
Inilah yang Ace takutkan, cuman bagi Ace tidak masalah yang terpenting dia sudah bisa melihat istrinya kembali tersadar. Walaupun Ace harus menerima kemarahan, kecuekan dan juga kekecewaan istrinya.
Selang berapa menit Fayra ingin sekali ke kamar mandi, cuman karena kondisinya belum pulih benar membuat dia sedikit kesulitan.
Namun Ace yang selalu memperhatikan gerak-gerik istrinya, mencoba untuk berkomunikasi. Walaupun hasilnya menyakitkan, tetapi Ace harus bisa kembali mengembalikan Fayra yang sangat mencintainya.
"Kamu kenapa, Sayang? Kok gelisah banget tidurnya?" ucap Ace, penuh kelembutan.
Mendengar penuturan kata dari sang suami yang sangat lembut, Fayra refleks membolakan kedua matanya dalam keadaan posisi membelakangi Ace.
"Sayang, apa bisa aku bantu?" ucap Ace, sambil jalan dan berdiri tepat didepan Fayra.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri." jawab Fayra, cuek. Dia berusaha perlahan bangkit dari ranjangnya, kemudian duduk secara perlahan.
Disaat Fayra mau menuruni bangkar, tiba-tiba saja kakinya masih terasa lemas dan hampir saja terjatuh jika Ace tidak langsung menangkapnya.
Suara kebisingan itu, berhasil membangunkan kedua orang tua Fayra yang tertidur cukup nyenyak. Mereka tidak menyangka jika saat ini anaknya sudah tersadar dari komanya.
Mereka masih terlihat tercenga, melihat Ace yang baru saja mencoba untuk mendudukan Fayra kembali keatas bangkarnya.
"Fa-fayra? Ka-kamu su-sudah sadar, Nak?" gumam kedua orang tuanya secara bersamaan.
Ace dan Fayra yang mendengar suara itu, segera menoleh. Mereka tersenyum kecil, dimana tanpa basa-basi Amma Trysta berlari memeluk putri kesayangannya.
"Astaga, Sayang. Akhirnya kamu bangun juga, hiks ... Amma kangen Fayra, jangan kaya gini lagi ya Sayang. Amma enggak mau lihat Fayra tidur terus, jadi Amma mohon. Fayra cepat sembuh ya, Amma enggak mau kehilangan Fayra hiks ...."
Amma Trysta memeluk putrinya cukup erat, beberapa kali dia meraup wajah Fayra dan menciumnya. Rasa senang dan juga bersyukur membuat Amma Trysta, tak henti-hentinya selalu memeluk putrinya.
Appa Daniel yang sangat senang, segera bergantian memeluk anaknya setelah istrinya selesai. Lalu, Appa Daniel sedikit memberikan nasihat kepada sang anak.
"Putri Appa yang cantik, jika ada masalah bilang ya. Jangan seperti ini, semua ini tidak baik. Kamu masih punya kami, jadi jangan menganggap jika kamu sendiri,"
"Ingat, mau kamu sudah menjadi istri dari Ace. Tetapi, kamu tetap anak kami, putri kecil kami. Jadi Appa mohon, jangan melakukan hal yang membahayakan nyawamu sendiri,"
"Ya mungkin kamu berpikir itu biasa saja, cuman pada akhirnya tanpa disengaja kamu melukai hati kami, Sayang."
"Lihatlah Amma, dia setiap hari selalu menangis menunggu anaknya kembali bangun. Begitu juga dengan Appa, yang menginginkan putri kecil Appa kembali tersenyum,"
"Dan lihatlah kesampingmu, dia satu-satunya orang yang sangat menyesal, ketika melihat keadaan istrinya hanya bisa berbaring lemah diatas bangkar,"
"Dia juga salah satu orang yang selalu menunggumu, meskipun harus melewatkan banyak rintangan supaya tetap bisa berada disampingmu. Dia pula, pria yang tidak gentar untuk selalu menjaga istrinya."
Appa Daniel sedikit berusaha mencairkan suasana. Dia sangat tahu, pasti saat ini terdapat jarak diantara mereka.
Mendengar perkataan Appanya, Fayra hanya melirik Ace sekilas dan kembali lagi memeluk Ammanya.
Selang beberapa menit, Fayra meminta tolong pada Amma Trysta untuk menemaninya kekamar mandi, lantaran dia sudah sedikit tidak kuat menahan sesuatu yang harus di tuntaskan.
Seperginya mereka ke dalam kamar mandi, Appa Daniel berjalan mendekati Ace.
Appa Daniel menepuk pundak menantunya beberapa kali, serta memberikan semangat agar Ace tidak mudah menyerah.
"Sabar, kamu harus berjuang mengambil hati istrimu. Ingat! Kemarin dia sudah berjuang untukmu, bukan? Jadi, sekarang gantian. Kamu yang harus berjuang untuk istrimu."
Appa Daniel tersenyum menatap Ace, kemudian dia kembali berjalan kearah sofa dan duduk sambil menunggu anak serta istrinya selesia dari kamar mandi.
"Apa yang dibilang Appa itu benar, aku harus lebih berjuang demi istriku. Aku enggak mau kehilangan dia, apa pun aku lakukan supaya dia tetap bersamaku." gumam batin Ace.
Langkah kaki Fayra pun masih terlihat terbata-bata. Mungkin ini karena efek Fayra yang baru saja tersadar, jadi semua otot-otot tulangnya belum bekerja dengan sempurna.
Susah payah Amma Trysta membantu Fayra untuk kembali keatas bangkar, cuman ketika Ace ingin mencoba membantunya. Fayra menolak habis-habisan menggunakan gerakan tubuh.
Ace tetap berusaha tersenyum, waupun rasanya ingin sekali Ace bisa memeluk dan juga merawat istrinya. Akan tetapi, dia juga enggan untuk memaksakan keadaan.
Hampir jam 3 pagi, akhirnya Fayra kembali memejamkan kedua matanya secara perlahan. Dimana kedua orang tua Fayra, juga sudah kembali beristirahat.
Namun, berbeda dengan Ace. Dia tidak bisa beristirahat akibat kepalanya terasa sangat pusing, apa lagi dia harus menjaga istrinya sepanjang waktu, tanpa mau memejamkan kedua matanya.
"Aku tahu, Raa. Mungkin saat ini kamu masih sangat kecewa denganku. Tapi aku tetap akan berusaha membuatmu kembali mencintaiku, karena aku sudah berhasil mencintaimu."
Ace berbicara menatap punggung istrinya yang dia kira Fayra sudah tertidur. Padahal Fayra hanya berpura-pura tertidur, sehingga dia bisa mendengar setiap perkataan yang berhasil keluar dari mulut suaminya.
Dirasa suara isak tangis dari suaminya sudah tidak terdengar. Fayra kembali memejamkan kedua matanya, lalu dia mulai terhanyut didalam tidurnya.
...*...
...*...
Pagi hari pukul 9, semua sudah berkumpul diruangan Fayra, kecuali Ace. Rasa bahagia dan juga senang membuat Mommy Rosa gemas terhadap menantunya yang selalu membuatnya panik.
Sang dokter yang juga sudah selesai memeriksa kondisi Fayra, dia segera keluar untuk memeriksa pasien lainnya.
Meskipun, Fayra terlihat marah dan juga kecewa. Appa Daniel bisa merasakan, bahwa lirikan mata Fayra selalu terarah seperti mencari dimana keberadaan suaminya.
Fayra belum mengetahui jika Mommy Rosa telah melarang Ace untuk berdekatan dengan istrinya sendiri.
Sayangnya, ketidak hadiran Ace didepan mata Fayra malah kembali berfikir bahwa suaminya memang sudah tidak memperdulikannya.
Sampai seketika, Fayra yang sudah tidak bisa menahan kekecewaannya langsung melontarkan perkataan yang berhasil membuat syok mereka semua.
"Appa, Amma, Mommy dan juga Daddy. Sebelumnya Fayra mau minta maaf atas semua kesalahan Fayra, apa lagi Fayra juga sudah sering merepotkan kalian." ucap Fayra
"Tidak, Sayang. Kamu tidak merepotkan kami, kok. Ya kan, Dad?" ucap Mommy Rosa sekilas menatap suaminya.
Daddy Gerry mengangguk pelan, kemudian dia menatap kearah Appa Daniel. Rasa curiga mulai melanda pikiran mereka berdua.
"Ya Fayra tahu, Mom. Mungkin saat ini Fayra sudah harus pergi dari kehidupan Kak Ace. Dengan begitu dia bisa menjalani kehidupannya yang baru dengan pilihannya, bukan pilihan kedua orang tuanya."
Degh!
Jantung mereka semua seakan berhenti mendadak, ucapan Fayra benar-benar membuat mereka tidak menyangka.
Apakah sesakit itu hati Fayra? Atau, kali ini Fayra benar-benar sangat kecewa terhadap suaminya? Sehingga dia harus mengakhiri semua hubungannya, disaat suaminya sudah mulai mencintainya.
Tanpa mereka sadari, Ace merasa khawatir dengan keadaan Fayra. Langsung bergegas mengintip dari balik pintu, dia tidak menyangka bahwa istrinya yang begitu mencintainya bisa berkata seperti itu.
"Fa-fayra, ke-kenapa kamu bisa berbicara seperti itu pada mereka? Se-sebenci itukah kamu sama aku? Apakah tidak ada sedikit pun perasaan yang tersisa, untukku?" gumam Ace, air matanya sudah mulai menetes.
Namun, Fayra kembali meneteskan air matanya ketika ucapannya beberapa detik lalu saling bertolak belakang sama perasaannya.
Amma Trysta yang melihat adanya perasaan dilema pada anaknya, hanya bisa memeluknya begitu erat. Lalu, pecahlah tangisan Fayra didalam dekapan Ammanya.