
Alana dan Rex berjalan beriringan untuk menemui Anaya dan Arif yang sedang menunggu di salah satu bangku taman, Kevin hanya mengikuti langkah Alana dari belakang saja. Sekalian untuk memastikan tidak ada bahaya yang mendekat.
"Daddy, Bunda!" panggil Alana langsung berlari dan memeluk keduanya.
"Alana!" Anaya dan Arif membalas pelukan hangat putri tercinta mereka yang sudah lama tidak bertemu.
Mereka sama-sama menangis, rasanya Alana sangat bahagia bisa kembali bertemu dengan kedua orang tuanya.
"Apa kau baik-baik saja? Ke mana saja kau selama ini?" tanya Anaya dengan isakan.
"Aku baik, Bun. Aku tidak ke mana-mana."
"Nak, kenapa kau berbohong kepada kami-- kau mengatakan akan memilih tinggal sendiri, tapi nyatanya." Arif menggantung ucapannya.
"Maafkan aku, Daddy. Aku telah berbohong." Alana memegang tangan kedua orang tuanya, dia benar-benar merasa bersalah karena telah membohongi kedua orang yang paling dia sayangi.
"Tapi apa yang membuatmu melakukan itu? Dan selama ini kau tinggal di mana?"
"Untuk itu aku masih belum bisa mengatakannya, maafkan aku sekali lagi jika membuat kalian khawatir." Alana tidak bisa mengatakan apa yang membuatnya membohongi kedua orang tuanya, karena di sini ada Levin. Celaka jika Levin mengetahui maksud dan tujuan Alana masuk ke kehidupannya.
"Tidak apa, Nak. Justru bunda senang sekarang bunda bisa bertemu dirimu lagi." Anaya menc1um setiap inci wajah Alana putri kesayangannya.
"Kak Alana." panggil Rex.
"Baby Rex."
"Jangan panggil aku baby!" kesalnya, Alana hanya tertawa karena telah membuat adik kecilnya kesal. Ini yang dia rindukan.
"Adikku yang cengeng." Alana memeluk Rex dengan penuh kerinduan.
"Bagaimana kabarmu, dan apa kau baik-baik saja di sekolah?"
"Aku baik, tapi jika tidak ada Kakak PR-ku tidak pernah selesai dalam waktu sehari!" keluhnya.
Alana terkekeh mendengarnya, memang selama ini jika Rex memiliki pr dari sekolahnya. Pasti Alana yang akan membantu menyelesaikan pekerjaan rumahnya.
Levin tersenyum tipis dalam hati melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Alana yang tidak pernah dia lihat sebelumnya, memang benar kata orang. Kebahagiaan yang paling indah adalah bisa berkumpul dengan keluarga.
"Alana, dia siapa?" tanya Arif mulai ber-akting.
"Di--dia ...." Alana bingung harus mengatakan apa, apakah kedua orang tuanya tidak akan marah jika Alana mengatakan Levin ini adalah suaminya?
"Jawab Alana."
"Dia ...."
"Aku Levin." ujarnya menyela ucapan Alana.
"Siapa kau? Kenapa kau bisa bersama putriku?" Arif mendekati Levin dengan ekspresi dingin khasnya, tinggi Arif dengan Levin sama, mereka juga memiliki postur tubuh hampir sama. Walaupun Arif sudah berumur tapi dia tetap menjaga badannya agar tetap bagus.
Kedua orang yang hampir memiliki sifat yang serupa saling berhadapan dengan melempar tatapan dingin masing-masing.
"Daddy!" panggil Alana berdiri di tengah-tengah kedua orang itu.
"Dia ...?"
Alana membawa keduanya ke pinggir danau, Alana mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya yang membuat dirinya harus menikah dengan Levin. Dia juga mengatakan sekarang dirinya sedang mengandung anak Levin, Alana dan Kevin kembali ber-akting terkejut mendengar penuturan putrinya. Mereka senang karena Alana mau jujur terhadap apa yang terjadi.
"Jadi begitu?"
"Iya, Dad ... maafkan Alana karena tidak jujur."
"Daddy sebetulnya kecewa dengan ini, tapi apa boleh buat semua sudah terjadi."
"Betul, Nak. Yang sudah terjadi biarlah terjadi."
"Terima kasih, Bun, Dad. Karena kalian memahami kondisiku." Alana kembali memeluk kedua orang tuanya.
"Sama-sama, sayang. Selagi kau jujur Daddy dan Bunda tidak akan marah."
...****************...
Levin, Alex, dan Rex. Mereka duduk bersampingan di salah satu bangku. Mereka saling diam dengan pikiran masing-masing.
Rex menyenggol lengan Alex agar membuka percakapan dengan Kakak iparnya.
Tapi Alex malah memberikan kode mata. Agar Rex saja yang memulai obrolan, Alex dan Rex sama-sama takut mengajak berbicara Levin. Levin ini 11-12 dengan Arif.
Levin melihat perdebatan kedua adik iparnya lewat ekor matanya.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Levin datar.
Rex dan Alex sama-sama gelagapan. "I--itu, tidak ada." Rex menunduk takut.
"Ka--kak ini ada hubungan apa dengan kak Alana?" Alex memberanikan diri untuk bertanya.
"Suami istri," jawabnya.
Rex dan Alex kembali pura-pura terkejut. "APA!" teriak Rex.
Bugh!
Alex meninju perut Rex pelan. "Kekencangan Bambang." bisik Alex.
"Hehehe, maaf-maaf." Rex hanya menyengir dan kembali ke ekspresi awal.
"Bagaimana bisa kau menikah dengan kakakku, apa kau menculiknya dan memaksanya untuk menikah?" Rex akhirnya bersuara.
"Kalau aku menculik dan memaksanya untuk menikah, tidak mungkin aku mengizinkan dia bertemu dengan kalian."
"Benar juga, kau memberikan pertanyaan yang salah." bisik Rex.
"Itu yang komandan Kim ajarkan."
" Siapa Komandan Kim?"
Deg.
Alex dan Rex melempar tatapan terkejut, bagaimana dia bisa mendengarnya?