
"Fa-fayra ko-koma?" gumam seseorang dari arah belakang.
Mereka semua langsung menoleh kearah belakang, dimana seorang wanita datang menghampiri. Mereka menatap satu sama lain dengan tatapan yang sedikit aneh ketika melihat wanita itu.
"Kak Chelsea? Kok Kakak pakai baju bebas?" tanya Nata, bingung melihat penampilan Chelsea yang sedikit berbeda.
Chelsea melihat penampilannya sendiri, kemudian tersenyum sambil berkata. "Hehe, ya nih. Tadi ada acara teater kecil dikelas, jadi aku pakai baju bebas."
"Ohya, tadi apa yang aku dengar benar, jiika Fayra saat ini sedang mengalami koma? Kok bisa?" sambung Chelsea.
"Kami kurang tahu kak, justru itu kami mau ke rumahnya menanyakan keadaan Fayra pada orang tuanya. Siapa tahu kami boleh menjenguk Fayra di rumah sakit." jawab Sheila, sedikit cuek.
"Kalau begitu aku ikut ya ...." ucap Chelsea, antusias.
"Gua juga juga." sahut serentak sahabat Ace bersama-sama.
Ketiga sahabat Fayra terdiam sejenak menatap satu sama lain untuk konfirmasi, tak lama mereka kembali menatap semuanya dan mengangguk kecil.
"Ya udah boleh aja, tapi aku mau pesan grab car dulu ya." ucap Arsyi, sambil mengeluarkan ponselnya.
"Ngapain? Kan ada kita, lagi pula kita bawa motor kali. Kalian cuman tinggal duduk manis unjukin jalan, selesai." jawab Nicho, spontan sambil mengerutkan keningnya.
Semua pun terdiam, ada rasa kegugupan diantara mereka karena mereka sudah mulai menyadari jika ada perasaan yang tidak bisa membuatnya nyaman jika harus saling berdekatan.
"Lah, malah pada bengong! Tihati, kesambet setan lewat, baru tahu rasa lu. Udahlah Ayang, ayo kita duluan, biarkan mereka memilih pasangannya masing-masing."
Nicho refleks menggenggam tangan Sheila dan pergi meninggalkan mereka semua, dimana Sheila memekik keras minta dilepaskan. Cuman, Nicho enggan mau melepaskannya.
Lagi-lagi Sheila di buat kesal, bahkan jantungnya memompa begitu cepat ketika tangannya berhasil digenggam oleh pria untuk pertama kali.
Chelsea terdiam matanya sedikit melirik ke arah Tian, tanpa berlama-lama akhirnya Tian mengajukan diri untuk memboncengnya. Chelsea hanya tersenyum mengangguk, lalu mereka pergi menyusul Nicho yang sudah berada di ujung.
Kini tinggallah mereka berempat, Eric menawarkan diri kepada Nata untuk ikut bersamanya. Nata mengangguk kecil, berbeda sama Louis ang membolakkan matanya.
Sebenarnya Nata menerima tawaran Eric lantaran hatinya selalu saja seperti sedang melakukkan lari maraton ketika berada didekat Louis.
Namun ketika mereka berdua mau pergi menyusul yang lain, Louis malah membantah keras dan segera menarik Nata agar ikut bersamanya.
Eric sama Arsyi langsung berteriak, mereka tidak terima akibat ulah Louis membuat mereka terjebak seperti ini. Awalnya Arsyi senang, meskipun Louis kaku tetapi dia lebih nyaman jika bisa ikut bersamanya, bukan dengan Eric yang hanya membuatnya darah tinggi.
Ini yang tidak Nata sukai, dia hanya bisa terdiam ketika tangan Louis menariknya dan rasanya berat sekali untuk menolaknya. Ditambah lagi jantungnya seakan-akan ingin segera melompat keluar dari tempatnya.
Sedangkan Eric dan Arsyi menatap tajam sambil kedua jarinya saling menunjuk matanya sendiri. Benar-benar persis seperti tikus dan kucing ketika lagi bermusuhan.
Entahlah, mereka memang tidak pernah akur bahkan mereka tidak seperti yang lain yang mulai terhanyut didalm perasaan. Jadi mau tidak mau, Eric terpaksa membonceng Nenek lampir yang akan selalu menghantuinya sepanjang jalan.
Mereka semua mengendarai motornya saling beriringan, dimana motor Nicho dan Sheila berada di paling depan untuk menunjuk arah. Berbeda dengan motor Eric dan Arsyi yang berada di belakang, lantaran mereka sepanjang jalan terus saja mengoceh sampai membuat pengguna jalan lainnya sedikit terganggu.
Hampir 30 menit lamanya mereka telah sampai didepan pagar tinggi yang menjulang keatas, kemudian para wanita turun dari motor untuk mendekati pagar lalu segera bertanya pada salah satu penjaga disana.
Untungnya, salah satu penjaga memang sudah mengenal sahabat Fayra, sehingga mereka diperbolehkan masuk untuk menemui seseorang yang ada didalam rumah.
Para pria bergegas memakirkan motornya dengan rapi dan menyusul para wanita yang sudah menginjakkan kaki dipintu utama.
Sheila menekkan tombol bel yang berada disamping pintu utama, selang beberapa menit seorang pembantu datang membukakkan pintu.
"Permisi, Bi." ucap Sheila sedikit tersenyum.
"Eh, Non Sheila. Ayo mari masuk, Non. Tumben rombongan kesininya." jawab seorang pembantu.
Mereka semua menginjakkan kaki masuk kedalam rumah Fayra yang terbilang cukup besar. Perlahan mereka berjalan kearah ruang tamu mengikuti sang Bibi, setelah sampai mereka semua duduk bersama.
"Maaf, Bi. Tujuan kami kesini bukan untuk bertamu atau sekedar mampir, cuman kedatangan kami kesini mau menanyakan apakah kedua orang tua Fayra ada dirumah?" ucap Tian to the point.
Bibi menatap semuanya, matanya sedikit berkaca-kaca ketika anak dari majikannya mengalami nasib yang sangat malang. Sang Bibi menghela napasnya perlahan, kemudian menjelaskan pada mereka.
"Kedua orang tua Non Fayra tidak ada dirumah, Den. Mereka sibuk mengurus Non Fayra yang sampai detik ini belum ada perkembangan di rumah sakit." ucap Bibi lirih.
Mereka menyimak sambil menatap wajah sang Bibi dan kembali menatap semuanya. Sampai akhirnya Sheila kembali melontarkan sebuah pertanyaan yang Bibi juga tidak mengetahui tentang kejadian yang sebenarnya, sehingga Fayra bisa sampai mengalami koma seperti itu.
Hampir 5 menit mereka berbincang, tetapi tidak dapat informasi tentang Fayra. Sang Bibi hanya bisa memberitahu dimana Fayra dirawat. Dengan begitu mungkin mereka bisa langsung menyanyakan hal yang lebih spesifik pada kedua orang tua Fayra.
Tanpa menunggu lama lagi mereka segera berpamitan untuk pulang, sang Bibi hanya bisa mengangguk kecil sambil tersenyum. Lalu mengantarkan mereka semua sampai kedepan pintu utama.
Namun didalam perjalanan menuju rumah sakit, Tian segera menghadang motor mereka semua dan membuatnya berhenti. Awalnya mereka bingung kenapa Tian harus memberentikan laju motor mereka.
Ternyata Tian menyampaikan jika mereka tidak bisa pergi dalam keadaan yang masih menggunakan seragam sekolah.
Jadi mau tidak mau mereka harus kembali ke rumah lebih dulu dan akan kembali bertemu tepat jam 5 sore di salah satu Cafe yang mengarah ke rumah sakit.
Berkat kesepakatan bersama akhirnya semuanya berpencar, berpisah untuk segera mengantar para wanita kembali ke rumahnya dan akan menjemputnya.
Tepat pukul 5 sore, para pria sudah menjemput wanitanya, mereka semua berkumpul di salah satu Cafe. Tak selang beberapa lama motor mereka sudah tiba kecuali Eric, dimana Eric masih meninggu Arsyi yang sedang bersiap-siap lantaran Arsyi ketiduran saat nonton film drakor kesukaannya.
"Astaga, ini cewek lama amat sih dandannya. Mana semuanya udah ngumpul lagi." guman kecil Eric menatap ponselnya yang selalu berdering, karena semua temannya sudah menanyakan posisinya saat ini.
Arsyi turun dari atas tangga dalam keadaan tergesa-gesa, bahkan sampai tidak menyadari bahwa masih ada satu anak tangga yang belum dia lewati, Jadi mau tidak mau Arsyi kehilangan keseimbangan membuat Eric refleks berlari menangkap tubuhnya.
Kini posisi mereka saling berpelukan satu sama lain, dimana kedua mata mereka membola cukup besar bersamaan dengan suara detak jantung yang saling beradu.
Tubuh mereka menegang, bagaikan sebuah patung. Belum lagi mereka seperti bisa merasakan suara detakan jatung masing-masing yang saling berdebar.
Ekhem ...
Suara deheman seseorang berhasil membuat mereka segera menjauh dengan perasaan yang sedikit gugup dan salah tingkah.
Akan tetapi tanpa mereka kethui pelukan hangat ini, malah terasa nyaman untuk mereka. Berbeda jika mereka dalam keadaan tersadar pasti akan kembali bertengkar.
"Rupanya Anak kesayangan Mamih diam-diam sudah memiliki kekasih." goda Mamihnya Arsyi.
"Yak, apaan sih! Dia itu teman sekolah Arsyi, Mi. Bukan kekasih, paham!" sahut Arsyi kesal.
"Hem, masa? Kok Mamih enggak percaya ya, setahu Mamih diantara wanita dan pria itu tidak ada kata teman, yang ada hanyalah cinta." ledek Mamihnya Arsyi sambil berdiri dan melipat kedua tangannya di dada.
Eric yang masih merasakan hatinya masih berdebar cukup hebat, dia cuman bisa menundukkan kepala akibat rasa malu. Wajah Eric kian memerah, lantaran baru kali ini Eric bisa merasakan hatinya berdebar sangat dahsyat.
Ya memang sih, Eric dan Nicho 11 - 12 jadi mereka seperti menemukan tempat baru yang spesial untuk mereka kembali berlabuh, menyosong masa depan yang lebih indah bersama seseorang yang nantinya akan berhasil membuat kedua buaya ini tersadar.