
"Kak, kak Levin memanggilmu."
"Levin?"
"Iya." Alesha mengangguk.
"Kenapa dia memanggilku?"
Alesha hanya mengangkat bahunya.
Alana pun pergi menemui Levin di kamar, di luar sedang hujan yang cukup deras di sertai petir yang saling menyambar diiringi hembusan angin yang kencang.
Ceklek.
Alana memasuki kamar, tapi kenapa begitu gelap? "Levin, kau di mana?" Alana meraba sekeliling karena lampu kamar yang mati, padahal lampu rumah menyala.
"Levin jangan bermain-main!" kesal Alana.
Alana terus berjalan menuju tempat tidur. Untuk mengambil senter di dalam laci nakas samping tempat tidur.
Saat Alana hendak menyalakan senter tiba-tiba lampu kamar menyala, Alana sontak menoleh ke belakang saat mendengar langkah kaki.
"Kenapa kau mematikan lampunya? Kau tahu, kan aku sedikit tidak nyaman jika gelap!" kesalnya.
"Aku tidak mematikan lampu," jawabnya.
"Bohong, jika bukan kau siapa lagi."
"Mungkin saja hantu." Levin mendekati Alana dengan tatapan menyeramkan.
"Jangan melihatku seperti itu." Alana menunduk takut. Ntah, dia bercanda atau tidak melakukan itu, tapi benar-benar terlihat menyeramkan.
"Baiklah, maaf." Levin menangkup pipi Alana. "Hmm, tapi kenapa kau memanggilku?"
"Aku punya sesuatu untukmu."
"Apa itu?"
"Tebak."
"Hmm, tas."
"Bukan."
"Bunga."
Levin menggeleng.
"Lalu apa?"
"Ayo tebak lagi."
"Aku tidak mau, ayo katakan saja apa?"
"Baiklah."
Levin mengambil sebuah kotak perhiasan. Yang di dalamnya ada sebuah kalung yang sangat indah terbuat dari permata.
"Ini untukmu."
"Untukku?"
"Hm."
Alana membuka kotak tersebut, dia tersenyum senang melihat apa yang diberikan oleh Levin. "Ini indah, terima kasih." Alana langsung memeluk Levin.
"Apa kau menyukainya?"
"Sangat," jawabnya dengan senyuman manis.
"Akan aku pakaikan."
Levin mengambil kalung tersebut dan memakaikannya, setelahnya dia menc1um leher Alana sekilas.
"Cantik."
"Iya, kalungnya cantik."
"Maksudku yang memakainya." Alana tersipu malu mendengar pujian Levin.
"Alana, ada sesuatu yang ingin aku katakan."
"Apa?"
Levin membalikkan Alana menghadapnya. "Kau tahu Alana, aku ...."
"Iya."
"A--aku ...."
Kenapa rasanya sulit sekali untuk mengungkapkan bahwa dia mencintai Alana, bagaimana cara mengatakannya?
"Aku apa?"
"Hah, tidak ada." Levin tersenyum tipis, astaga! Kenapa susah sekali hanya tinggal mengatakan 'Alana aku mencintaimu' ini lebih sulit daripada merayu klien untuk bekerja sama.
Alana diam-diam tersenyum dalam hati, dia tau apa yang ingin Levin katakan. Hanya saja dia ingin mendengarnya langsung dari mulut Levin, dan pada saat itu juga dirinya akan mengatakan bahwa dirinya juga mencintai Levin.
...----------------...
"Pergilah, Monica Bantu rekanku yang ada di rumah Levin, tujuanku harus tercapai. Untuk itu aku telah menyuruh beberapa orang yang tidak pernah Levin sangka akan menjadi penghianat di keluarganya."
"Untuk itu aku akan memberi tahumu nanti setelah kau tiba di sana, aku juga akan memberi tahu yang lain bahwa kau ada di pihakku."
"Baik, Mr."
Monica pun pergi meninggalkan sosok hitam tersebut.
"Sekarang semuanya akan dimulai, bersiaplah Levin."
•
•
•
Levin dan Alana menuruni anak tangga bersamaan, saat tiba di bawah mereka saling pandang. Karena melihat nenek seperti sedang berbicara dengan seseorang di ruang tamu.
Sepertinya seorang wanita, tapi siapa? Pikir keduanya.
"Itu Levin, Levin kemari!" panggil Nenek.
"Ada apa, Nek?"
"Lihat siapa yang datang."
Levin beralih menatap wanita yang duduk membelakanginya. "Kau siapa?"
Wanita dengan dress selutut berwarna putih itu pun bangkit, lalu berbalik. "Kau tidak kenal aku?" tanyanya dengan senyuman merekah, sedangkan Levin dia dibuat diam di tempat saat melihat wanita tersebut.
"Ka--kau. Monica!" kagetnya. "Iya, siapa lagi." Monica langsung memeluk Levin dengan erat,
"Apa kabarmu?" tanya Monica setelah melepas pelukannya.
"Aku baik, kau sendiri?"
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja."
"Sudah hampir tiga tahun kita tidak bertemu, apa kau masih bersama suamimu?"
"Setelah perpisahan kita tiga tahun lalu, aku memang langsung menikah dengan pilihan kedua orang tuaku. Dan sampai sekarang aku masih bersamanya," ujarnya.
"Apa kau bahagia menikah dengannya?"
"Awal-awal tidak, kau tahu bagaimana rasanya menikah dengan orang yang tidak sama sekali kita cinta ataupun kenal. Itu, sangat berat ... tapi dengan berjalannya waktu, aku mulai bisa menerima kehadirannya. Walaupun aku masih belum bisa mencintainya."
"Itu bagus, setidaknya kau tidak mempermainkan dirinya. Hanya karena kau tidak mencintainya."
Alana hanya menatap keduanya, Levin dengan Monica terlihat begitu akrab sekali.
Monica berbanding terbalik sekali dengan dirinya, Monica memiliki lekuk tubuh yang indah, pipi tirus, hidung mancung. Sepertinya dirinya memiliki turunan bule, Alana mulai merasa insecure melihat Monica.
"Ya, ngomong-ngomong setelah perpisahan kita tiga tahun lalu. Apa kau juga menikah?"
"Tidak, setelah kita berpisah aku tidak menikah. Tapi sekarang aku sudah menikah beberapa bulan lalu, dan sebentar lagi kami akan melangsungkan anniversary pernikahan yang ke-satu, iyakan?" Alana tersenyum manis saat Levin memegang tangannya dengan tatapan mata penuh cinta.
"Iya."
"Ohh. Jadi, ini wanita yang bisa menaklukkan hati seorang Levin selain diriku," ujarnya terkekeh begitu juga Levin.
"Kau bisa saja."
Alana dan Monica saling berjabat tangan. "Alana, istri Levin."
"Aku Monica, mantan kekasih Levin dulu."
Pantas saja keduanya terlihat akrab, ternyata mereka pernah memiliki hubungan.
Alana hanya tersenyum.
"Kau hebat juga bisa memiliki istri yang cantik, dan imut."
"Aku sudah sangat bosan memiliki pasangan yang seperti dirimu, berbadan seksi, tinggi, wajah yang tirus. Aku ingin merasakan punya pasangan yang menggemaskan, berbadan mungil, pipi yang chubby." kekehnya,. Monica tertawa kecil mendengarnya.
"Kau ini!" kesal Alana memukul lengan Levin.
"Iya-iya, baiklah. Kau atur sendiri ... tadi, kau mengatakan. Kalian akan melangsungkan anniversary, bagaimana jika aku membantu mempersiapkan acaranya?"
Levin menatap Alana, Alana mengangguk. "Baiklah, aku tahu seleramu itu luar biasa dalam merancang pesta."
"Kau tahu itu, aku ini anak party. Serahkan semuanya padaku."
Monica berjalan menuju taman belakang. Untuk menemui seseorang yang diperintahkan oleh sosok hitam tersebut.
"Kau Monucy?" tanyanya.
"Iya."
Monica sempat terkejut melihat seorang wanita yang dia sangat kenal. "Kau juga kerja sama dengannya untuk menghancurkan Levin?" tanya Monica tak percaya.
"Iya, ada masalah?"
Monica benar-benar tidak habis pikir, dia menghianati keluarganya sendiri. Kenapa keluarga Christensen bisa memiliki musuh dalam selimut, apa lagi wanita ini orang yang paling Levin sayangin. Kini, tega menghianati dirinya.
"Besok akan ada pesta di rumah ini, kita akan melakukan sebuah rencana yang akan membuat semua orang terkejut."
"Rencana apa?" tanya Monica.
"Akan aku beri tahu besok, kau bantu saja persiapan pesta besok. Seperti yang kau janjikan pada Levin."