Learn to Love You

Learn to Love You
Part 24



"Eughh ...." Alana membuka matanya perlahan, dia melihat sekeliling ada Levin yang tengah menatapnya.


Alana bangkit dari tidurnya dibantu Levin, Alana menyandarkan kepalanya di kepala ranjang.


"Apa kau perlu sesuatu?" tanya Levin lembut.


"Ti--tidak, aku hanya merasa sedikit pusing ... apa yang terjadi? Aku tidak mengingatnya," ujar Alana lirih.


"Tadi kau pingsan."


"Apa! Kenapa aku bisa pingsan?"


"Tadi dokter mengatakan ...." Levin menggantung ucapannya.


"Apa yang dikatakan dokter?" Alana menatap Levin penuh tanya.


Levin mulai mengingat beberapa menit lalu saat dokter memeriksa keadaan Alana yang tiba-tiba jatuh pingsan.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Levin.


"Dia baik-baik saja."


"Lalu mengapa dirinya bisa pingsan?"


"Tidak ada, itu hanya efek dari kehamilannya."


Deg!


"A--apa! Alana, hamil?!" kaget Levin.


"Betul, selamat ya. Usia kandungannya memasuki dua minggu ... harap Tuan menjaganya dengan baik, karena masih sangat rentan mengalami keguguran," jelas sang dokter.


"Baik, terima kasih."


"Sama-sama, saya permisi."


Levin mengangguk, mendengar kabar seperti ini antara senang dan terkejut yang Levin rasakan ... dirinya akan menjadi seorang ayah? Astaga! Ini seperti mimpi bagi Levin.


Alana memegang perutnya. "A--aku sedang mengandung?" Alana meraba-raba perutnya yang masih rata, sulit sekali untuk mendeskripsikan perasaannya saat ini.


"Iya, itu yang dokter katakan tadi."


'Aku mengandung anak Levin? Aku harus senang atau sedih sekarang.' batin Alana merasa ini seperti mimpi.


"Apa kau tidak senang mengandung anakku?" tanya Levin yang melihat Alana seperti murung.


"Tidak, aku hanya tidak menyangka saja. Aku akan menjadi seorang ibu."


"Aku pun begitu, ini rasanya seperti mimpi ... apakah aku siap menanggung tanggung jawab sebesar ini?"


"Mau bagaimana lagi, Tuhan sudah mempercayakan bayi kecil ini kepada kita."


"Kau benar."


Levin memeluk Alana, tangan satunya mengelus perut rata Alana.


'Apakah aku harus mulai belajar untuk menerima Levin? Mau bagaimanapun bayi ini adalah anak kami, dia tidak bersalah dalam hal apapun yang aku maupun Levin hadapi.'


......................


Tiba-tiba ponselnya berdering.


Kim.


Ternyata komandan Kim yang menelpon.


"Halo, Kim. Ada apa?"


"Halo, Rif. Aku baru mendapatkan kabar dari mata-mata yang aku kirim ke rumah Levin. Bahwa saat ini Alana sedang mengandung cucumu."


"Apa!" Arif langsung bangkit dari duduknya mendengar kabar bahagia ini.


"Iya, Rif. Kau akan segera memiliki seorang cucu."


"Aku tidak tahu harus mengatakan apa, anak perempuan kecilku kini akan menjadi seorang ibu?"


"Benar sekali, selamat untukmu."


"Terima kasih."


Tut.


Arif dengan berbinar-binar langsung memanggil Anaya,Alex dan Rex.


"Ada apa, Dad?" tanya Alex setelah mereka tiba di ruang tamu.


"Daddy mendapat telpon dari komandan Kim, dia mengatakan bahwa saat ini Alana tengah mengandung cucu pertama kita sayang." Arif langsung memeluk Anaya.


"Benarkah itu?" tanya Anaya tak kalah senang.


"Tentu."


"Astaga! Aku akan jadi nenek." Anaya kembali memeluk Arif dengan erat, rasanya mereka benar-benar senang dengan kabar ini.


"Wah, kita punya ponakan!" girang Rex.


"Tapi, Dad. Apa tidak sebaiknya kita menemui kak Alana? Dia pasti akan sangat senang bertemu dengan kita," ujar Rex.


"Kau benar Rex, tapi masalahnya komandan Kim masih belum bisa mencari waktu yang tepat untuk kita bertemu dengan Alana."


"Sampai kapan kita akan menyembunyikannya rahasia sebesar ini dari kak Alana?"


"Ntahlah, Daddy pun tidak tahu."


"Semoga saja disaat Alana mengetahui segalanya, dia tidak marah pada kita," lirih Anaya.


"Itu yang aku harapkan sayang."


...****************...


"Si4l! Rencana kita gagal lagi, dan sekarang masalah kita bertambah ... Alana hamil, itu artinya kita akan semakin sulit untuk menyingkirkan Alana!" kesal Rendra.


"Kau benar, kita akan semakin sulit untuk menyingkirkan Alana kalau begini ... sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Almahira.


"Kita harus bisa menyingkirkan bayi dalam kandungan Alana, kalau perlu dengan Alana sekaligus."


"Aku setuju."