Learn to Love You

Learn to Love You
Mencicipi



Sampai akhirnya tidak tahu dimenit keberapa, Ace telah tersadar kalau ternyata istrinya ternyata hanya berpura-pura tertidur.


Ace tersenyum miring, jika istrinya bisa mengerjainya. Maka dia pun bisa mengerjai Fayra. Beginilah cara Ace untuk kembali mengambil hati istrinya.


"Oh, ternyata dia hanya pura-pura tertidur. Baiklah Sayang, kita lihat sampai kapan kamu kuat menjahili suamimu sendiri, hem?


"Maafkan aku Sayang, jika selama kamu koma aku selalu mencium bibirmu. Habisnya bibirmu membuatku selalu ketagihan. Tapi kamu pasti enggak akan marah kan?"


Ace berbicara dengan nada yang sangat melas, bahkan Fayra yang mendengar itu pun menjadi sangat terkejut.


Fayra tetap berusaha pada pendiriannya kalau dia tidak boleh sampai terbangun. Apa lagi Fayra mau mendengar semua isi hati suaminya yang belum tuntas.


"Tahan, Fayra. Tahan! Ingat, kamu belum mendengar pernyataan cinta dari suami menyebalkan itu. Jika kamu tiba-tiba membuka mata, pasti dia akan mencurigaimu." gumam Fayra di dalam hatinya.


"Mau sampai kapan kamu bertahan Sayang, aku tahu. Pasti kamu sedang menunggu pernyataan cinta yang aku ungkapkan, kan? Hihi ...." gumam batin Ace.


"Huhh, sepertinya aku mulai rindu dengan bibir ranummu itu Sayang. Hari ini aku belum mencobanya, biasanya sehari aku bisa 5 sampai 10 kali mencicipinya,"


"Namun, ketika kamu sudah tersadar membuatku sedikit susah. Tapi, sekarang tidak lagi. Aku lihat kamu lagi tertidur pulas, jadi bisa kali ya 2 menit saja mencicipi bibirmu."


Degh!


Perkataan Ace berhasil membuat detak jantung Fayra berpacu dengan cepat, layaknya seseorang yang sedang dikejar oleh binatang buas.


Ace melihat dada istrinya mulai naik-turun begitu cepat, langsung terkekeh didalam hatinya. Ace sekuat tenaga menahan tawanya, meskipun sesekali garis bibirnya sedikit melebar.


"Astaga! Ja-jadi se-selama aku koma, dia mencari kesempatan untuk mencicipi bibirku? Huaa ... Dasar suami enggak ada akhlak!"


"Istrinya koma bukannya ditangisi, disayang-sayang, atau apa kek. Ini malah dile*cehkan!"


"Awas aja kamu, Kak! Sampai berani menyentuh bibirku, langsung aku cincang abis jadikan sop!"


Batin Fayra kembali memberontak, dimana bibir Fayra bergerak kesana-kesini memancing Ace untuk kembali tertawa.


"Bhaha ... Dasar istri polos, siapa suruh ngejahilin suaminya. Pasti saat ini batinnya lagi komat-kamit kek dukun baca mantra." batin Ace, berbicara.


Ace yang sudah tidak sabar lagi melihat reaksi istrinya, perlahan menuruni bangkarnya sambil membawa tiang impusan mendekati bangkar istrinya.


Detak jantung Fayra kian bertambah kencang, nafasnya mulai memburu. Benar-benar persis seperti sedang lari maraton sambil dikejar oleh ribuan hewan buas.


Entahlah seperti apa rasanya, yang intinya Fayra merasa gugup dan juga panik. Sampai seketika Ace sudah berada disampingnya, tanpa disengaja matanya melirik kearah tangan Fayra.


Dimana tangan Fayra menggenggam sepray kasur bangkarnya, dari sini terlihat betapa gugupnya Fayra. Ditambah pelipisnya juga sedikit berkeringat.


Rasanya Ace ingin sekali tertawa lepas secara sepuas. Disaat Ace sudah tidak bisa menahan senyumannya, dia berbalik membelakangin Fayra dan tertawa sepuasnya didalam hati dengan ekspresi yang sangat lucu.


Setelah selesai, Ace kembali mengatur nafasnya. Lalu berbalik menatap wajah istrinya kembali.


"Sayang, aku izin ya. Boleh kan? Pasti boleh dong. Kan kamu istriku yang pualing cuantik,"


"Lagian aku sudah tidak kuat lagi, mumpung kamu lagi tidur pulas. Jika kamu terbangun, bisa-bisa aku langsung ditampar tanpa ampun."


"Apa lagi istriku ini diam-diam menghanyutkan, terkadang bisa menjadi seorang bidadari yang sangat cantik dan juga baik hati. Bahkan juga bisa menjadi seekor singa betina yang begitu buas, mengalahkan monster jahat."


Ace mengoceh sepanjang jalan kenangan, mencoba memancing istrinya yang masih bertahan sama pendiriannya yang masih setia pura-pura tertidur.


Kata-kata suaminya, semakin membuat Fayra naik pitam. Dia tidak menyangka suaminya bisa berkata senyebelin itu.


Fayra bingung, ucapan Ace yang awalnya meninggikan istrinya seketika kembali menjatuhkannya tanpa rasa bersalah sedikit pun.


"Yak! Dasar suami tidak tahu diri, bisa-bisanya dia menjelekan istrinya ketika istrinya sedang tertidur seperti ini!"


"Suami macam apa dia itu, memalukan! Sekarang aku mengerti, Kak! Jadi selama aku koma kamu selalu memanfaatkan semua waktu untuk mengambil kesempatan, begitu kan?"


"Eh, ta-tapi tunggu dulu. A-aku koma kan sudah beberapa hari, be-berarti itu tandanya? Beberapa hari yang lalu, Kak Ace selalu mencium bibirku, dong?"


"A-atau jangan-jangan a-aku sudah tidak PW lagi? Hua ... Dasar suami menyebalkan! Bisa-bisanya dia memanfaatkan semua keadaan demi kepuasannya sendiri! Dikata aku juga enggak mau nikmatin kali!"


"Eh, a-apaan sih! Kok malah jadi kegiur begini, arghh ... Semua ini gara-gara suami lucknut! Awas aja kamu, Kak!"


"Aku akan balas semuanya, jika sampai terbukti kalau aku tidak PW karena dirimu mengambilnya secara paksa!"


Fayra bergumam didalam hatinya, mulutnya terus bergerak dan juga pelipisnya mulai mengerus. Yang artinya Fayra sangat kesal saat mendengar ucapan suaminya.


"Kita lihat saja sayang, sampai dimana kamu kuat untuk mengerjai suamimu sendiri." ucap Ace didalam batinnya.


Perlahan demi perlahan Ace mulai menggoda istrinya dengan mendekatkan wajahnya, sambil membungkukkan punggungnya.


"Astaga, ja-jantungku! Aduh, aku harus bagaimana ini? Mana wajah Kak Ace deket banget lagi, ini sih namanya kejebak sendiri!"


"*Amma, Appa, Mommy, Daddy. Tolong Fayra! Singkirkan suami menyebalkan ini jauh-jauh, tapi jangan kejauhan nanti Fayra rindu gimana?"


"Eh ... Ngapain jadi mikirin kesitu sih*!"


"Yakk! Tahu argh, pokoknya siapa pun itu bantu Fayra jangan biarkan suami gila ini menyentuh istrinya!"


Fayra terus berteriak didalam batinnya. Rasanya Fayra ingin sekali menonjok wajah tampan suaminya, entah mengapa hatinya enggan untuk melakukannya.


Mulut memang bisa berkata seperti itu, seakan-akan Fayra ingin sekali menolak semuanya. Berbeda didalam batinnya, Fayra ingin sekali melahap bibir suaminya yang masih terasa sangat manis.


Apa lagi rasa yang waktu itu masih melekat jelas dibibir Fayra dan untuk yang pertama kalinya, dialah yang lebih dulu menyentuh bibir suaminya.


Coba saja jika Fayra mengingat kejadian tersebut, mungkin dia akan sangat malu tidak akan berpikir bahwa suaminya yang telah mele*cehkannya.


Namun, jelas-jelas dialah orang yang lebih dulu menikmati bibir suaminya.


Andaikan Ace telah mengetahuinya, pasti Fayra tidak akan bisa berkutik kembali. Untung saja posisi waktu itu Ace sedang mengigau, jika tidak maka habislah Fayra.


Kembali lagi ke keadaan mereka, yang jarak diantara sangatlah dekat. Hanya tinggal 1 senti saja sudah bisa dipastikan bibir mereka langsung bersentuhan.


Tanpa mereka sadari ternyata beberapa menit yang lalu, kedua orang tua mereka sudah kembali dari kantin. Lalu, mereka semua dikejutkan oleh adegan yang sangat romantis.


Mereka berempat hanya bisa mengintip kedua anaknya yang sedang mencium satu sama lain. Padahal nyatanya, jika mereka melihatnya dari jarak dekat. Pasti mereka akan tahu, jika bibir Fayra dan Ace belum sama sekali bersentuhan.