Learn to Love You

Learn to Love You
Part 39



Dua minggu berlalu, hari ini Levin dan Alana akan kembali pulang ke rumah Levin, selama Alana di sini dia sudah merasa lebih baik. Dan mulai menerima keadaan.


"Ayo, Alana! Kita harus cepat." Levin langsung menarik koper keduanya, bukan apa-apa. Selama Levin tinggal di rumah Arif dia tidak bekerja. Sudah pasti pekerjaannya menumpuk sekarang.


Para bodyguard langsung membantu Levin memasukkan koper ke dalam bagasi mobil.


"Dad, Bun. Alana pamit." Alana memeluk kedua orang tuanya, rasanya sudah cukup dia bisa menghabiskan waktunya bersama ibu dan ayahnya. Dia harus segera pulang dan kembali menjadi nyonya Levin Christiansen.


"Sering-seringlah berkunjung," ujar Arif tersenyum hangat.


"Pasti."


"Setelah sampai, jangan lupa telpon Bunda." Anaya menyeka air matanya.


"Iya, Bunda-ku. Sayang."


Anaya tersenyum. "Jadilah istri yang baik."


Alana mengangguk. "Rex, Lex, Kalian harus jaga Bunda ... semoga kita segera bertemu."—Alana memeluk kedua adiknya.


"Aku akan merindukan Kakak!" tangis Rex.


"Kau bisa datang ke rumah jika merindukanku."


"Benarkah?"


"Hum, iyakan Levin?" Alana beralih menatap Levin.


"Tentu," jawabnya.


"Kau dengar? Jadi, kau tidak boleh menangis lagi."


"Iya, Kak."


"Bun, Dad. Aku akan membawa Alana pergi dengan izin kalian, dulu saat kami menikah dan Alana tinggal di rumahku. Aku tidak meminta langsung kepada kalian sebagai kedua orang tuanya, sekarang izinkan aku membawa putri satu-satunya yang kalian milik untuk tinggal bersamaku." Levin menatap kedua orang tua Alana dengan rasa hormat, bagaimanapun sekarang mereka juga kedua orang tua Levin.


Arif menghela nafas. "Sebenarnya aku tidak akan mengizinkannya, tapi karena kau memintanya langsung kepada kami sebagai orang tuanya yang lebih berhak atas dirinya. Maka, Daddy izinkan, jagalah dia dengan baik."


"Terima kasih, tentu aku akan menjaganya."


Setelah berpamitan Levin dan Alana masuk ke dalam mobil, Levin langsung melajukan mobilnya.


Sepanjang jalan Alana terus senyum-senyum sendiri sambil menatap Levin yang fokus menyetir.


"Apa ada jin yang ikut denganmu?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan ke arah Alana.


"Tidak ada, memangnya kenapa?"


"Kukira kau terpengaruh oleh jin, hingga senyum-senyum seperti itu sambil menatapku."


"Enak saja."


"Lalu ...?"


"Aku senang karena kau meminta dengan berani pada kedua orang tuaku. Untuk membawaku pergi, selama ini tidak ada yang berani karena daddy sangat galak."


"Laki-laki sejati itu adalah yang berani meminta langsung kepada kedua orang tua wanita, setiap ayah juga pasti menginginkan hal yang sama, mereka galak bukan berarti tidak suka. Hanya mereka ingin lihat seberapa berani pria itu dalam meminta izin kepadanya ... jadi, pemimpin dalam sebuah rumah tangga itu perlu keberanian dan kekuatan, laki-laki yang berani meminta izin langsung adalah laki-laki hebat yang sudah pasti bisa jadi kepala keluarga yang baik."


"Jadi?"


"Karena kau dan daddy sama-sama memiliki sifat yang sama. Jadi, daddy percaya bahwa kau bisa menjagaku. Seperti dia yang selalu menjagaku."


"Mungkin."


...----------------...


"Ibu, Nenek, Kak Levin dan kak Alana sudah pulang!" teriak Alesha.


"Benarkah?"


Melda dan Nenek langsung berjalan cepat menghampiri Levin dan Alana.


"Kalian sudah kembali?"


"Iya, Bu."


"Bagaimana kabarmu? Kau sudah lebih baik setelah tinggal di sana?" tanya Nenek.


"Kabarku baik, Nek. Aku juga merasa lebih baik."


"Syukurlah ... Surti!" panggil Nenek.


Muncullah seorang wanita sekitar berusia 25-27 tahunan, dia memakai pakaian Maid berwarna hitam putih. Sepertinya dia pekerja baru.


"Iya, Nyonya besar."


"Ambilkan air minum!"


"Baik."


"Dia siapa, Nek?" Levin menatap penuh curiga kepada Maid tadi yang bernama Surti.


"Surti. dia Maid baru."


"Dia sudah bekerja sekitar satu Minggu yang lalu," timpal Melda.


"Ohh."


"Ini minumannya, Nyonya muda." Surti menyodorkan gelas di tangannya kepada Alana.


"Terima kasih."


Alana meminum minuman tersebut hingga tandas.


"Kami pamit istirahat."


"Baiklah."


Levin dan Alana menaiki anak tangga menuju kamar mereka.


BERTEMBUNG...