
"Enggak..." Natalie menggelengkan kepalanya dengan raut wajah memucat.
"Bohong," Revan semakin menajamkan tatapannya dengan sorot mengintimidasi. "Gak mungkin Sarah manggil lo, kalo dia baik-baik ajah!"
Deon menepuk dahinya, ia terus saja mencoba melindungi sang kekasih dari cecaran Revan yang sudah seperti interpol mengintrogasi.
"Kalian sebenernya memihak ke siapa? gue atau Sarah?" tegas Revan kesal memincingkan mata.
Apalah arti memihak? Deon sendiri bingung harus memberikan jawaban seperti apa setelah mendengar pertanyaan yang Revan lontarkan. pria seumuran Revan itu tersenyum kecut, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal kemudian berkata. "Gue temen lo, sob. tentu gue dukung lo sepenuhnya, tapi bukan berarti gue membenarkan apa yang udah pernah lo lakuin. semarah apapun, tindakan lo tetep ajah salah."
Revan menghela nafas panjang, ia menjatuhkan dirinya di sofa kemudian tertunduk sambil memijat pelipisnya perlahan.
"Kenapa, Van? cerita, gue gak mau lo salah langkah lagi," ucap Deon, mendekati Revan kemudian menepuk bahunya perhatian.
Natalie tentu bisa melihat ekspresi Revan dengan jelas, jika pria yang duduk di samping kekasihnya itu sedang tidak baik-baik saja.
Awalnya Revan hanya terdiam, memandang Deon dan Natalie secara bergantian. tetapi setelah mendengar ungkapan tulus Deon yang tak ingin kembali melihat Revan salah jalan, Revan pun mulai berkata. "Ini semua tentang Sarah, kayanya Sarah belum bisa yakin sepenuhnya sama, gue."
"Sarah yakin kok sama, Lo. dia cuma perlu waktu buat ngilangin traumanya ajah." tukas Natalie langsung menyambar.
"Trauma? maksudnya?"
Natalie tersenyum canggung, "Ini, itu, emm maksud gue. gimanapun lo itu suaminya, gue takut kalo gue nyembunyiin hal ini, itu cuma bikin kalian salah paham."
Revan semakin memperkuat pandangannya menatap Natalie, "Trauma apa? jangan bilang Sarah belum sepenuhnya cinta sama gue!"
"Dia cuma belum bisa nerima, kalo lo orang yang udah bunuh Raka." sahut Natalie dengan suara terendah.
Revan tersenyum getir setelah mendengar apa yang Natalie katakan. dugaan Revan selama ini benar, bahwasannya Revan sendiri memang sudah menaruh rasa curiga saat Sarah sering tiba-tiba berteriak ataupun menjatuhkan dirinya setiap kali melihat Revan.
Sepertinya rasa penyesalan akan masa lalu Revan semakin mencuat. pria itu bahkan terlihat sudah kehilangan gairah hidupnya. meskipun Sarah mengatakan cinta, tapi sikap wanita itu selalu membuat Revan tersiksa.
"Harus dengan cara apa gue yakinin dia? padahal gue gak mungkin ngelukain orang yang gue sayang. gue bener-bener cinta sama Sarah."
Natalie mengangguk, ia pun duduk disebelah Revan dan menepuk bahu pria itu seperti yang Deon lakukan. hingga kini posisi Revan benar-benar sudah dihimpit oleh kedua sahabatnya, kepedulian pasangan itupun terlihat seolah mendukung secara keseluruhan untuk Revan meyakinkan kembali sang istri.
"Gue harus apa?" tanya Revan frustasi dengan mata menggenang.
Natalie melirik kearah Deon, seolah memberikan isyarat karena turut merasakan sedih yang kini telah bersemayam di lubuk hati Revan. Begitu juga sebaliknya, Deon sendiri bingung karena rasa penyesalan Revan yang mencuat mungkin adalah buah dari kebodohannya.
"Atau mungkin, gue nyerahin diri ajah?"
Mata Deon dan Natalie langsung membulat secara bersamaan karena terkejut, setelah mendengar pernyataan Revan.
"Lo gila?" pekik Deon mengerutkan dahinya.
"Kalian berdua sendiri yang bilang, kalo semua yang udah gue lakuin itu salah!"
Natalie berdecak kasar, sambil menggelengkan kepalanya dengan sorot mata heran. "Yang lo lakuin emang salah! kenapa baru sekarang? kenapa gak dari dulu ajah? disaat Sarah udah jatuh cinta sama lo, lo malah mau nyerahin diri."
Pasangan itu terlihat tidak setuju, keduanya berpikir bagaimanapun semuanya sudah terlambat. jika Revan memaksa, maka tetap akan ada hati yang terluka.
"Sarah takut, Sarah gak bisa yakin sama gue!" tegas Revan kembali mengingatkan.
Ditempat lain, waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam. Sarah terus saja menghubungi Revan melalui ponsel, bahkan tak sedikit pesan kekhawatiran yang Sarah kirimkan pada sang suami.
"Dia kemana sih? tumben jam segini belum pulang." gumam Sarah dengan ekspresi cemas.