Learn to Love You

Learn to Love You
Part 38



Plak!


"Aws!" Levin mengusap pipinya. "Itu namanya kau mencari kesempatan dalam kesempitan." Alana memanyunkan b1b1rnya.


"Itu adalah salah satu bentuk usaha," jawab Levin.


"Kau benar juga."


"Apa malam ini kita akan melakukannya lagi?" Levin menaik turunkan alisnya.


"Oke."


Keduanya sama-sama tertawa, obrolan yang konyol sekali di sore hari, tapi ini menjadi keindahan tersendiri bagi keduanya di sore hari yang begitu cerah ini. Secerah tawa keduanya.


Di balik pohon.


"Kalian boleh tertawa bahagia hari ini, tapi akan aku pastikan hari-hari berikutnya hanya akan ada kesedihan."


Hap.


"Levin!"


"Hemm?"


"Kenapa kau selalu memelukku tiba-tiba? Kau ingin membuat jantungku lepas, hah?!"


"Iya."


Cup.


"Ihh!"


Alana menggeliat kegelian saat Levin terus menc1uminya.


"Levin, hentikan!"


Di balik celah pintu yang terbuka, terlihat kedua bola mata sedang melihat aktifitas Levin dan Alana.


'Untuk sekarang kubiarkan kebahagiaan menyelimuti kalian, tapi jika saatnya tiba. Aku akan memberikan duka yang membuat kalian menangis setiap hari.'


"Le---" Alana menghentikan ucapannya saat melihat ke arah pintu, dan melihat sepasang mata sedang mengintipnya.


"Kenapa?"


"I--itu. Tadi, aku seperti melihat sepasang mata di pintu." Alana terus memperhatikan celah pintu yang terbuka.


"Sepasang mata? Di mana?" Levin mengalihkan pandangannya ke arah pintu.


"Itu di sana! Tapi kenapa sekarang tidak ada?"


"Mungkin kau salah lihat."


"Mu--mungkin, tapi entah kenapa aku seperti melihatnya tadi."


"Sudahlah, kau hanya salah lihat."


Cup.


"Apa salahku?" tanyanya tanpa dosa.


Alana menatap tajam Levin. "Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau jatuh cinta padaku?" tanyanya dengan tatapan menggoda.


"Ck! Tidak akan."


Levin mencubit pipi Alana."Jangan begitu, jika suatu saat kau jatuh cinta padaku. Jangan salah aku."


"Tidak akan."


Alana pergi meninggalkan Levin. Levin hanya tertawa melihat perubahan ekspresi Alana.


...****************...


"Sayang."


"Mas, apa-apaan. Sih? Ini di dapur banyak orang, jangan begini." bisik Anaya berusaha melepaskan pelukan Arif


"Biarkan saja."


Para Maid yang melihat kemesraan tuan dan nyonya-nya hanya menahan senyum, mereka ini walaupun sudah tua tetap romantis.


"Ekhem!"


Arifmelepaskan pelukannya, dan menoleh ke arah sumber suara begitu juga Anaya.


"Kenapa, Rex. Menc1um-c1um aroma-aroma akan memiliki adik baru." Rex menyenderkan tubuhnya di tiang.


"Rex!"


"Apa? Aku hanya menebak saja."


"Kau sadar usiamu sudah berapa? Dan kami ini berapa? Itu mustahil untuk kami memiliki anak lagi, memiliki anak tiga saja sudah membuat Daddy pusing. Bagaimana jika nambah satu!" ketus Arif.


"Alah! Nenek-nenek saja ada yang memiliki anak diusianya yang tidak lagi muda."


"Kau samakan kami ini dengan lansia, begitu?!" Arif menatap tajam Rex.


"Hehehe, tidak. Daddy dan Bunda itu bukan lansia ... tapi, lanjut usia."—Rex langsung berlari.


"Rex!" teriak Anaya dan Arif anaknya yang satu ini benar-benar.


Dua minggu berlalu, hari ini Levin dan Alana akan kembali pulang ke rumah Levin, selama Alana di sini dia sudah merasa lebih baik. Dan mulai menerima keadaan.


"Ayo, Alana! Kita harus cepat." Levin langsung menarik koper keduanya, bukan apa-apa. Selama Levin tinggal di rumah Arif dia tidak bekerja. Sudah pasti pekerjaannya menumpuk sekarang.


Para bodyguard langsung membantu Levin memasukkan koper ke dalam bagasi mobil.


"Dad, Bun. Alana pamit." Alana memeluk kedua orang tuanya, rasanya sudah cukup dia bisa menghabiskan waktunya bersama ibu dan ayahnya. Dia harus segera pulang dan kembali menjadi nyonya Levin Christiansen.


BERTEMBUNG...