Learn to Love You

Learn to Love You
Part 11



Alana berbalik. "Pakaikan pakaianku! Tanganku masih cukup sakit," ujarnya.


"Tap---"


"Aku tidak suka penolakan."


Akhirnya Alana terpaksa membantu Levin memakai pakaiannya. "Sudah."


"Bagaimana dengan celananya?"


Alana melototkan matanya. "Kau pakai saja sendiri!" setelahnya Alana pergi meninggalkan kamar Levin.


Levin tersenyum miring. "Menarik."


Hari pernikahan Levin telah tiba, hari ini begitu banyak orang-orang yang hadir. Dengan membawa mobil-mobil mewah milik mereka, seluruh tamu memasuki rumah Levin yang sudah dihias sedemikian rupa sehingga terlihat begitu mewah.


Hari ini Alana akan kembali mencoba mencari tahu tentang Devano selama orang-orang sibuk dengan pernikahan Levin.


'Ini kesempatan terakhirku untuk mencari Devano' Alana mulai berjalan ke beberapa tempat yang belum dia datangi seperti halaman belakang.


Alana pergi ke beberapa ruangan di halaman belakang. Tapi dia tak menemukan di mana Devano.


"Ke mana lagi aku harus mencarinya?" Alana benar-benar bingung setiap tempat sudah dia cari tapi tak ada.


"Masih ada satu lagi, hutan yang pernah mau Levin datangi," ujarnya mengingat-ingat bahwa Levin pernah pergi diam-diam menuju hutan. Pasti ada sesuatu di sana?


Alan segera bergegas menuju hutan di belakang untuk memastikan.


Sampa di hutan sana Alana tak melihat ada apapun selain danau yang terbentang luas.


"Di sini juga tidak ada apapun, sebenarnya di mana?!" kesal Alana menarik rambutnya frustasi.


Ke mana lagi dirinya harus mencari Devano? Dirinya benar-benar tidak bisa hidup tanpa Devano.


"Kau di mana?!" tangis Alana mulai frustasi dengan keadaan ini. Dirinya sudah mencari ke semua tempat tapi orang yang dia cari tak ada. Tidak ada bukti maupun petunjuk.


Setelah puas menangis Alana teringat akan Syaqila. Dia sudah berjanji untuk membantunya kabur.


Alana segera pergi dari tempat itu.


...----------------...


"Kak ini pakaianmu!" Almahira menyerahkan pakaian Levin.


"Hmmm, Oyah suruh Alana datang ke mari!"


"Ck! Untuk apa kak? Aku heran kenapa orang-orang di rumah ini selalu saja mencari-cari gadis kelas menengah itu!" kesalnya bersedekap dada.


"Almahira. Jangan membatah!"


Almahira pun pergi untuk mencari Alana, kenapa dengan orang-orang di rumah ini? Selalu saja yang dicari Alana.


"Aku benar-benar tak habis pikir, Kenapa kak Levin menyuruhku untuk mencarinya? Memang dia siapa."


Saat Alana hendak berbelok ke arah kamar Syaqila. Dia terlebih dahulu dipanggil Almahira.


"Alan.!"


'Astaga hampir saja, mau apa dia memanggilku?' Alana pun berjalan menghampiri Syaqila.


"Iya?"


"Kau dipanggil kak Levin." ujarnya.


"Untuk apa?"


"Mana aku tahu, Dia yang memanggilmu!" ketusnya setelahnya dia pergi, Alana hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Almahira.


Alana pergi ke kamar Levin.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!"


Ceklek!


"Apa Tuan memanggil saya?" tanya Alana setelah masuk ke dalam.


"Iya, tolong oleskan ini di punggungku!"


Alana mengambil salep dari tangan Levin, saat Levin berbalik Alana terkejut melihat tato gambar harimau hitam dan Ular di punggung Levin dengan ukuran besar.


'Astaga! Dia benar-benar aneh. Tato sebesar ini di punggungnya,' ujar batin Alana.


"Kenapa kau diam? Cepat!"


"Ah, iya." Alana mulai mengoleskan salep di punggung Levin yang seperti habis terkena sayatan sesuatu.


"Sudah."


"Keluar dan bantu Syaqila bersiap!"


"Baiklah."


Alana keluar dari kamar Levin. 'Huuh! Aku akan mencari cara bagaimana caranya bisa membantu Syaqila pergi, tapi jarak dari kamar Syaqila ke bawah itu sangat tinggi. Tidak mungkin aku membawa Syaqila keluar lewat jalan utama.' Alana terus memikirkan cara bagaimana bisa membawa Syaqila pergi.


BERTEMBUNG.....