Love By Accident

Love By Accident
Episode 48



"Selamat Malam, Tuan Putri." ucap Revan menyapa saat Sarah membuka jendela kamarnya.


Sarah terlihat muram, ia langsung meraih tangan Revan seolah menyambut sang suami dengan sepenuh hati. meskipun kedatangan Revan sudah seperti pencuri, harus mengendap-ngendap agar tak diketahui oleh kedua orang tua sang istri.


"Kenapa, Sayang? kok kaya gak seneng gitu?" tanya Revan, saat dirinya langsung menyadari raut wajah masam sang empu.


Sarah melangkah ke tepi ranjang, dan mendudukan bokongnya di sana. wanita cantik dengan keadaan perut membuncit itu pun berkata, "Sampai kapan kita kaya gini?" tanya Sarah mengerucutkan bibirnya.


Setelah mendengar keluhan Sarah, Revan tersenyum tipis. pria jangkung itupun langsung mendekati sang istri dan bersimpuh dihadapannya sambil meraih dan mengelus tangan Sarah. "Kamu sabar ya, aku juga lagi berusaha."


"Iya, tapi sampai kapan?" sejenak Sarah menghentikan ucapannya dengan tangan yang beralih menyentuh wajah tampan Revan. "Semakin hari, perut aku semakin membuncit. waktu lahiran juga sebentar lagi bakalan dateng. aku gak mau lahirin anak ini sendirian, tanpa ada kamu di samping aku, Van." lirih Sarah dengan mata yang menggenang.


Jauh dari sebelum Sarah mengatakannya, sebenarnya Revan sudah memikirkan tentang hal tersebut. ia tak ingin Sarah sendirian, ia tentu tidak akan membiarkan hal itu terjadi, meskipun kemungkinannya sangatlah kecil. sampai sekarang Revan bahkan masih memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah yang telah menimpanya tersebut.


"Aku janji, lahiran nanti. aku bakalan ada di samping kamu."


"Gimana caranya, Van? sampai sekarang Mamah sama Papah tetep belum bisa maafin kamu! berulang kali aku yakinin mereka, tapi mereka tetep gak bisa menoleransi apa yang udah kamu lakuin!" tegas Sarah terisak.


Sebenarnya, Sarah tak perlu menjelaskan semua itu dengan sangat detail. tanpa wanita itu bicara saja, Revan sudah sangat mengerti. kedua orang tua Revan saja terus menyalahkan dirinya, bagaimana bisa kedua orang tua Sarah menerima dengan begitu mudah.


"Van, bawa aku pergi sekarang. aku udah cape, aku gak bisa begini terus." pinta Sarah memohon.


Kesedihan itu terlalu mendominasi, meskipun ia bahagia bisa melihat sang suami setiap malamnya. tapi bukan hubungan yang seperti ini yang Sarah inginkan, ia benar-benar tersiksa, batinnya menjerit setiap kali ia mengingat bagaimana rumitnya masalah yang sedang menimpa Sarah dan Revan sekarang. Sarah sudah berulang kali memaksa Revan, agar pria tersebut membawanya.


Namun hal itu tak pernah Revan lalukan, karena tak ingin sekali lagi membuat orang tua sang istri kecewa. bagaimana pun juga baik Revan maupun Sarah, adalah keluarga dari kalangan yang terhormat. setelah berpikir panjang dan tak ingin mengulangi kesalahan yang sama, Revan juga akan membawa Sarah kembali dalam pelukannya dengan cara yang terhormat.


"Dia perempuan atau laki-laki?" tanya Revan mencoba mengalihkan pembicaraan sambil mengelus perut buncit sang istri.


Cup... kecupan singkat Revan daratkan diatas perut sang istri, pria itu mendongak kemudian berkata. "Dia pasti cantik, kaya kamu." celetuk Revan menggoda.


Revan selalu bisa mencairkan suasana, membuat Sarah kembali mengembangkan senyumnya dan tak bisa untuk sedetikpun tidak memeluk suaminya.


Sorot mata Revan terus memandang kagum melihat kecantikan istrinya, "Maafin aku, Sar. karena kesalahan aku, hidup kamu jadi kaya gini." ucap Revan tulus.


Sarah menggelengkan kepalanya, lagi-lagi setetes air mata Sarah mengalir keluar dari pelupuknya. "Enggak, aku ngerti kecewa dan sakit hati yang kamu rasain. seharusnya aku yang minta maaf, karena aku pernah bersikap keterlaluan, tanpa cari tahu kebenarannya."


"Sar..." Revan terus menenggelamkan dirinya di dua bola mata indah milik sang istri. "Boleh aku minta sesuatu dari kamu?"


"A... apa?" tanya Sarah terbata dengan perasaan tidak enak.


Revan mengerjap, sejenak ia menghela nafas panjang kemudian berkata. "Kalo nanti kita gak bisa bersama lagi, tolong jaga anak kita dengan baik."


Mata Sarah semakin memanas, mulutnya sedikit terbuka setelah mendengar pernyataan tersebut dari Revan. "Apa maksud kamu, Van." lirih Sarah bertanya.


"Gak ada yang dukung aku, gak ada yang percaya sama aku." sejenak Revan mengalihkan wajahnya kearah lain, guna menyembunyikan air matanya. "Bahkan aku berpikir, Tuhan ajah gak mau kita bersama."


"Enggak!" Sarah memalingkan wajah Revan agar kembali menatapnya, "Kamj jangan putus asa kaya gini, aku percaya sama kamu! tolong jangan nyerah, Van."


Cup... Revan mencium punggung telapak tangan sang istri, menempelkan tangan lembut itu diwajahnya kemudian menjawab. "Aku tau aku salah, semua yang aku lakuin emang udah sangat keterlaluan. tapi aku beneran cinta sama kamu, Sar."


Sarah menganggukan kepalanya, ia langsung memeluk erat tubuh Revan dan mencium wajah pria itu penuh ketulusan. "Dengerin aku, Van. kamu harus tetep berusaha, demi aku, dan demi anak kita." Sarah mengerjap, wanita itu menghentikan ucapannya, saat dadanya terasa sedikit sesak. "Aku gak akan ngeluh, aku bakalan nunggu kamu sampai kapanpu. aku tau kamu orang baik, tolong kamu jangan kaya gini." lirih Sarah memohon sambil meneteskan air matanya.


Bukan hanya cintanya, untuk saat ini Sarah juga adalah kekuatan bagi suaminya. hal yang tepat, saat Revan memantapkan hati untuk membuat Sarah mencintainya. sialnya, dewi keberuntungan sedang tidak berpihak pada Revan. saat sang istri menerimanya dengan tulus, beberapa pihak lantas mengetahui rahasia terbesar Revan dan spontan semua itu langsung menjadi hambatan.