
Sarah terdiam, memandang kesibukan suaminya dengan begitu intens. pria yang memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya di rumah itupun terlihat begitu serius. tanpa mengurangi kesiagaannya. Revan memanglah pria yang sangat ambisius, dan juga perhatian. untuk itu Sarah benar-benar merasa jika dirinya sangat beruntung, sesaat setelah Sarah bisa melupakan kejahatan yang pernah dilakukan oleh Revan.
Lain lagi jika Sarah teringat akan perbuatan suaminya, Sarah akan menjadi sangat cemas dan ketakutan. meskipun cinta itu sudah tumbuh melekat dalam hatinya, Sarah tak bisa menampik jika tindakan Revan benar-benar suatu kesalahan yang cukup fatal.
Pernah suatu waktu, Sarah melihat Revan sedang membawa sebuah pisau. padahal tujuan pria itu hanya untuk mengupas buah-buahan segar, untuk Sarah sendiri konsumsi demi kebaikan bayi dalam kandungannya.
Namun Sarah justru malah menjerit, ia tak bisa mengontrol dirinya saat gangguan kecemasan berlebih itu muncul.
"Van..." lirih Sarah saat merasakan pegal pada bagian pinggangnya. wanita itupun berjalan perlahan mengabsen setiap sudut ruangan, untuk mencari keberadaan suaminya. "Van, kamu dimana?" pekik Sarah memanggil.
"Aku disini, sayang." sahut Revan terdengar dari arah dapur.
Sarah melangkahkan kakinya menuju sumber suara, sambil meringis merasakan sakit wanita itupun mulai mendekati Revan.
"Aku..." Revan memalingkan tubuhnya menatap Sarah sambil memegang sebuah pisau ditangannya.
Sarah terdiam, matanya memanas, detak jantungnya berdebar dengan begitu cepat. sejenak wanita tersebut memundurkan langkahnya kemudian, "Ahhhh..." Sarah menjerit histeris dan sukses membuat Revan sendiri pun terkejut.
"Sar..." Revan melempar pisaunya kesembarang arah dan langsung meraih tubuh sang istri.
Tubuh Sarah melemah, tatapannya kosong dengan nafas yang tersenggal.
"Sar, kamu kenapa Sar?" ucap Revan memeluk tubuh sang empu penuh perhatian.
"Van, aku..." Sarah memandang wajah Revan penuh ketakutan.
"Kamu baik-baik ajah kan?" tanya Revan cemas.
Sarah hanya terdiam dengan tubuh yang bergetar, sejenak wanita itu mengerjap mencoba menghapus sesuatu yang melintas dalam pikirannya. ia terlalu jauh berpikir, sampai membayangkan sesuatu yang belum tentu akan terjadi.
Sarah menelan salivanya dengan bersusah payah, kemudian berkata. "Van, kamu... kamu gak akan bunuh aku kan?"
Pria jangkung itupun spontan terkekeh, ia membangunkan sang istri kemudian menjawab. "Kamu sakit?" Revan meletakan punggung telapak tangannya pada dahi Sarah, "Kok ngomongnya ngaco gitu?"
Mendengar itu, Sarah langsung memeluk tubuh kekar Revan dengan begitu erat. "Aku pernah sangat keterlaluan sama kamu," Sarah mendongakan wajahnya memandang serius mata sang suami. "Aku... aku takut, Van." ucap Sarah terbata menjelaskan.
Revan tersenyum kecut, pria itu langsung meraih pucuk kepala Sarah dan mengelusnya perlahan. "Kamu masih ngeraguin aku?"
"Ustt..." Revan menghentikan ucapan Sarah sejenak, dengan cara menempelkan telunjuknya pada bibir wanita tersebut. "Aku ngerti kok, aku gak mungkin ngelukain orang yang aku cinta." Revan menggenggam tangan Sarah dan mengecupnya, "Percaya sama aku, aku bakalan bahagiain hidup kamu dan juga anak-anak kita nanti," tegas Revan meyakinkan sambil mengelus perut buncit istrinya.
Ingin rasanya Sarah menampar dirinya sendiri, Revan sudah sangat baik. tetapi ia masih saja kalah dengan sindrom ketakutan berlebihnya.
"Masih sakit pinggangnya?" tanya Revan memijat perlahan pinggang sang istri.
Sarah mengangguk dengan ekspresi yang cukup menggemaskan.
Revan tersenyum tipis, ia membantu Sarah beranjak kemudian berkata. "Tadi aku tanya Deon, dan Natalie bilang kalo itu tanda jika kandungan kamu lemah."
Bola mata Sarah melebar, saat Revan tiba-tiba saja mengangkat tubuh istrinya. "Kenapa di gendong? aku bisa jalan sendiri," gerutu Sarah dengan sorot mata tajam.
"Aku gak mau kamu kecapean," sahut Revan sambil melangkah meninggalkan ruangan dapur.
Menyenangkan bukan? Sarah diperlakukan layaknya seorang putri. bahkan selama ia menjalani kehidupan bersama Revan, wanita tersebut sama sekali belum pernah merasakan apa itu yang di namakan kelelahan.
"Van..."
Revan spontan melirik kearah wajah sang istri, "Hmmm?
"Jangan tinggalin aku," pinta Sarah tulus sambil mengalungkan tangannya pada leher sang suami.
"Jangan mancing,"
Sarah mengerutkan dahinya, memandang lekat wajah si pria dengan sorot mata heran, "Mancing?"
"Aku gemes, setiap kali aku denger kalimat manis dari bibir kamu."
Sarah melebarkan senyumnya, meraih wajah Revan kemudian mengelusnya. "Gemes?" tanya Sarah dengan raut wajah menggoda.
Siapa yang akan tahan? toh keduanya benar-benar sedang dilanda mabuk cinta. justru semakin Sarah menggoda, semakin juga Revan akan tergoda.
Setelah kejadian tersebut, Sarah memberanikan diri untuk memanggil Natalie dan menceritakan masalah yang terjadi pada dirinya. tidak mungkin Sarah memanggil dokter lain, karena jika itu ia lakukan, Sarah akan secara tidak langsung mengumbar aib suaminya jika Revan pernah membunuh seseorang.