Love By Accident

Love By Accident
Episode 45



JANGAN LUPA KOMEN UNTUK MENENTUKAN KECEPATAN UPDATE.


"Revan..." Sarah langsung memeluk erat suaminya, begitu wanita itu terbangun dari tidak sadarkan diri.


Akhirnya kekhawatiran Revan bisa meredam, saat Sarah membuka mata dan langsung memeluknya. Revan juga tahu betul, apa penyebab sang istri pingsan. entah dia harus merasa sedih atau bahagia, bagaimanapun ketakutan Sarah terhadapnya selalu sukses membuat Revan tidak percaya diri.


"Tenang, Sar. aku disini, aku udah hubungin orang tua kita, sebentar lagi mereka dateng."


Sarah kembali mengalirkan air matanya, ia memandang intens wajah Revan kemudian berkata. "Apa maksud kamu, Van?" lirih Sarah bertanya.


Revan menggelengkan kepalanya, pria itu akhirnya tertunduk mencoba menyembunyikan kesedihan dan rasa penyesalannya.


"Apa bener kamu mau nyerahin diri?"


Spontan Revan langsung menatap Sarah, dengan mata menggenang. pria itu menghapus air mata sang istri, sambil menggelengkan kepalanya perlahan.


"Terus kamu kemana? aku nunggu kamu! aku cinta kamu, aku lagi hamil, dan kamu malah mau nyerahin diri ke penjara!" Sarah langsung memukul Revan, wanita itu langsung memecah tangisan seolah meluapkan rasa takut dan kecewanya kala itu.


"Maafin aku, Sar." ucap Revan tulus, dengan suara parau. Revan bahkan langsung menenangkan istrinya, membawa tubuh indah Sarah kedalam dekapannya. "Aku takut kamu ragu, aku pengen buktiin kalo aku bener-bener tulus dan gak bakal ngelukain kamu. aku sadar apa yang udah aku lakuin ini semua salah, hanya dengan cara itu kamu bisa yakin dan percaya sama kamu."


"Terus aku gimana, Van? gimana hidup aku? kamu tega mau ninggalin aku sama bayi ini?" jerit Sarah terisak penuh kekesalan.


Ketakutan Sarah tidak hanya tentang ditinggalkan kedalam penjara oleh Revan. wanita itu bahkan tidak bisa membayangkan, bagaimana kehidupannya setelah Revan ada dalam penjara. tentu Revan pasti akan dijatuhi hukuman yang cukup berat, bahkan seumur hidupnya bisa saja akan Revan habiskan hanya dalam sel tahanan.


"Aku gak peduli meskipun kamu udah bunuh Raka, aku tetap..."


Brukk...


Spontan Sarah menghentikan ucapannya, kemudian melirik kearah daun pintu secara bersaman dengan Revan.


"Apa ini, Sar?" tanya Riyanti dengan ekpresi terkejut, saat ia mendengar dengan jelas. apa yang Sarah katakan.


"Mah, aku..." bibir Sarah bergetar dengan wajah ketakutan.


"Apa bener, Revan yang udah bunuh Raka?"


Revan menelan salivanya bersusah payah, ia beranjak mendekati Riyanti untuk memberinya penjelasan. "Mamah pasti salah denger..."


Plak...


Tamparan keras Riyanti layangkan tepat pada wajah Revan, pria itu hanya bisa terdiam merasakan sakitnya pukulan yang mertuanya daratkan. marah, kecewa, itulah yang Riyanti rasakan. apalagi pernikahan Revan dan Sarah sudah terjalin cukup lama, dan ia baru mengetahui kebenaran itu hari ini.


"Mah cukup! kenapa Mamah mukul Revan, fia gak salah!" pekik Sarah tidak terima.


"Kenapa?" tatapan tajam Riyanti mengarah pada Sarah, "Kamu bilang kenapa?" Riyanti langsung menarik tangan Sarah mencoba membawanya keluar dari kamar tersebut. "Ayo pulang! tempat ini gak cocok buat kamu!"


"Mah, jangan bawa Sarah." ucap Revan mencoba menghentikan.


"Mah lepasin aku, aku gak mau pergi." lirih Sarah memberontak.


Kegaduhan itu sampai terdengar ke lantai dasar, Arman dan Ratna orang tua dari Revan pun sampai keheranan dan langsung menghampiri mereka.


"Ada apa ini?" tanya Arman pada Riyanti.


Arman dan Ratna spontan terkejut, merasa tak terima mendengar pernyataan yang mengarah pada sebuah hinaan. Ratna pun melepaskan tangan Riyanti dari Sarah dan langsung memeluk sang menantu, "Apa maksud kamu? kenapa kamu menghina anak saya? jangan paksa menantu saya!"


"Mah kenapa?" tanya Darma pada Riyanti, yang baru saja datang, ayah dari Sarah.


"Apa yang Sarah bilang ternyata benar! Revan orang yang udah bunuh Raka!" pekik Riyanti penuh kemarahan.


Semua orang lantas terkejut, menatap Revan dengan bola melebar.


"Gak mungkin, Revan anak saya gk mungkin ngelakuin hal itu." sahut Ratna membantah tidak percaya.


Arman langsung memincingkan matanya, mempertegas pandangan menatap Revan. "Apa benar itu, Revan?"


"Enggak, Mamah salah denger." sahut Sarah terisak.


"Jawab Papah, Revan!" pekik Arman dengan rahang yang mengeras.


Revan sejenak menatap Sarah, pria itu kemudian mengerjap lalu menelan salivanya dan berkata. "Ma... maafin Revan, Pah."


"Van!" Sarah langsung berteriak, ia benar-benar kesal karena sang suami telah mengatakan kejujuran.


"Maafin aku, Sar." lirih Revan tulus.


Riyanti menghela nafas panjang, ia langsung kembali menarik tangan Sarah untuk membawa sang buah hati kembali ke rumah.


"Mah, aku gak mau!" tolak Sarah menepis tangan sang Ibunda.


"Kamu gak seharusnya ada disini, pulang!" pekik Riyanti.


Mungkin apa yang dilakukan Riyanti pasti akan dilakukan oleh semua orang kebanyakan. siapa yang bisa menerima, jika anak yang sudah Riyanti besarkan harus tinggal dan hidup bersama dengan seorang pembunuh.


"Mah aku cinta Revan," deraian air mata Sarah semakin deras, "Aku gak mau pergi, aku mau sama Revan."


"Tapi Revan orang yang udah bunuh calon suami kamu! Papah sama Mamah gk mungkin nyerahin kamu sama pembunuh!" tegas Darma memberikan penjelasan.


Revan langsung bersimpuh di bawah kaki Darma, pria itu langsung mengalirkan air matanya memohon agar mertuanya tersebut dapat mengampuni semua perbuatannya. "Aku nyesel, Pah. tolong maafin aku, jangan bawa Sarah." ucap Deon memohon penuh ketulusan.


Arman dan Ratna hanya bisa terdiam, setelah mendengar pengakuan Revan, keduanya hanya bisa menelan ludah getir karena putra mereka satu-satunya berkata demikian. tidak mungkin bagi Arman dan Ratna harus membela orang yang bersalah, meskipun Revan adalah anak mereka. tindakan Revan benar-benar sudah sangat memalukan.


"Kamu sampai berani lenyapin nyawa seseorang, gimana saya bisa percaya kalo kamu gak bakal nyakitin anak saya?" sejenak Darma terdiam, memalingkan tatapan mengarah pada Arman. "Saya yakin, jika kalian ada di posisi kami. kalian akan melakukan hal yang sama."


Revan masih saja berusaha, mempertahankan istri dan sang anak yang masih dalam kandungan, "Aku bakalan tanggung jawab, Pah. aku mohon jangan bawa Sarah pergi."


"Jangan gila kamu, Van. aku gak mau kamu dipenjara!" pekik Sarah menyambar.


"Gak perlu, saya gak mau Ayah dari cucu saya punya catatan buruk." Darma langsung meletakan kedua tangannya diatas bahu Sarah, lalu memapah sang putri pergi dari tempat tersebut. "Ayo, mah." ucap Darma pada Riyanti.


"Pah, aku gak mau." lirih Sarah menolak.


Namun tetap saja, kedua orang tua Sarah tidak akan menoleransi tindakan menantunya tersebut. kejahatan yang Revan lakukan memanglah sangat fatal. meskipun Revan sudah berusaha keras meyakinkan Darma dan Riyanti jika dirinya sudah berubah dan menyesali perbuatannya, pembunuh tetaplah pembunuh.