan tubuhnya menatap wajah Revan.
"Cukup, Van! jangan sentuh aku!" tolak Sarah menepis tangan Revan yang mulai menyusup kebalik mini dress yang Sarah kenakan.
"Aku suami kamu, sayang. tolong jangan keterlaluan!"
"Sampai kapanpun aku gak akan pernah akuin kamu sebagai suami! hal yang paling aku sesalin adalah setuju menikah sama penjahat seperti kamu!" tegas Sarah dengan tatapan mematikan.
Tak ada raut wajah kesal yang terlihat dari pria yang Sarah benci tersebut. Revan malah tersenyum, seolah semakin mengagumi kegarangan istrinya tersebut.
"Kamu tau gak? yang aku pikirin sekarang, kapan kamu bisa nerima aku? maafin aku, tidur berdua dengan keadaan saling menginginkan. indah banget bukan?"
"Menjijikan! Gak tau malu, dasar pembunuh!"
"Aku mau ngelakuin hal itu lagi, tapi aku gak mau kasih obat tidur ke kamu kaya sebelumnya. aku gak mau main sendiri," celetuk Revan santai diselingi tawa kecil.
"Jangan mimpi! dasar gak waras,"
"Kamu galak banget sih," goda Revan kemudian turut membaringkan tubuhnya tepat disebelah Sarah dengan tangan sebagai penyangga kepala. "Mau punya anak berapa?"
Sarah melebarkan bola matanya terkejut. apa ini? ucapan Revan terdengar sangat ringan, seolah ia tak pernah melakukan dosa besar tersebut.
"Aku mau anak kita perempuan, biar cantik seperti kamu."
Sarah benar-benar tak menanggapi ocehan Revan yang menurutnya sudah melantur, ia langsung membenarkan posisi tidurnya dengan menggunakan bantal untuk menutupi wajah dan telinganya.
"Kamu ngantuk?" Revan meletakan tangannya dibahu Sarah.
"Ah, jangan sentuh aku!" tegas Sarah menepis kasar.
Revan tersenyum tipis, ia menganggukan kepalanya perlahan dan menarik selimut yang Sarah gunakan untuk menutup juga tubuhnya, "Selamat tidur, sayang." ucap Revan penuh kasih sayang.
Ingin rasanya Revan mengecup pucuk kepala Sarah, namun ia tahu hal itu tak akan wanita tersebut ijinkan.