Learn to Love You

Learn to Love You
Part 19



Seminggu berlalu dan selama itu Devano terus mencari tahu tentang Levin. Di mana dia tinggal, di mana alamat perusahaannya. Bahkan tentang hal-hal pribadi Levin semua dia cari tahu.


Devano harus bisa menemukan alamat Levin. Agar dia bisa membawa Alana pergi, dan rencananya untuk menguasai harta Arif lewat Alana berjalan sukses.


Saat ini Devano sedang mengotak-atik laptopnya, dia mencari tahu tentang Levin lewat internet.


Profil lengkap pengusaha yang bernama Levin Christensen.


Itulah yang Devano ketik di kolom pencarian.


"Mana-mana ...?"


Devano terus men-scroll ke bawah saat muncul beberapa artikel tentang kesuksesan Levin.


"Dapat ... yess!" girang Devano saat menemukan profil lengkap Levin.


"Yang aku butuhkan adalah alamat rumahnya, semoga saja dia juga menyertakan alamat rumah miliknya."


Devano terus membaca bio data Levin, sampai dia menemukan apa yang dia cari.


"Ini dia ... aku mendapatkan alamatnya, Alana aku datang," ujar Devano dengan senyuman liciknya.


...----------------...


"Nek, ibu!" panggil Levin.


"Iya, ada apa?" tanya Melda.


"Aku tidak melihat Alana sejak pagi, apa kalian melihatnya?"


"Alana ada di dapur, dia sedang memasak," jawab Nenek.


Levin langsung pergi menuju dapur, sampai sana dia melihat Alana sedang memasak dengan lihai.


"Kenapa kau memasak, hmm?"


Alana terkejut dengan kehadiran Levin tiba-tiba.


"Kau membuatku terkejut saja ..., tidak apa-apa aku hanya ingin makan masakanku sendiri," jawabnya.


"Apa yang kau masak?" Levin mendekatkan wajahnya ke wajah Alana.


Alana memberikan senyuman palsu. "Aku memasak Bom!" sinisnya kembali melanjutkan memasak.


Sedangkan Levim hanya tersenyum. "Kalau kau ingin membunuh keluarga ini. Kau jangan memasaknya, tapi cukup letakkan bom itu di dalam rumah dan tinggal kau ledekan ... jika kau memasaknya, maka bom ini akan meledak tepat di wajahmu," ujarnya.


Pletak!


"Aaa!"


Alana langsung bersembunyi di belakang Levin. Levin hanya tertawa kecil melihat tingkah Alana, itukan hanya minyak yang terkena air.


"Kalau kau takut dengan minyak yang meletup, maka jangan memasak. Seolah-olah kau tidak takut!" ketus Levin lalu mematikan kompornya.


"Aku tidak takut, siapa bilang aku takut ... a--aku hanya terkejut," ujarnya kembali melanjutkan memasak.


Levin hanya tersenyum sambil mengangguk.


"Ekhem ...! Seharusnya aku tidak pergi ke dapur. Kalau ujung-ujungnya harus melihat adegan romantis seperti itu, aku yang tidak punya pasangan merasa iri," ujar Alesha.


"Kalau begitu aku akan mencarikanmu jodoh," ujar Levin.


"Eh, tidak-tidak! Aku masih ingin sendiri." potong Alesha.


"Kalau begitu untuk apa kau berada di sini?"


"Aku hanya ingin mengambil gula!" ketus Alesha.


......................


"Jadi ini rumah Levin, begitu mewah. Tidak kalah dengan mansion Alana." Devano menatap penuh kagum rumah milik Levin yang ternyata begitu mewah.


"Sepertinya aku harus mengubah rencanaku."


Devano terus penuh rencana.


"Maaf, Nona. Ada seseorang yang ingin bertemu," ujar salah satu Maid.


"Denganku?"


"Benar."


'Siapa yang ingin bertemu denganku?'


"Baiklah, aku akan segera turun."


Alana menaruh beberapa barang yang sedang dia rapikan.


"Akgh! Siapa yang menaruh bunga mawar di sini? Tanganku jadi terluka!" kesal Almahira.


Almahira melihat Alana pergi keluar rumah.


Almahira diam-diam mengikuti ke mana Alana pergi.


Alana terus berjalan keluar gerbang untuk menemui orang yang mencarinya, tapi siapa? Bahkan tidak ada yang tahu di mana dirinya selain komandan Kim.


Apa mungkin itu komandan Kim?


"Maaf, apa kau yang mencariku?" tanya Alana setelah berhadapan dengan sosok bertopi dan memakai masker.


"Iya, aku yang mencarimu."


'Su--suara itu.'


Alana rasanya kenal dengan suara itu, apakah dia ....


"Ka--kau ... De--vano"


Sosok itu tersenyum dan melepaskan masker dan topinya.


Betapa terkejutnya Alana. Ternyata dia sosok yang selama ini Alana rindukan, yang Alana cari-cari selama ini kini ada di depannya.


"Alana."


"Devano." Alana segera berhambur memeluk Devano, dia benar-benar merindukan Devano Bagaimana ini mungkin.


"Aku juga merindukanmu." Devano membalas pelukan Alana dengan erat, tapi bukan pelukan rindu yang sama seperti Alana. Melainkan pelukan penuh hasrat sesuatu.


"Astaga! Dia berpelukan dengan laki-laki lain di belakang kakakku!" geram Almahira.


"Aku akan memberi tahu kak Levin tentang ini."


"Devano bagaimana kau bisa ...? Bukankah kau berada dalam bahaya, dan aku datang ke sini untuk menyelamatkanmu," ujar Alana merasa tak percaya dengan apa yang dia lihat, Devano baik-baik saja. Tapi kenapa komandan mengatakan bahwa Devano dalam bahaya.


"Kau benar Alana, tapi aku berhasil melarikan diri. Levin dia benar-benar jahat Alana. Aku diperlakukan sangat tidak baik," lirih Devano, tentu saja dia berbohong. Selama ini dia baik-baik saja. Tidak ada yang terjadi.


"Apa? Apa yang Levin lakukan?!" tanya Alana khawatir.


"Banyak hal Alana, dia melakukannya dengan sangat kejam padaku."


"Dia itu benar-benar, ya!" kesal Alana, Alana sudah terkena omong kosong Devano kembali.


'Alana itu memang bodoh, mudah sekali untukku tipu. Ini yang aku suka.' batin Devano tersenyum puas, Devano menanamkan rasa benci di hati Alana untuk Levin agar bisa memuluskan rencana terselubungnya.


"Kalau begitu ayo kita pergi!" ajak Alana.


"Tidak!" tolak Devano.


"Kenapa ...? Aku datang kemari untukmu, sekarang kau sudah kembali. Untuk apa aku masih di sini? Pernikahanku dengan Levin hanya sebuah kesepakatan saja, pernikahan ini tidak berarti. Aku hanya ingin denganmu," ujar Alana kembali menangis.


"Hei, dengarkan aku! Kau harus tetap di sini." Devano menangkup pipi Alana.


"Untuk apa aku tetap berada di sini?"


"Alana pernikahanmu dengan Levin bukan main-main, kau sendiri yang mengatakan itu ... berpisahlah dengan cara baik, bukan dengan pergi diam-diam seperti ini. Levin akan salah paham dan akan menuduhmu yang tidak-tidak nanti."


"Tapi Devano. Aku---"


"Alana. Kau percaya padaku?" Alana mengangguk.


"Maka dari itu dengarkan apa kataku, kita harus masukkan Levin ke dalam penjara. Karena apa yang sudah dia lakukan padaku selama ini, dan bisnis gelap yang dia jalankan."


"Apa harus?"


"Harus Alana, ini adalah kejahatan."


Devano ingin menjebloskan Levin ke dalam penjara dengan tuduhan palsu, jika Levin di penjara maka tujuannya akan tercapai.


"Aku---"


"Kau harus bisa Alana, kejahatan yang Levin lakukan tidak boleh terus-menerus dibiarkan."


"Untunglah kak. Kau sudah pulang," ujar Almahira.


"Ada apa?"


"Kak, Alana itu sudah menghianatimu."


"Menghianati bagaimana?"


"Aku tadi melihat Alana bertemu dengan seorang pria, dan kau tahu apa yang membuatku tak habis pikir? Dia berpelukan mesra dengan laki-laki itu," ujar Almahira.


"Almahira---"


"Kak, untuk kali ini saja coba kau percaya padaku. Aku memang tidak menyukai Alana, tapi aku tidak akan mengatakan ini untuk membuatmu benci padanya. Ini benar."


"Aku sendiri yang bertanya padanya."


Levin pergi menuju kamarnya untuk menanyakan apa yang dikatakan Almahira.


"Sekarang kita lihat. Apa yang akan terjadi setelah kak Levin mengetahui yang sebenernya." Almahira tersenyum licik.