Love By Accident

Love By Accident
Episode 34



Aktifitas Revan jalani seperti biasa, seolah tak ada beban masalah dalam hidupnya. harapan Revan, setelah bayi dalam perut Sarah lahir kehidupannya dapat segera berubah dan menyisakan kebahagiaan. meskipun masih terlihat samar, Revan yakin cepat atau lambat Sarah akan menerima fakta dan kenyataanya.


"Van..."


Pria yang sedang memainkan jemarinya di atas keyboard komputer itupun langsung mengalihkan sorot matanya melirik kesumber suara. "Kenapa?" ujar Revan bertanya setelah melihat kedatangan Natalie dan juga Deon ke kantornya.


"Gue udah tau semuanya, Deon udah cerita." ucap Natalie yang langsung kepada inti permasalahannya.


"Oh," sahut Revan datar.


Natalie berdecak sebal, "Sayang. dia kok nyebelin," rengek Natalie pada Deon mengerucutkan bibir.


Deon menghela nafas kasar kemudian menjawab, "Apa aku bilang, Revan gak bakal dengerin siapapun selain nalurinya sendiri."


"Van, lo harus bilang sama Sarah! kali ini kita semua gak akan nyalahin lo, meskipun lo itu memang salah!" celetuk Natalie menajam.


Seperti apa yang Deon katakan, Revan adalah pria yang tak bisa menerima masukan dari seseorang. ia berpegang erat pada pendiriannya, jika segala sesuatunya bisa Revan selesaikan tanpa harus melibatkan siapapun. terlebih ini adalah masalah hati dan perasaanya.


"Gu..." Belum sempat Revan menyelesaikan ucapannya, sorot matanya langsung melirik kearah ponsel yang tiba-tiba saja bergetar tidak jauh dari tangannya. Revan meraih dan membuka ponsel tersebut, ia ternyata telah menerima begitu banyak pesan dan salah satunya adalah dari Bi Lastri, salah satu pelayan yang bekerja dirumahnya.


"Pak Revan, Neng Sarah lagi ngidam."


Mata Revan memincing, tangannya dengan cepat membalas pesan tersebut. "Ngidam apa?" tanya Revan membalas pesan Bi Lastri.


"Kimchi Jeon, tapi katanya rasanya hambar. coba Pak Revan yang belikan."


Tanpa membalas Revan mematikan.layar komputernya dan langsung merapikan diri untuk bergegas pulang menemui sang istri.


"Mau kemana?" tanya Deon heran.


"Sarah lagi butuh sesuatu, gue harus pulang." ucap Revan sambil mengenakan kembali jas yang ia lepas.


"Tapi kita baru ajah dateng," tukas Natalie menyambar.


Revan menghembuskan nafas perlahan, kemudian menepuk bahu Deon dan berkata. "Gue tau, gue hargain kepedulian kalian, tapi maaf banget. gue harus pulang, ini satu-satunya cara supaya Sarah bisa cepet-cepet nerima gue."


"Nerima apa? sampai kapanpun, lo. bakalan di cap jahat kalo, lo. gak jujur" tegas Natalie.


Revan melirik kearah Deon, "Kita udah pernah bahas masalah ini. tolong yakinin cewek lo. semua itu gak gampang!" ucapnya kemudian meraih kunci mobil dan ponsel untuk segera pergi.


Ditempat lain, sepertinya apa yang Bi Lastri katakan memanglah benar. Sarah merasa dirinya gelisah, keinginannya sudah pelayan itu penuhi. tetapi Sarah masih merasa itu semua belumlah cukup.


"Baru kali ini, pengen Kimchi Jeon sampai mau nangis. padahal udah di beliin sama Bi Lastri," keluh Sarah penuh kesedihan.


Dua puluh menit berlalu, Sarah masih saja melamun sambil memperhatikan ikan hias yang berada dalam kolam. tak banyak bicara, dan tak banyak aktifitas yang ia lakukan. dan saat Revan memutuskan untuk kembali ke kantornya, Sarah benar-benar terlihat kesepian.


"Kok aku jadi mikirin dia ya?" Sarah menghempas jauh Revan yang berkutat dalam pikirannya. "Jangan Sar, kamu gak boleh tertarik sama pembunuh itu."


Cup... Sarah perlahan melirik kearah samping kirinya, ia terkejut dengan mata yang sedikit membulat saat tiba-tiba saja Revan mencium pipinya.


"Kamu, kenapa udah pulang?" cetus Sarah bertanya.


"Itu apa?" tanya Sarah datar memandang Revan.


Pria itupun langsung menyerang Sarah dengan tatapan indahnya, ia mendekati Sarah kemudian duduk disampingnya. "Aku denger ada yang ngidam, jadi aku mutusin buat pulang cepet hari ini."


Sarah mengerutkan dahinya, "Ngidam?"


Revan mengangguk, dan mengarahkan Kimchi Jeon kearah mulut Sarah. "Buka mulutnya," titah pria itu perhatian.


"Apaan si, Van." celetuk Sarah dengan raut wajah kesal.


"Bawaan bayi, buka dikit ajah." pinta Revan memohon.


Sarah berpikir keras, apa benar yang Revan katakan? bawasannya setelah melihat Kimchi yang berada ditangan suaminya Sarah justru semakin menginginkan makanan tersebut dan rasanya seperti sudah ada dipenjuru lidah.


"Aaa..."


Sarah membuka mulutnya dengan gugup dan memakan Kimchi tersebut langsung dari tangan Revan.


"Gimana? masih hambar?" tanya Revan dengan semburat senyum yang tercipta.


Sarah menggelengkan kepalanya perlahan, tanpa mengalihkan sorot matanya menatap Revan.


"Kalo mau sesuatu gak usah minta ke Bi Lastri, minta sama aku ajah." ujar Revan sambil mengelus rambut panjang sang empu penuh kelembutan.


Sarah hanya tertunduk, menyembunyikan wajahnya yang merona. jantungnya kembali berdebar cepat saat menerima perlakuan manis Revan, lagi dan lagi. "Masa sih ngidam? tapi beneran rasanya jauh lebih enak dari yang dibeliin Bi Lastri." gumam Sarah dalam batinnya.


"Aku tau kamu udah jatuh cinta sama aku."


Spontan Sarah mendongakan kepalanya dan kembali menatap Revan dengan intens.


"Jangan bohong, kamu udah gak bisa nyembunyiin perasaan itu dari aku lagi."


Sarah menggelengkan kepalanya kemudian menjawab, "Gak mungkin. kamu cuma kepedean!"


Revan menghela nafas panjang, ia meraih tangan Sarah lalu mengecupnya singkat. "Pas dirumah sakit, saat kamu sadar dari koma. siapa orang pertama yang kamu cari? orang pertama yang kamu sebutin namanya?"


Sarah menelan salivanya bersusah payah, "Si... siapa?" tanya wanita itu gugup.


"Aku!"


Wajah Sarah mulai merona meskipun dalam hatinya masih tersimpan rasa tidak percaya, "Gak... gak mungkin,"


"Suatu saat kamu pasti ngakuin hal itu," Sejenak Revan menghentikan ucapan, membawa tubuh Sarah kedalam pelukannya. "Ini baru permulaan, Sayang."


Ingin rasanya Sarah membalas pelukan tersebut, pelukan yang terasa menghangatkan tubuhnya, pelukan yang selalu menemani Sarah dalam setiap malamnya. mungkin lebih tepatnya Sarah sedang membohongi dirinya sendiri sekarang, sulit untuk dipungkiri perasaan Sarah selalu saja menerima dengan baik kelembutan yang Revan berikan terhadapnya.


Cup... Revan bahkan kembali merengkuh bibir Sarah tanpa istrinya sadari. wanita itu terlalu sibuk berperang dengan perasannya, hingga pada saat Revan mencuri kesempatan pun Sarah selalu terlambat untuk menyadarinya dan tidak sempat untuk melontarkan tolakan.