
Ace tidak bisa lagi mengontrol perasaannya langsung memeluk istrinya dari arah belakang. Kemudian Ace meletakan dagunya tepat di pundak, begitu pun kedua tangannya yang melingkar di perut istrinya.
Beberapa detik mereka terdiam, hanya terdengar isak tangis keduanya yang saling bersahutan. Dimana Ace bisa merasakan kekecewaan istrinya, dan Fayra bisa merasakan bahwa suaminya memang sudah mulai menganggapnya.
"Aku paham, Sayang. Kamu pasti marah, kamu kecewa, kamu kesal sama aku. Gapapa, aku terima. Tapi please, jangan menjauhiku, Raa."
"Ya, aku akui aku terlalu bodoh telah menyia-nyikan istri sebaik kamu. Aku sadar, untuk itu aku enggak mau kehilangan kamu lagi karena aku--"
"Karena Kakak telah mencintaiku? Bushit! Aku tahu, Kakak hanya berpura-pura untuk mencintaiku agar mendalami peranmu supaya bisa menyakitiku lebih dalam dari ini, kan? Haha ...."
Fayra berbalik, lalu tertawa remeh menatap mata Ace sangat mendalam. Dia tetap kekeh dengan pemikirannya bahwa Ace, suaminya sama sekali tidak memiliki perasaan khusus untuknya.
Ace yang menatap sorotan mata Fayra terdapat beberapa kemarahan untuknya, hanya bisa terdiam untuk beberapa detik. Cuman kali ini sudah tidak bisa lagi, Ace hanya mau hubungannya segera membaik.
"Raa, apa kamu percaya, jika pelangi akan datang setelah badai hujan menghilang?" ucap Ace, begitu lembut.
"Ya, aku percaya. Karena langit akan bersinar, sebagaimana ia kembali tersenyum setelah menangis." jawab Fayra.
"Begitu pula dengan kamu, Raa. Mungkin, aku tidak bisa menjelaskan sudah berapa banyak kesalahan dan kebohongan yang aku perbuat sama kamu,"
"Hingga akhirnya, aku sudah tidak bisa lagi mengukur berapa banyak bulir air mata yang kamu jatuhkan cuman demi menangisi suami paling bod*doh dihadapanmu ini,"
"Namun, yang kamu harus ingat satu, Raa. Kali ini aku tidak sedang berpura-pura memainkan seatu peran sandiwara perasaan, yang selama ini aku mainkan dihadapan kedua orang tuamu,"
"Tapi, untuk pertama kalinya aku merasakan jatuh cinta yang paling dalam kepada seorang wanita. Yaitu, wanita yang saat ini sudah berstatus sebagai istriku sendiri."
Ace meraup wajah istrinya menggunakan kedua tangannya sampai kini wajah mereka hanya berjarak 1 jengkal saja. Dimana Ace dan Fayra saling menatap bola mata mereka penuh kehangatan.
"Sejak kapan Kakak sudah mulai mencintaiku?" tanya Fayra disertai air mata yang masih menetes.
"Sejak aku tidak mau istriku didekati oleh pria mana pun, maka disaat itulah aku sudah menyadari. Bahwa kecemburuanku yang berujung kesakitan untukmu, adalah satu bukti keras, kalau aku memang benar-benar mencintaimu,"
"Hanya saja, aku tidak bisa mengontrol semua emosiku. Sehingga aku kalah dengan perasaan cemburu yang aku anggap, sebagai jalan untuk bisa mengenal cinta."
Ace menjelaskan semua perasaan yang ada didalam hatinya untuk istrinya, ya walaupun Fayra terlihat tidak mempercayai.
Cuman Ace tetap akan berusaha bagaimana caranya, hari ini juga dia bisa menyelesaikan masalahnya, agar tidak semakin berlarut-larut.
"Jika memang Kakak mencintaiku selama itu, lalu kenapa tidak Kakak ungkapkan? Kenapa harus berbelit mencari jalan, sedangkan jalan yang Kakak tempuh adalah kesalahan!" ucap Fayra.
"Bagaimana mungkin aku mengungkapkannya, Raa. Jika aku sendiri saja awalnya tidak mengerti, apakah itu benar-benar cinta ataukah sebuah ambisi?"
"Akan tetapi, sekarang tidak lagi. Kali ini aku sangat yakin, inilah cinta. Cinta pertamaku yang hadir, disaat aku menyadari, bahwa istriku merupakan wanita yang sangat mencintaiku. Ketimbang mencintai dirinya sendiri."
"Kamu berhasil, Sayang. Kamu berhasil. Lihatlah sekarang, Ace yang terkenal sangat membencimu. Sekarang sudah menjadi Ace yang begitu tergila-gila denganmu, cuman karena jatuh cinta."
"Terima kasih, Sayang. Kamu sudah membuatku merasakan apa itu arti sebuah cinta, kecemburuan, dan perjuangan,"
"Untuk itu aku, Ace Geraldo Rodriguez. Benar-benar telah mencintai istrinya, Fayra Lavina Richardzon untuk yang pertama kalinya."
Degh!
Jantung Fayra kian memompa cepat, bagikan seseorang yang mengalami serangan jantung.
Namun, sayangnya. Masih ada beberapa yang mengganjal di dalam diri Fayra tentang Ace. Sampai akhirnya Fayra mengatakan sesuatu yang membuat suaminya terkejut.
"Terima kasih kembali jika kamu sudah bersedia mencintaiku, tapi maaf. Aku sudah tidak percaya lagi sama semua omong kosong yang keluar dari mulutmu!" tegas Fayra, langsung berjalan melewati Ace.
"Apa yang membuatmu tidak percaya padaku, Raa? Coba kasih tahu aku, agar aku bisa memperbaikinya. Dimana yang membuatmu ragu akan cinta tulusku ini?" sahut Ace, yang sudah berbalik menatap punggung istrinya.
"Ada! Aku tidak mau menyebutkannya, karena aku memang sudah tidak bisa percaya lagi denganmu. Karena a-aku, te-telah membencimu,"
"Ya, a-aku memang sangat me-membencimu, Ace Geraldo Rodriguez!"
Fayra terpaksa mengucapkan kata-kata yang sangat menyakitkan untuk dirinya sendiri, dia tidak tahu harus bagaimana lagi. Fayra merasa harga dirinya sudah begitu hancur hanya karena keegoisan suaminya sendiri.
Jikalau pun benar suaminya telah mencintainya. Maka Fayra tetap dengan pendiriannya. Dia tidak akan lagi percaya sama semua ucapan suaminya, lantaran beberapa kali melihat Ace seperti enggan memperdulikannya.
Fayra menangis deras sambil melangkahkan kakinya bergegas menjauhi suaminya. Tiba-tiba saja langkah kakinya tertahan saat mendengar ucapan suaminya begitu nyaring ditelinganya.
"Baiklah, Sayang. Jika ucapan tidak bisa membuktikan cinta yang ada di dalam diriku, mungkin kepergianku bisa menjelaskan kepadamu. Kalau kali ini aku sedang tidak berbohong padamu."
Fayra berbalik secepat kilat, matanya membola besar ketika melihat punggung suaminya. Ace saat ini, sudah berada di atas pembatas rooftop.
"Ka-Kak, Ace?" gumam lirih Fayra, dia terkejut bukan main.
Fayra tidak percaya, kalau Ace bisa melakukan hal senekat itu hanya untuk membuktikan jika dia benar-benar telah mencintai istrinya.
"Terserah kamu mau menganggapku drama atau apa, aku sudah tidak peduli. Buat apa aku hidup, jika istri yang baru saja membuatku jatuh cinta telah membenciku? Ngapain apa, Raa. Ngapain!"
"Bahkan aku pun tidak tahu, apa yang membuatmu sampai tidak percaya padaku. Apa ini semua karena kamu sudah mulai menaruh hati pada Andrew?"
Ace terus mengoceh sambil berbalik, perlahan menatap Fayra yang saat ini sudah menatapnya sangat tajam.
"Stop, Kak! Cepat turun dari situ, atau aku akan benar-benar membenci Kakak seumur hidupku!" ancam Fayra.
"Bukannya tadi kamu sudah membenciku?" ucap Ace.
"Ya, aku memang membenci Kakak. Tapi, itu hanya omong kosong, karena aku tidak mau kembali percaya jika satu buktinya kuat sudah terlihat jelas didepan mataku." sahut Fayra.
"Bukti kuat apa yang kamu lihat sehingga kamu begitu percaya, kalau perasaanku ini hanyalah omong kosong!" tanya Ace.
"Kakak enggak perlu tahu, jadi cepat turun. Atau aku akan--"
"Katakan! Bukti apa yang kamu lihat, sampai membuatmu sangat percaya!" bentak Ace, Fayra terlihat syok terhuyung kebelakang dan sedikit memundurkan langkah kakinya.
Ace yang telah menyadari kesalahannya, untuk kesekian kalinya. Ucapan Ace berhasil, membuat Fayra ketakutan didalam wajah istrinya.
Tanpa basa-basi Ace segera meminta maaf pada istrinya, sampai akhirnya keseimbangan tubuh Ace mulai terganggu. Dan pada akhirnya Ace terjatuh, bersamaan terdengar suara terikan Fayra yang begitu nyaring digendang telinga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...