
Bukan Deon jika tidak bisa memberikan solusi atas apa yang Revan alami. rasa iba nya terhadap Revan sangat jelas terlihat, ketika Deon memberikan dukungan penuh pada sahabatnya tersebut.
Pada siapa lagi Revan mengeluh, jika bukan pada Deon? hanya Deon lah seseorang yang mampu membangkitkan semangat Revan agar selalu sabar menghadapi Sarah dan juga sikap anehnya. hanya mendengar dari ceritanya saja, Deon sampai sulit membayangkan bagaimana tersiksanya Revan dalam menarik Sarah untuk keluar dari masa lalunya.
Sekedar dukungan untuk menguatkan Revan, meskipun tidak mudah. Deon tahu sahabatnya tersebut adalah tipekal pekerja keras dalam hal apapun. Deon juga sangat yakin, cepat atau lambat Sarah akan membuka hatinya untuk Revan dan melupakan Raka.
12 November 2019
Sarah mengiyakan ajakan Revan untuk menghabiskan waktu bersama menikmati hidangan makan malam yang sudah di siapkan secara khusus.
Dalam ruangan yang sudah di hias oleh pelayan keduanya saling bertatap wajah penuh kecanggungan. Revan yang memang sudah menaruh rasa pada Sarah pun sampai terkesima, begitu melihat sang istri berdandan cantik dengan balutan gaun tanpa lengan yang memamerkan bahu indahnya.
Sorot mata kagum Revan sangat terlihat jelas, suasana malam yang dingin tersebut seolah menyempurnakan keadaan dimana Revan akan mengatakan jika dirinya telah jatuh cinta pada Sarah, yang tidak lain sudah menjadi istrinya.
"Aku mau ngomong serius sama, kamu." Revan memulai pembicaraan, tangannya mulai meraih jemari lentik milik Sarah kemudian mengelusnya. "Sebelumnya aku minta maaf, karna udah bikin kamu tersinggung atas apa yang udah aku ucapin kemarin."
Sarah hanya tersenyum tipis, sorot matanya tertuju pada tangan yang telah disentuh oleh Revan.
"Aku mau kamu tinggalin masa lalu kamu," penuh kelembutan Revan berucap, besar harapan Revan bisa terlihat jelas oleh Sarah melalui gelagat suaminya yang benar-benar tulus. "Aku tau ini gak mudah, tapi aku mohon. lepasin semua yang buat kamu tersiksa, ada aku, Sar. aku suami kamu, aku mau kita jalanin semua ini dengan baik-baik ajah. aku mau kehidupan normal seperti pasangan pada umumnya,"
Deg... Bibir Sarah terasa kelu, pernyataan Revan benar-benar terasa sangat menggetarkan hatinya. Sarah menarik tangannya perlahan, "Maksud kamu kita gak normal? kenormalan seperti apa yang kamu mau?" sahut Sarah memiringkan senyum.
"Oke-oke!" Sarah meraih sebotol wine dan juga gelas, gadis cantik itu kemudian menuangkan wine tersebut dengan perlahan lalu menyodorkannya pada Revan. "Untuk malam ini ajah," ucap Sarah santai.
"Apa maksud kamu? kamu itu istri aku? kenapa untuk kali ini ajah?" Revan mengepalkan tangannya dengan rahang yang mengeras. "Sar, jangan kamu uji kesabaran aku terus-terusan kaya gini." pekik Revan meninggikan suara.
Melihat luapan emosi Revan, Sarah terkekeh. dengan kepala yang menggeleng wanita itu terus menertawakan Revan dan kemarahannya. Sarah mulai memangkas jarak, meletakan jemarinya diatas dada milik Revan. "Ini yang kamu mau kan?" Sarah mendekatkan bibirnya pada daun telinga Revan, hingga deruan nafasnya sukses membuat sang suami merinding.
"Apa maksud kam..."
Cup... Sarah langsung membungkam Revan sebelum pria itu menyelesaikan ucapannya. penyatuan yang Sarah berikan tidak langsung disambut baik oleh Revan, pria itu justru keheranan dan merasa tidak percaya dengan tindakan yang Sarah lakukan.
"Kamu puas?" ucap Sarah bertanya setelah melepaskan ciuman.
Revan menelan salivanya, jantungnya berdebar kencang. perasaanya mulai tidak karuan, terlebih posisi Sarah sekarang benar-benar sangat menguntungkan bagi dirinya.
"Kamu cinta aku kan?"
"Iya!" Revan langsung kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Sarah. pria itu bahkan langsung memeluk tubuh Sarah begitu erat, dengan tangan yang mulai menelusuri setiap kulit indahnya.
Harapan Revan, setelah ini semuanya berjalan sesuai apa yang ia inginkan. tak adalagi keluhan sakit dari Sarah rasakan. Revan berharap, Sarah menyadari semua yang ia lakukan sekarang adalah bersama Revan, bukanlah dengan Raka.