
"Kau sudah g1la! Untuk apa kau berada di sini, hah?!" bentaknya.
"A--aku tidak tahu jika akan ada tembak menembak seperti ini."
"Jika kau tertembak. Maka aku yang akan disalahkan oleh atasanmu."
"Ma--maaf, mariku bantu." Alana membantu Levin masuk ke dalam rumah untuk mengobati lukanya.
"Levin apa kau baik-baik saja, Nak?" tanya nenek menghampiri Levin yang sedang diobati dokter.
"Aku baik, Nek."
"Tapi bagaimana bisa kau tertembak? Kau bukan Levin yang mudah dilukai," ujar Melda.
"Tadi aku menyelamatkan Alana yang hampir tertembak."
"Apa kau menyelamatkannya?" Alana Kau tahu apa yang sudah kau lakukan? Levin hampir saja kehilangannya nyawanya hanya untuk menyelamatkanmu, untuk apa kau berada di luar!" bentak Melda tak habis pikir.
"Maaf."
"Kau ini dasar pembuat masalah! Kau hampir saja merusak pesta semalam. Sekarang kau hampir menghilangkan nyawa kakaku. hanya untuk menyelamatkan gadis kelas menengah sepertimu!" sinis Almahira.
"Sudahlah, Al. Dia juga pasti tidak tahu kalau akan seperti ini," ujar Alesha yang berdiri di samping Alana.
"Kenapa kau selalu saja membelanya?"
"Aku tidak membelanya. Aku tahu yang dia lakukan memang salah, tapi bukan salahnya sepenuhnya."
"Alesha---"
"Sudah diam!" bentak Levin.
"Almahira, Alesha Sudah jangan bertengkar! Sebaiknya kita keluar lebih dulu. Biarkan kakakmu istirahat," ujar nenek.
"Nenek benar, sebaiknya kita keluar."
Akhirnya mereka pun keluar dari kamar Levin
"Alana!" panggil Levin.
Alana yang terpanggil pun berjalan menghampiri Levin. "Iya ada apa Tuan?"
"Sebagai tebusan untuk nyawamu. Kau harus melayaniku sampai aku sembuh."
"Tentu, aku juga ingin berterima kasih karena kau telah menyelamatkan nyawaku."
"Aku menyelamatkan nyawamu hanya karena tak ingin disalahkan jika terjadi sesuatu denganmu."
Alana mengangguk mengerti.
"Ambilkan bajuku, dan pakaikan!" titahnya.
Alana membuka lemari Levin. Dia mengambil baju ganti untuk Levin.
Alana dengan gugup membantu Levin membuka bajunya. Dia mengalihkan pandangannya saat melihat postur tubuh Levin yang atletis.
"Kenapa kau mengalihkan pandanganmu?"
"Aku tidak terbiasa melihat aurat laki-laki."
"Tapi sayangnya banyak wanita yang ingin melihat auratku, apa kau tidak tertarik?"
"Tidak, karena aku bukan wanita seperti itu. Yang mencari kesempatan dalam kesempitan."
"Menarik." bisiknya.
Setelah membantu Levin. Alana berniat untuk pergi. "Jangan lupa bawakan aku makanan!"
"Hmmm...."
Alana pergi menuju dapur. Dia akan memasak untuk Levin.
Walaupun sebenarnya dia malas sekali, tapi anggap saja ini sebagai tanda ucapan terima kasih.
"Nek, lihatlah! Alana begitu lihai dalam memasak. Aku rasa dia yang lebih pantas menikah dengan kak Levin dibanding Syaqila," ujar Alesha kepada nenek. Mereka sama-sama melihat Alana yang sedang memasak dari balik pintu.
"Kau benar, tapi siapa yang berani menentang keinginan kakakmu?"
"Nenek benar juga, semoga saja suatu saat dia menjadi kakak iparku."
...----------------...
"Ayana, sayang. Makan dulu!" Arif membawakan makanan ke dalam kamar, dari kemarin Ayana tidak mau keluar dari kamar Alana.
"Enggak."
"Kalau kau tidak makan nanti sakit."
"Biarkan saja, asalkan Alana kembali."
"Lalu jika Alana kembali dan melihatmu dalam keadaan sakit, apakah dia tidak akan marah?"
"Semoga."
"Makan?"
"Tidak!"
"Padahal aku lapar," ujar Arif memanyunkan b1b1rnya.
"Kau belum makan?" Arif menggeleng.
"Makanlah!"
"Aku hanya akan makan jika kau ikut makan."
"Iya, aku makan."
Arif dan Ayana saling menyuapi satu sama lain, serasa kembali ke masa muda.
...----------------...
"Ini makananmu!" Alana meletakkan makanan yang dibawanya ke atas nakas.
"Apa kau tidak lihat tanganku terluka?"
"Hmm, lalu?"
"Suapi aku!"
"Apa?!"
Levin menatap tajam Alana. Dia tidak suka penolakan, Alana yang ketakutan melihat ekspresi Levin langsung mengambil piring yang dibawanya. Lalu menyuapi Levin.
Levin menerima suapan yang diberikan Alana.
Alana baru teringat dia belum menghubungi orang tuanya, pasti mereka sangat khawatir.
"Tuan, apa aku bisa mengambil ponselku?"
"Untuk apa?"
"Aku ingin menelpon keluargaku."
"Hanya keluargamu?"
"Iya."
"Pakai ponselku. Agar aku tahu kau tidak menelpon orang lain." Levin menyerahkan ponselnya.
Alana mengambil ponsel Levin. Tidak masalah yang penting dirinya bisa menelpon orang tuanya.
Alana berjalan ke arah jendela kamar Levin yang terbuka untuk menelpon sang Bunda.
"Halo, siapa ini?"
"Bunda."
"Alana, sayang. Apakah ini kau?"
"I--iya, Bun. Ini Alana."
"Kau di mana? Bunda sangat mengkhawatirkanmu."
"Aku baik-baik saja, dan aku berada di satu tempat."
"Di mana itu? Biar Daddy menjemputmu."
"Tidak, jangan! Alana baik-baik saja. Bunda tidak perlu khawatir, tolong katakan pada Daddy Alana baik-baik saja. Maaf Alana sudah berbohong!" tangis Aira.
"Tapi, Nak ...."
"Bun, tolong jangan cari Alana. Alana akan kembali."
"Kapan?"
"Bunda tunggu saja."
Setelahnya Alana mematikan sambungan telepon tersebut dan menangis, ingin rasanya Alana memberi tahu di mana dirinya. Tapi jika Arif tahu maka semua akan rumit, dirinya harus menyelesaikan tugasnya untuk menemukan Devano.
"Kenapa kau menangis?"
Alana buru-buru menghapus air matanya. "Tidak, terima kasih untuk pinjaman ponselnya." Alana menyerahkan kembali ponsel milik Levin. Setelah itu dia pergi meninggalkan kamar Levin.
Levin memeriksa ponselnya. "No ini adalah no yang banyak digunakan oleh orang-orang yang memiliki banyak kekayaan, jika orang tua Alana adalah seorang yang kaya. Mengapa dirinya harus bekerja? Sangat mencurigakan, apa sebenarnya tujuan gadis itu?"
Levin mulai mencurigai Alana.
"Halo, Dino. Kau cari tahu tentang Alana dan no asing yang akan kukirimkan."
Levin mengirimkan no milik Alana untuk dicari tahu siapa Alana sebenarnya.