Love By Accident

Love By Accident
Episode 21



Natali menghempas tas mewahnya kesembarang arah, wanita yang baru saja tjba dirumahnya tersebut langsung menjatuhkan dirinya diatas tubuh Deon kemudian berkata, "Kesel..." rengek Natalie memukul Deon sebagai pelampiasan.


Deon yang menerima hal itupun sukses dibuat heran, insting penasarannya mula bekerja. ia langsung mengecup singkat bibir Natali, kemudian bertanya, "Kenapa?"


"Aku di usir, Revan!"


Deon mengerutkan dahinya, seolah tidak puas dengan pengaduan singkat yang Natalie berikan.


"Aku jenguk Sarah! baru juga duduk udah disuruh pulang!" gerutu Natalie jengkel.


Deon yang mengerti akan kondisi Sarah yang tidak baik-baik saja itupun mencoba memberikan pengertian, meskipun pengertian tersebut cenderung terlihat seperti pembelaan terhadap Revan. "Mungkin Sarah butuh istirahat. kamu tau sendiri dia lagi depresi."


Natalie memperdalam tatapannya pada sang kekasih dengan raut penuh keseriusan, "Sarah." sejenak wanita tersebut berpikir kerasa, sambil mengingat reaksi Sarah saat bertemu dengan dirinya. "Aku liat raut wajah Sarah penuh ketakutan, dia emang terlihat enggak baik-baik ajah. tapi tatapan Revan, seolah yang membuat Sarah ketakutan."


"Apa maksud kamu?" tanya Deon dengan mata memincing.


"Aku jadi inget sama ucapan Sarah yang bilang kalo Revan yang udah bunuh Raka."


Deon terpaku, sejenak ia terdiam lalu kemudian pria itu terkekeh memecah tawa setelah mendengar pernyataan kekasihnya yang terdengar menggelikan. "Kamu lebih percaya sama orang depresi?" ucap Deon bertanya disela-sela kekehan.


Natali berdecak, lalu mendaratkan pukula bertubi-tubi pada kekasihnya. "Deon, aku serius!" pekik Natalie penuh kekesalan.


"Udahlah, kamu tuh cuma ngeraaa kasihan ajah sama Sarah. besok kita temuin mereka, salah kamu sendiri pergi, tanpa ngajak aku kesana."


Natalie mengatur nafas, mencoba menata emosinya. "Besok aku udah janjian sama Sarah dan juga Revan, kita keluar hang out bareng sama mereka kok."


Deon mengangguk, setelah obrolan tersebut ia kembali menjahili kekasihnya. bahkan kejahilannya tersebut terlihat seperti ajakan untuk merelaksasikan hasratnya.


***


"Van, aku mau minum." pinta Sarah dengan suara yang terdengar lemah.


Revan mengangguk, pria itu langsung meraih gelas berisikan air yang berada di atas nakas lalu memberikannya pada Sarah. Revan bahkan membantu Sarah untuk meminumnya, perasaanya sedikit tergores saat melihat Sarah benar-benar terlihat lemah.


"Maafin keegoisan aku, Sayang." gumam Revan dalam batinnya.


"Aku dingin," ucap Sarah mengelus sambil memberikan gelas yang sudah kosong.


Setelah meletakan kembali gelas yang Sarah berikan, Revan langsung menempelkan punggung telapak tangannya pada dahi sang istri. belakangan ini Sarah memang terus saja mengeluh sakit, meskipun Reva tahu pemicu sakit tersebut adalah beban pikiran Sarah sendiri. ia tak bisa untuk tidak perduli terhadap istrinya, Revan terus saja memberikan perhatian dan juga kasih sayang yang tulus. meskipun Sarah tak pernah menghargai hal itu.


"Van," Sarah menggenggam kuat tangan Revan. "Aku cinta Raka!"


Deg...


Seberapa sakit perasaan Revan, saat wanita yang dicintainya selalu menyebutkan nama pria lain dalam setiap kebersamaannya. entah sengaja ataupun tidak, Sarah terus saja mengatakan hal itu pada suaminya. bagaimana seorang Revan bisa tahan dengan kondisi seperti ini? terlebih obsesinya terhadap Sarah terlihat begitu mendominasi.


"Tidur, setiap kali demam kamu selalu ngelantur." celetuk Revan diselingi kekehan kecil, anggap saja hal itu Revan lakukan untuk menyembunyikan rasa sakit hatinya.


Perlahan Sarah memejamkan matanya, ia langsung menarik baju yang Revan kenakan hingga pria itu hampir terjatuh menindih tubuh istrinya.


"Aku kangen Raka." ucap Sarah melingkarkan tangannya di atas bahu Revan, sepertinya tingkat kesadaran wanita tersebut kembali melemah. "Aku takut," Sarah sejenak terisak. "Aku ngerasa bersalah sama Raka, aku takut jatuh cinta sama, kamu."


Apa ini? Revan tidak salah dengar. ungkapan ini begitu indah hingga Revan sendiri sulit untuk mempercayainya.


"Kamu jahat, tapi kamu gak pernah nyakitin aku. kamu selalu berusaha ngelakuin hal terbaik buat aku, tapi itu semua terhalang sama rasa benci aku karna kamu udah bunuh Raka." lirih Sarah dengan bibir bergetar.


Revan semakin mendekap Sarah, mencoba memberikan kehangatan meskipun suhu tubuh Sarah saat itu terbilang tinggi. tetapi Sarah terus mengeluh jika dirinya kedinginan.


"Van..." Sarah menangis dalam pelukan Revan, ia mencengkram kuat prianya dengan wajah yang menempel tepat didada suaminya, "Aku gak mungkin bisa jalanin ini sama kamu, aku takut! aku ngerasa bersalah," isak Sarah semakin pecah.


Revan mengecup pucuk kepala Sarah, mengeratkan pelukannya terhadap wanita tersebut. "Maafin aku, Sar. aku tau kamu tersiksa," ucap Revan parau.


Sebenarnya Revan sudah menyadari jika hal ini tak seharusnya ia lakukan. Namun kebenciannya telah membutakan segalanya, ia sama sekali tak berpikir panjang. itu sebabnya Revan memilih langkah tersebut dalam memuaskan hasrat dendamnya.


Siapa sangka? cara yang Revan lakukan sangatlah berjalan mulus. bahkan Deon sendiri tak menyadari hal tersebut, meskipun sebelumnya pria itu pernah terlibat diantara masalah yang menyeret Revan dan juga Raka.


Belaian lembut Revan sukses menghantarkan Sarah dalam lelapnya. tak menampik, meskipun benci Sarah nyatanya merasakan kenyamanan yang sama seperti dirinya ada dalam pelukan Raka, saat Revan mendekap dan memperlakukannya dengan penuh kelembutan.


Sarah menolak keras perasaannya, meskipun sepertinya akan sedikit sulit. nyatanya ia benar-benar tak ingin menaruh perasaan sedikitpun pada pria yang telah membunuh kekasihnya tersebut.


"Van aku dingin," lirih Sarah gelisah.


Revan mengelus rambut Sarah, menenggelamkan wanita tersebut dalam bola matanya. harapan Revan sekarang adalah, kehangatan tubuhnya dapat mengurangi rasa dingin yang melekat pada istrinya. Revan memangkas jarak wajahnya dengan Sarah, merengkuh perlahan bibir wanita tersebut perlahan sambil memeluknya erat.


Penuh penghayatan ciuman itu Revan berikan, sesekali Revan menghisap bibir tersebut sambil mengelus punggung Sarah penuh penghayatan. manis yang Revan rasakan, saat bibirnya kembali dipertemukan dengan bibir sang istri. bau chery yang khas, seolah menambah kesan kenikmatan, saat Revan terus meluma*t bibir itu dengan keadaan yang sedikit menegang.


KOMEN PAJANG, LIKE SAMA VOTE.