
"Ini kan..." Deon mendalamkan lipatan di dahinya saat Natalie mengajaknya kesebuah alamat yang telah Sarah berikan.
Tentu saja Natalie dan Sarah pergi ke toilet, hal itu dimanfaatkan dengan baik oleh wanita tersebut. sambil menangis Darah menceritakan begitu detail apa yang ia ketahui dan semua orang tidak mempercayainya. tidak hanya itu, Natalie yang berprofesi sebagai dokter pun mengklaim jika Sarah tidak sedang berhalusinasi, dan untuk membuktikan keaslian atas ucapannya Sarah menyuruh Natalie untuk mendatangi rumah pelaku penabrakan Raka.
"Kamu tau sesuatu?" tanya Natalie mempertegas tatapan.
Deon menganggukkan kepalanya dengan cepat, "Ini rumah Bu Hanum."
Natalie memincingkan matanya dengan perasaan yang semakin dirundung rasa penasaran, "Kamu kenal? Sarah bilang ini rumah pembunuh Raka!"
"Bu Hanum itu pembantunya Revan,"
"Pembantu?" sejenak Natalie menghentikan ucapannya melirik kearah rumah besar yang berada di hadapannya. "Rumah pembantu? segede ini? ngaco kamu?"
"Ini asetnya Revan!" celetuk Deon menjelaskan.
Sungguh setelah mendengar pernyataan Deon dan kejanggalan akan hal ini, Natalie jadi semakin menaruh kepercayaan terhadap Sarah. ia sangat ingin menggali lebih dalam fakta yang mungkin saja Revan dan Deon sembunyikan.
"Kamu tau sesuatu?" Natalie mengalihkan sorot matanya menatap Deon dengan begitu intens, "Atau jangan-jangan kamu juga terlibat?" ucap Natalie merasa curiga.
"Terlibat apa?" tanya Deon heran.
"Yaudah, kita temuin Bu Hanum di dalem, kali ini aku percaya sama Sarah!" Natalie melangkah sambil menarik tangan Deon untuk membawa pria tersebut masuk kedalam rumah besar Bu Hanum.
"Jangan, itu bukan urusan kita!" tegas Deon menolak, pria itu bahkan menepis tangan kekasihnya penuh kekesalan.
"Deon!" Pekik Natali membentak, "Kita harus bantuin Sarah!"
"Aku gak peduli." Deon memutuskan untuk kembali masuk kedalam mobil dan mengabaikan ajakan kekasihnya.
Natalie menghela nafas kasar, sikap Deon yang menolak keras justru malah semakin membuat dirinya diselimuti rasa curiga. wanita tersebut langsung mendekati Deon untuk membujuknya kembali.
"Jangan buang-buang waktu! kita pulang sekarang!" tegas Deon dingin.
"Tapi Sarah bener-bener butuh bantuan kita!"
"Aku gak peduli!" bentak Deon meninggikan suara dengan mata yang melotot tajam. "Siapapun itu, meskipun Revan sekalipun yang bunuh Raka. aku yakin dia ngelakuin itu pasti ada alasannya! kamu cuma orang lain, gak seharusnya kita terlibat!"
Deg...
Natalie tertegun, kali pertama ia melihat Deon dengan emosi yang tak terkontrol. bahkan sebelum-sebelumnya pria tersebut selalu mengiyakan apa yang Natalie inginkan, dan sekarang Deon bersikap seperti bukan dirinya.
Ditempat lain, Revan terus membujuk istrinya agar wanita itu bisa meredam kemarahan karena Revan telah mengatakan sesuatu yang memalukan dihadapan Natalie dan juga Deon.
"Sar..." Revan meraih tangan Sarah dan memalingkan tubuh wanita tersebut, "Aku minta maaf!" kecupan singkat Revan berikan dipunggung telapak tangan sang istri penuh ketulusan Revan mencoba meluluhkan hati Sarah yang seolah tak pernah sedikitpun terguncang atas sikap kebaikan Revan.
"Ayo aku gendong," Spontan Revan mengangkat tubuh istrinya hingga membuat Sarah terkejut.
"Van!" pekik Sarah kesal.
"Kenapa?" Revan mulai memijakan kakinya menaiki anak tangga untuk menuju ke kamar, pandangan Revan terus tertuju pada sorot mata redup Sarah meskipun raut wajah wanita itu terlihat dipenuhi rasa kesal.
Penuh ketakutan Sarah rasakan saat Revan benar-benar mengangkat tubuhnya melewati anak tangga, dengan terpaksa Sarah melingkarkan tangannya di atas bahu Revan karena takut pria itu akan kehilangan keseimbangan. Sarah bahkan menyembunyikan wajahnya karena tak berani menatap wajah suaminya.
Apa ini? debaran di dada Revan terdengar begitu nyaring. tak menampik Sarah pun merasakan hal tersebut, detak jantungnya berpacu dengan begitu cepat. sesuatu yang Sarah takutkan adalah, ia tak bisa mengontrol perasaannya. mungkin saja jika hal ini terus berlanjut, dengan mudah Sarah bisa melupakan segalanya. menggeser posisi Raka dan akan tergantikan oleh Revan.
Senyum kemenangan Revan tercipta, pria itu bahkan sangat yakin jika Sarah sudah memiliki perasaan terhadap dirinya. meskipun Sarah terus dan berulang kali mencoba menyembunyikannya.
Revan menurunkan perlahan Sarah di atas tempat tidurnya, tak melepaskan Sarah begitu saja pria tersebut langsung menindi*h istrinya kemudian meraih daun telinga Sarah dan berbisik, "Aku mau anak." pinta Revan penuh kelembutan.
"Apaan sih," Sarah mendorong Revan dan mencoba menahan dada pria itu dengan kedua tangannya. "Berat lepasin aku!"
Revan kembali mengukir senyum andalannya, menarik tangan Sarah perlahan lalu meletakan tangan tersebut diatas bahunya, "Aku mau anak." ucapnya sekali lagi dengan suara menggoda.
Sarah hanya memalingkan wajah dengan raut jiji. betapa sabarnya Revan menghadapi istri yang terus saja mengacuhkannya tersebut. sungguh pria itu sama sekali tak memperlihatkan sikap jengahnya dalam menggoda.
"Aku mulai sekarang ya?" ucap Revan meminta ijin sambil membuka satu persatu kancing kemeja yang ia kenakan.
"Mau ngapain?" tanya Sarah mengerutkan dahi.
"Mau anak!"
"Aku cape!" tolak Sarah dan langsung menutupi wajahnya dengan bantal.
Revan menghela nafas panjang sejenak lalu berpikir keras. apalah arti kata cape? pada akhirnya yang terus bekerja keras adalah dirinya. sejauh ini Revan tak pernah melihat sisi liar dari sang istri. bahkan saat keduanya bercinta, Sarah tak melakukan apapun. hanya sesekali meringis dan melenguh saat gairahnya ikut terpancing oleh permainan Revan.
"Sar," Revan menarik bantal yang menutupi wajah Sarah perlahan, pria itu langsung mendekatkan wajahnya pada Sarah lalu kemudian berucap, "Kamu diatas ya?"
Sarah membulatkan matanya terkejut, begitu mendengar permintaan Revan yang terdengar memalukan. "Revan!" Sarah membentak pria tersebut dan langsung memukulkan bantal bertubi-tubi pada suaminya, "Dasar mesum! gak tau malu!" hardik Sarah penuh kekesalan.
Revan hanya terkekeh, ia mencoba menghindari pukulan yang Sarah berikan lalu memeluk wanita tersebut dengan penuh kasih sayang. betapa bahagianya Revan sekarang, saat Sarah merespon candaannya. ini baru permulaan, entah apa yang akan Revan rasakan begitu suatu saat nanti Sarah membalas cintanya. "Aku cinta kamu, Sar." lirih Revan memeluk erat tubuh istrinya.
"Aku benci, kamu!"
Cup...
Kecupan singkat Revan daratkan dipucuk kepala sang istri, "Aku ajah udah cukup kok." ucap Revan mengelus kepala Sarah penuh kasih sayang.