
KECEPATAN UP TERGANTUNG BANYAKNYA KOMENTAR.
"Mang, saya mohon, Mang. saya mau ketemu Sarah, tolong ijinin saya masuk." ucap Revan memohon pada sopir, sekaligus penjaga keamanan kediaman rumah mertua dari Revan.
Mang Dadang berpikir keras, ia memang tidak tahu pasti masalah apa yang sedang menimpa rumah tangga Revan dan Sarah. tetapi Mang Dadang sangat yakin, sepertinya masalah tersebut saling melibatkan antara dua keluarga. semua itu terlihat jelas, saat siang tadi Mang Dadang sempat mendengar keributan yang terjadi didalam rumah. Mang Dadang juga melihat, jika Sarah menangis dan terus memanggil-manggil nama suaminya.
"Tapi, Bapak sama Ibu ngelarang keras, Den." sahut Mang Dadang sopan, menyampaikan amanat dari majikan.
"Saya mohon, Mang. Sarah lagi butuh, Saya. dia lagi hamil, tolong ngertiin, Saya."
Mang Dadang menyerah, melihat ketulusan Revan cukup membuat pria paruh baya itu takjub. Mang Dadang pun membuka perlahan pagar, sambil berkata. "Tapi jangan masuk lewat depan, Den. nanti saya bisa di marahin Pak Darma.
Revan berdecak kesal, "Terus gimana Saya bisa nemuin Sarah Mang?"
"Den Revan masuk ke pos dulu ajah, nanti saya cariin tangga."
"Buat apa mang?" tanya Revan mendalamkan lipatan di dahinya.
"Buat naik keatas kamar, Neng Sarah. say yakin, kalo lewat depan Aden bakalan di usir."
Revan terlihat sangat prustasi, ia tidak bisa membayangkan keadaan sang istri sekarang. pria itu nampak menuruti perkataan Mang Dadang lalu memilih duduk dan bersembunyi didalam pos keamanan Mang Dadang.
Entah kemana perginya, penjaga pagar tersebut. sudah dua puluh menit lamanya Revan menunggu, Mang Dadang tak kunjung jua datang. sedangkan Revan sudah sangat kebingungan, memikirkan cara untuk menemui sang istri. ponsel Sarah bahkan tidak aktif, sejak wanita itu di bawa oleh kedua orang tuanya.
"Den,"
Revan langsung mengerjap, mengalihkan sorot matanya kearah Mang Dadang. "Gimana, Mang?" sahut Revan bertanya spontan.
"Tangga gak bisa ngejangkau kamar Neng Sarah, tapi Neng Sarah udah pindah ke kamar yang di lantai dasar. Neng Sarah udah tau kalo Aden disini, tadi saya bilang."
Semburat senyum Revan tercipta, Revan langsung meraih tangan Revan dan menyungkemnya untuk memberikan rasa terima kasih yang tulus pada pria paruh baya tersebut. "Makasih, Mang. Saya gak tau lagi harus bilang apa. pokonya dalam hal ini Mamang sangat berjasa." ungkap Revan penuh ketulusan.
Di tempat lain, Sarah dengan mata sembabnya sudah berada di kamar lantai dasar. ia mengatakan pada kedua orang tuanya jika kehamilannya sangat lemah, Sarah juga mengatakan jika dirinya akan kesulitan untuk berjalan menuju lantai atas.
Tok... tok... tok...
Sarah langsung mengerjap, membulatkan matanya dan melangkah menuju jendela kamar. "Revan," Sarah menarik tirai jendela yang menutupi jendela tersebut, membuka selot jendela untuk memudahkan Revan masuk kedalam kamar.
Sarah kembali menitikan air matanya, kesedihan Sarah kembali mengiris hatinya. bahkan saat pria yang sangat ia cintai tersebut datang, Sarah langsung meyakinkan hati dan perasaannya jika Revan benar-benar adalah pria yang tulus.
"Aku bawa sesuatu," sejenak Revan melepaskan pelukannya dari Sarah sambil memperlihatkan sesuatu dari tangan kanannya, "Kimchi Jeon. kesukaan kamu."
Sarah mengangguk dengan butiran air mata yang terus saja mengalir. sungguh, kesedihan itu tidak hanya dirasakan oleh perempuan tersebut. jauh dari lubuk hatinya, Revan juga merasa sangat terpukul.
Namun Revan memilih untuk terlihat tegar, pria itu tak ingin terlihat lemah dihadapan sang istri. Revan juga sedang memikirkan cara, agar bisa membawa Sarah dengan cara yang terhormat. tanpa melukai pihak manapun, agar seluruh keluarganya benar-benar merasakan kebahagiaan.
"Ayo duduk," Revan menuntun Sarah kebibir ranjang. mendudukan sang empu perlahan. "Kamu makan ya, aku suapin."
Sarah hanya terus memperdalam tatapannya menatap Revan. ia takjub karena Revan memaksa untuk datang, meskipun kini kedua orang tua Sarah sedang sangat marah
"A..." Revan mengarahkan sebuah Kimchi kearah mulut Sarah sambil menyerukan agar sang empu membuka mulutnya, "Makan, Sar. kamu harus jaga kesehatan kamu demi bayi kita."
Sarah mengerjap, ia tertunduk sambil memecah tangisan. tangannya mencengkram kuat kemeja yang Revan kenakan lalu berkata, "Aku gak mau pisah. aku gak mau kehilangan kamu." isak Sarah, yang sukses membuat mata Revan memanas.
Pria itu langsung membawa Sarah kedalam pelukannya, air mata Revan bahkan mengalir saat tangisan Sarah begitu menusuk relung batinnya. "Sabar, Sayang. aku pasti berusaha buat bawa kamu pulang."
"Aku gak bisa kaya gini," Sarah memukul dada, Revan. "Aku gak mau jauh dari kamu." tegas Sarah penuh penekanan. "Aku mohon, bawa aku pergi sekarang," pinta Sarah sambil menenggelamkan dirinya di dua bola mata indah milik sang suami.
Revan menggelengkan kepalanya, ia mengelus wajah Sarah penuh kasih sayang kemudian menjawab. "Aku gak akan bawa kamu sekarang, aku gak mau orang tua kamu semakin benci sama aku. aku yakin, mereka pasti bakal percaya, dan nyerahin kamu lagi sama aku."
"Tapi, Van..."
"Ustt..." Revan meletakan jarinya diatas bibir Sarah, "Kamu, sabar. semua ini pasti berlalu." ucap Revan meyakinkan.
Sarah mengangguk, ia menaruh besar harapan dan keyakinan pada sang suami. Sarah juga percaya jika Revan bisa mengatasi masalah ini secepat mungkin.
"Aku cinta kamu, Sar." ungkap Revan tulus.
"Aku juga cinta kamu, Van." sahut Sarah menjawab, kemudian wanita itu langsung meraih bibir Revan lalu menciumnya penuh penghayatan.
Keduanya memang sedang saling merindukan, rasa akan takut kehilangan dan terpisahkan masing-masing tertanam dalam hati Revan maupun Sarah. pasangan suami istri yang sedang dimabuk asmara itupun sudah seperti pengantin baru, keduanya sangat sering bercumbu. tidak terbantahkan, Sarah dan Revan sedang saling menginginkan sekarang.
Semua itu terlihat jelas, saat bagaimana Revan baik pun Sarah saling memberikan dan menerima sentuhan. ciuman yang keduanya lakukan terasa sangat berkesan, Revan mel*umat mencecap dan menghisap bibir Sarah dengan penuh gairah, begitupun sebaliknya.