
Ketika mereka kembali menghadapi permasalahan rumah tangga, maka tandanya mereka kembali digunjang oleh munculnya pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menguji kekuatan cinta mereka berdua.
...*...
...*...
Jam sudah menunjukkan pukul 7, dimana saat ini Ace sedang berada di dalam kamarnya. Awalnya sahabat Fayra dan Ace sudah memiliki rencana untuk merayakan hari jadian mereka.
Namun, acara tersebut harus ditunda, karena Ace merasa pusing dan sedikit kurang enak badan. Kemungkinan besar Ace masuk angin, akibat perjalanan dari sekolah menuju rumah dalam keadaan basah kuyup sambil mengendarai mogenya.
Mau tidak mau, Fayra segera memberikan kabar ke semua sahabatnya dan juga Ace. Fayra meminta mereka untuk menundanya beberapa hari kedepan, untungnya mereka juga mengerti tentang kejadian tadi siang di sekolah, kecuali Arsyi.
Saat ini seharusnya Ace sudah turun dari kamarnya untuk menikmati makan malam bersama istri dan juga kedua orang tuanya. Cuman karena Ace masih sediki pucing, dia memilih diam dikamar.
Setelah semua selesai makan malam, Fayra meminta kepada Mommy Rosa agar mau mengajarinya memasak Salmon Cream Soup, karena ini merupakan makanan favorit suaminya ketika dia sedang sakit.
Hampir 30 menit, akhirnya Fayra pun bisa memasak makanan kesukaan suaminya. Ya walaupun rasanya tidak selezat masakan mertuanya.
Namun, rasanya juga tidak seburuk waktu pertama kali dia memasak nasi goreng untuk suaminya.
Fayra memeluk Mommy Rosa sambil mengucapkan terima kasih, lantaran dia sudah sabar untuk mengajarinya.
"Ya sudah sana antarkan soup itu ke suamimu, kasian dia. Bisa-bisa nanti keburu sekarat, terus kamu jadi janda kembang. Mau?" canda Mommy Rosa.
"Mommy, apaan sih! Amit-amit 7 turunan. Hus, hus, hus. Jauh-jauh deh!"
Tangan Fayra mengetuk-ngetuk kepalanya, kemudian tangannya berpindah mengetuk meja dapur berulang kali. Sedangkan Mommy Rosa hanya bisa terkekeh melihat wajah panik menantunya.
"Cielah yang udah mendapatkan cinta suaminya. Pasti sebentar lagi Mommy akan mendengar kisah perjuangan seorang suami untuk mendapatkan haknya."
"Dimana ketika dia ingin mendaki sebuah gunung kembar, dia harus melalui hutan yang lebat terlebih dahulu. Kemudian melewati lembah yang sangat becek."
"Dan disaat itulah dia akan akan tahu, betapa indahnya surga dunia yang baru diketahuinya. Aduh, kenapa jadi Mommy yang kepengen sih, hihi ...."
Mommy Rosa berbicara dengan perasaan yang sangat menghayati, sehingga bayangan akan wajah Fayra dan Ace malah terlintas dipikiran.
Mommy Rosa terkekeh, rasanya ingin sekali dia melihat secara live, bagaimana proses pembuatan cucu pertamanya. Cuman kembali lagi, semua itu tidak mungkin. Apa lagi itu menyangkut rahasia produksi perusahaan masing-masing.
Fayra yang mendengar kisah sekilas dari mertuanya, malah membuat dirinya seketika menjadi bingung. Lalu Fayra melontarkan beberapa pertanyaan yang mengharuskan Mommy Rosa menarik napasnya dalam-dalam.
"Kepengen apa, Mom?"
"Terus itu kisah seorang suami, maksudnya gimana? Apa suaminya seorang pendaki? Tapi setahu Fayra tidak ada gunung kembar deh,"
"Bahkan pendaki-pendaki pun yang pernah sampai dipuncak, mereka hanya akan melihat betapa indahnya pemandangan alam. Bukan indahnya surga."
"Jika mereka bisa melihat surga seperti apa yang Mommy katakan, itu tandanya mereka sudah meninggal dong?"
"Astaga, Mommy! Ternyata diam-diam Mommy suka melihat kisah horor soal pendakian?"
Ya, memang sih Fayra itu tipe gadis yang masih lugu. Akan tetapi, diusianya yang sudah memasuki masa remaja. Seharusnya dia sudah mengerti kemana arah pembicaraan mertuanya.
"Aishh, sudahlah. Cepat antarkan soup itu, Mommy mau dinas dulu sama Daddy. Udah enggak tahan, percuma juga kode-kode kamu, yang ada Mommy sendiri yang kepengen. Dahlah, bye!"
Mommy Rosa langsung meninggalkan Fayra yang masih terdiam membeku, dia kembali mencerna ucapan mertuanya. Hanya saja Fayra masih tidak paham dengan semuanya.
"Dinas sama Daddy? Maksudnya gimana sih, kok aku jadi bingung? Tapi, tahu argh. Malah jadi pusing, kan! Udahlah mending ke kamar Banny aja deh, kasihan juga dia belum makan."
Fayra membawa nampan tersebut, lalu pergi ke kamar suaminya dengan sangat hati-hati. Disela-sela perjalanan menuju kamar suaminya, beberapa kali Fayra mencium aroma dari soup.
Wajah Fayra terlihat begitu bahagia, dia bangga dengan apa yang sudah dia lakukan hari ini. Meskipun dia masak dengan campur tangan mertuanya, akan tetapi dia tetap tersenyum bangga pada dirinya sendiri.
"Akhirnya aku bisa juga masak, walau dibantu Mommy hihi ... Semoga saja, kali ini Banny menyukai masakanku." gumam batin Fayra sambil menaiki anakan tangan.
Sesampainya di depan kamar, Fayra menaruh nampan itu sekilas di dekat meja bupet. Kemudian membuka pintu dan kembali membawanya masuk kedalam kamar.
"Honey, kamu bawa apa?" ucap Ace, penasaran
"Ini aku buatkan soup kesukaan Kakak, tadi aku minta ajarin Mommy kok. Jadi, rasanya tidak akan seburuk saat pertama kali aku memasak nasi goreng hehe ...." ucap Fayra sambil menaruh nampan tersebut di dekat meja yang ada di samping ranjang.
Ace hanya bisa melirik wajah Fayra yang begitu bahagia sudah bisa membuatkan makanan kesukaannya, cuman ada sedikit keraguan didalam hati Ace.
"A-apakah benar apa yang dibilang sama Fayra? Karena pertama kali, saat aku mencoba masakannya rasanya benar-benar tidak enak. Bahkan lidahku sampai mati rasa. Dan ini?" gumam Ace didalam hatinya.
Fayra duduk menatap wajah suaminya, dia paham jika saat ini pasti Ace seperti memiliki trauma kecil terhadap masakan pertamanya. Jadi, Fayra harus berusaha kuat bagaimana caranya agar suaminya mau memakannya tanpa rasa ragu.
"Tenang Bunny, ini Mommy yang bantuin aku masak kok. Jadi semua bumbunya Mommy yang kasih tahu berapa takarannya, tidak seceroboh saat pertama kali aku masak." ucap Fayra tersenyum.
Beberapa detik, Ace tersenyum kecil dan mengangguk. Walaupun dia sedikit ragu, berkat senyuman diwajah istrinya Ace tidak mau kembali mengecewakannya. Enak tidak enak Ace harus bisa melawannya, agar tidak kembali menyinggung perasaan istrinya seperti waktu itu.
"Aku mau makan tapi dengan 2 permintaan, bagaimana?" ucap Ace, sambil menaik-naikan alisnya.
"Astaga, Kakak. Mau makan aja ribet banget sih, udah kaya Tuan Jin aja pakai permintaan-permintaan!" jawab Fayra, kesal.
"Ya sudah kalau enggak mau, aku enggak akan ma---"
"Oke! Apa syaratnya?" sambung Fayra, sedikit gondok melihat aksi suaminya yang mulai kembali menyebalkan. Padahal dia sedang sakit, tapi sifat menyebalkannya masih melekat erat didalam dirinya.
Ace yang merasa menang, dia langsung tersenyum miring menatap istrinya. Sehingga Fayra merasa sedikit merinding ketika melihat wajah suaminya.
Dan benar saja, 2 permintaan Ace berhasil membuat Fayra membuka mulutnya sangat lebar bersamaan dengan kedua bola matanya yang hampir keluar dari tempatnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...