Love By Accident

Love By Accident
Episode 51



Revan percaya, jika seorang ibu sampai bertaruh nyawa saat melahirkan anaknya. semua itu Revan saksikan sendiri dengan kedua bola matanya, Sarah yang tak berdaya di paksa untuk bertahan demi keselamatan dirinya dengan sang buah hati.


Bagaimana pria bisa memiliki niat untuk mengecewakan istrinya, saat dirinya sendiri sudah melihat dengan jelas bagaimana Sarah begitu tersiksa, berjuang antara hidup dan mati demi bayi mereka.


Entah dimana orang tua Sarah berada, setelah keributan mereka berdua tiba-tiba saja pergi. sedangkan Ratna, ada bersama Arman dan juga Revan menunggu Sarah yang sedang memulihkan kondisinya.


Bayi yang sudah dokter tangani, sekarang sudah mereka serahkan pada Revan dan Sarah. meskipun kondisi Sarah masih belum sepenuhnya membaik, tapi semangat wanita tersebut memang patut di acungi jempol. ia begitu banyak bicara, bahkan tak kunjung memejamkan mata karena takut jika tiba-tiba saja Revan menjauh dari sisinya.


***


"Seharusnya, Mamah. bisa mengontrol emosi tadi, kenapa Mamah harus nampar Ibu Ratna?!" bentak Darma menegur.


Riyanti yang sedang berada disebelah suaminya tersebut hanya bisa tertunduk sambil memijat kepalanya yang tidak pusing. bagaimana tidak? semua itu terjadi begitu saja. ia tak bisa menahan diri, saat ucapan menyakitkan dari Ratna itu begitu menusuk relung batinnya.


"Mamah cuma takut kehilangan, Sarah. ucapan Ratna udah bikin hati, Mamah. sakit," pekik Riyanti kesal.


Darma tak begitu mendengarkan keluhan sang istri, ia hanya melihat Revan keluar dari dalam rumah sakit lalu menaiki sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari mobilnya. "Revan,"


Spontan Riyanti melirik kearah yang sedang Darma tuju, dahinya mengerut dengan pandangan yang semakin menajam. "Mau kemana dia, Pah?" tanya Riyanti heran.


"Kita ikutin dia," ucap Darma menyalakan mesin kendaraannya.


"Tunggu, Pah. Mamah mau liat Sarah, Papah ajah yang ikutin Revan!"


Darma pun mengiyakan keinginan sang istri, dan setelah Riyanti keluar. pria paruh baya itu langsung menginjak pedal gas kendaraan miliknya, untuk mengikuti Revan.


Ya, Sarah memang bukan anak kandung Darma dan Riyanti. mereka telah mengadopsi Sarah saat wanita itu berusia enam bulan. bahkan sampai detik ini Sarah tidak mengetahui hal tersebut, hal wajar jika Darma dan Riyanti memiliki tingkat kecemasan yang cukup berlebih jika mengingat sulitnya bagi pasangan tersebut untuk memiliki keturunan.


Mobil Revan pun terlihat memasuki sebuah pusat perbelanjaan. tanpa mengurangi rasa curiga, Darma pun tetap mengikutinya dengan jarak yang terbilang cukup aman.


Di sebuah parkiran, jarak antara mobil Darma dan Revan bahkan terhalang beberapa mobil. pria paruh baya itu berpikir, dengan begitu Revan tak akan menyadari jika dirinya telah membuntuti sang menantu.


Tok...tok...


Darma tersentak, begitu mesin mobil dimatikan Revan sudah berada tepat disampingnya dengan tangan yang mengetuk-ngetuk jendela.


"Pah, ngikutin aku?" tanya Revan santai dengan raut wajah datar.


Darma menelan salivanya bersusah payah, bibirnya terasa kelu dengan tenggorokan yang tercekat.


"Aku disini buat beli keperluan popok, Mau nemenin?"


Darma masih terdiam. ia berpikir keras dalam hal ini Revan cukup pintar, dengan waktu singkat sang menantu bisa mengetahui jika dirinya telah mengikuti Revan. meskipun Darma sangat yakin, jika tindakan yang ia lakukan dipenuhi dengan kehati-hatian.


"Ada sesuatu yang perlu saya bicarakan dengan, kamu." ucap Darma dingin.


Semburat senyum tercipta di bibir Revan. pria itu nampak terlihat begitu senang, setelah pada akhirnya Darma sendirilah yang mengajaknya untuk bicara. tentu Revan akan memanfaatkan hal ini dengan begitu baik, karena bisa saja ini adalah kesempatan Revan satu-satunya setelah sebelumnya, melihat wajah Revan saja Darma terus menolak.