
Perlahan Sarah menggerakan tangannya, ia meringis sambil merubah sedikit posisi tidurnya. mata Sarah sedikit demi sedikit terbuka, menangkap cahaya mentari yang sudah menembus jendela kamarnya.
"Badan sama kepala aku sakit," lirih Sarah mendudukan tubuhnya penuh kehati-hatian. "Van," bola mata Sarah melebar, saat menyadari jika dirinya sudah terlelap dengan tubuh tak berpakaian. sorot mata Sarah spontan teralihkan pada seseorang yang masing mendengkur disebelahnya. bibir Sarah terasa kelu, hatinya terguncang disertai getaran takut yang menguasai seluruh tubuhnya saat ia melihat tanda-tanda kepemilikan disekitar dadanya.
"Ahhhhh..." Sarah menjerit histeris, ia menyingkap perlahan selimut yang menutupi tubuhnya. hati dan perasaan Sarah hancur, begitu melihat noda darah yang berada tepat di atas sprei ranjang yang sedang ia duduki. "Baj*ingan!" hardik Sarah menghantamkan sebuah bantal kearah Revan penuh kemarahan.
Tentu Revan langsung tersentak dan bagun dari tidurnya, ia tak mengatakan apapun namun raut wajahnya terlihat dingin seolah sudah mengetahui jika hal ini akan terjadi.
"Kamu udah nyentuh aku," Sarah memukul Revan dengan kasar sambil terus terisak.
"Tenangin diri kamu, semua ini gak ada salahnya. kamu semalem mabuk, dan kita ngelakuin hal ini atas dasar saling menginginkan," ucap Revan mencoba memberikan penjelasan.
Sarah menepis tangan Revan yang mencoba ingin menenangkannya. gadis itu beranjak memundurkan langkahnya ke sudut ruangan dengan tubuh yang masih terbungkus selimut. "Kamu setan, Van. kamu jahat, kamu bukan manusia," Bruak... sebuah vas pajangan Sarah lemparkan kearah Revan penuh kekesalan. "Kamu pasti udah taruh sesuatu di minuman itu, ini semua pasti rencana kamu!"
"Kamu istri aku!" tegas Revan meninggikan suara, mencoba mendekati istrinya. "Setiap kali kita mau ngelakuin hal itu pasti kamu selalu pingsan!"
"Enggak! semua itu rencana aku! semua itu bohong! buat bongkar semua kebusukan kamu!" sejenak Sarah menghentikan ucapannya, "Kamu pembunuh! kamu yang udah bunuh, Raka!"
Deg... Revan tertegun, bibirnya seketika merapat setelah mendengar pernyataan Sarah.
"Kamu yang udah bunuh, Raka! kamu penjahat!" tubuh Sarah melemah, ia menyandarkan dirinya disebuah tembok hingga perlahan menyusut kebawah. "Kamu penyebab kematian, Raka!"
"Sar aku, aku bisa jelasin." Revan kembali berucap untuk membuat sang istri sedikit tenang.
"Kamu jahat, aku gak sudi di sentuh sama pembunuh seperti kamu!" jerit Sarah histeris.
"Sar, aku gak maksud... aku..."
Apa ini? niat hati hanya ingin mengungkap semua kejahatan yang telah Revan lakukan. Sarah sama sekali tak berniat untuk menyerahkan dirinya pada pria tersebut. Namun semua itu berjalan diluar kendalinya, Revan ternyata sudah merencanakan segalanya, pria itu bahkan sudah mencampurkan sesuatu pada minuman yang sudah sarah tenggak semalam.
"Itu semua demi kamu," Dengan bibir bergetar Revan mulai menyampaikan apa tujuan dan alasan dari tuduhan Sarah tersebut, secara tidak langsung juga Revan telah mengiyakannya. "Aku cinta kamu dari sebelum kamu ngejalin hubungan sama, Raka," ujar Revan merasa bersalah.
Sarah menghentikan tangisannya, dengan sorot mematikan gadis itu beranjak mendekati Revan lalu meraih botol dan memecahkannya penuh kekesalan. "Pembunuh!" Bruak Sarah bahkan menghantamkan botol tersebut ke tubuh Revan hingga pecah menjadi beberapa bagian.
"Kalo hal ini bisa bikin kamu terima aku, aku gak masalah." ucap Revan tanpa perlawanan.
"Jangan harap aku mau sama pembunuh baji*bgan seperti kamu!"
Revan langsung meraih tubuh Sarah dan memeluknya erat, "Aku sayang kamu. aku gak akan pernah bisa terima kamu jadi milik orang lain."
"Lepas!" Sarah berontak mencoba melepaskan dirinya. "Jangan sentuh aku!"
"Aku gak bakal lepasin kamu! aku cinta sama kamu! mungkin cara aku memang salah. tapi cinta aku sama kamu tulus." ucap Revan penuh kelembutan.
Seolah sudah di bolak-balikan oleh keadaan. sekarang justru Revan secara terang-terangan memperlihatkan kepedulian dan cintanya terhadap Sarah. bahkan bisa dikatakan itu semua terlihat seperti obsesi.
"Cwih..." Dengan teramat jiji Sarah melempar salivanya tepat kewajah Revan. "Aku pasti bisa jeblosin kamu kepenjara!"
Revan terkekeh, gelagat aneh dan mengerikannya mulai terlihat. Cup... penuh paksaan Revan merengkuh bibir Sarah, ia bahkan mengeratkan pelukannya sambil mendorong tubuh wanita tersebut keatas ranjang.
"Mmmm, lepas!" Sarah memukul dada Revan, ia mencoba melepaskan dirinya dari cengkraman pria yang mulai memperlihatkan sikap jahatnya tersebut. "Lepasin aku!" jerit Sarah memberontak.
"Kamu gak akan pernah bisa lepas dari aku! kamu cuma milik aku!" tegas Revan penuh penekanan meninggikan suara.