Learn to Love You

Learn to Love You
Mode Ngambek



Ace yang merasa menang, dia langsung tersenyum miring menatap istrinya. Sehingga Fayra merasa sedikit merinding ketika melihat wajah suaminya.


Dan benar saja, 2 permintaan Ace berhasil membuat Fayra membuka mulutnya sangat lebar bersamaan dengan kedua bola matanya yang hampir keluar dari tempatnya.


"Apa Kakak sudah gila!" teriak Fayra, dia begitu terkejut setelah mendengar permintaan suaminya.


"Ya aku memang sudah gila karena cinta, Honey. Memangnya salah jika aku memintamu untuk menyuapiniku? Tidak, kan!"


"Lagi pula kamu itu cuman nyuapiniku menggunakan sendok, bukan menggunakan mulut. Jadi tidak masalah, bukan?"


Ace menatap istrinya yang saat ini masih terkejut saat mengetahui permintaannya. Ya memang sih permintaan pertama ini tidak begitu memberatkan.


Namun, dipermintaan yang kedualah yang berhasil membuat jantung Fayra hampir terhenti untuk selamanya.


"Ishh, bukan itu Kakak. Tapi, masalahnya permintaan Kakak yang kedua loh!" ucap Fayra, wajahnya mulai memerah dan sedikit kesal.


"Masalah tidur bareng? Yaelah, memang kenapa? Kamu keberatan? Kan kita udah suami istri, ditambah lagi kita juga udah saling mencintai. Jadi fine-fine aja dong?"


"Apa kamu lupa dengan janjiku sebelum menyetujuin pernikahan ini? Jika kita saling mencintai itu artinya kita bisa---"


"Yak! enggak, enggak, enggak! Kita itu masih sekolah, Kakak! Ya kali nanti aku tiba-tiba tekdung, huaa ... Pokoknya aku belum siap jadi Mommud, titik!"


"Dahlah, sekarang Kakak makan soupnya, terus habisin. Lalu istirahat. Fayra mau ke kamar ada tugas."


Fayra terlihat begitu gugup, sedangkan Ace dia masih bingung dengan istilah tekdung dan juga Mommud, karena dia belum pernah mendengar istilah seperti itu sebelumnya.


Namun ketika Fayra baru saja ingin melangkahkan kakinya keluar dari pintu, tiba-tiba dia mendengar suara yang tidak asing di telinganya.


"Hiks, ka-kamu jahat Honey. Ka-kamu tega ninggalin aku yang sakit, pokoknya Honey jahat, jahat, jahat hiks ...."


"Padahal aku cuman minta 2 permintaan, enggak lebih. Tapi, Honey malah marah mau ninggalin aku sendirian yang sakit-sakitan seperti ini, hua ... Mommy, Honey jahat sama Ace."


Ace menangis sejadi-jadinya, lalu dia menendang-nendang dari dalam selimut sambil memukul kasur dan juga bantal yang ada di sampingnya.


"I-itu se-seperti suara tangisan Kak Ace?" gumam Fayra kecil, segera mungkin dia berbalik menatap tingkah Ace bagaikan anak kecil yang sedang mengambek dengan orang tuanya.


Fayra tidak percaya suaminya bisa bertingkah seperti apa yang saat ini dia lihat, ini seperti bukan Ace yang Fayra kenal. Cuman, entah kenapa Fayra malah terkekeh begitu geli melihat ekspresi wajah suaminya sangat lucu.


"Astaga, Kakak. Enggak malu apa, sama umur haha ...." Fayra berbicara sambil tertawa dan berjalan mendekati Ace. Kemudian dia duduk dipinggir menatap suaminya yang masih menangis.


"Bodo, habisnya Honey jahat sama Bunny. Masa cuman mau disuapin sama bobok bareng aja, enggak boleh. Bahkan Honey malah marah hiks ...." sahut Ace.


"I-ini beneran Kak Ace, kan?" gumam Fayra sambil meletakkan punggung tangannya ke pelipis Ace untuk mengecek dahinya.


"Ishh, apaan sih! Aku enggak sakit ya, aku cuman pusing. Udah sana keluar dari kamarku, kalau kamu enggak mau ngurusin aku sakit. Paling juga besok aku udah enggak ada!" ucap Ace, ngambek.


"Yak! Kalau ngomong itu dijaga, jangan asal jeplak aja!" bentak Fayra, matanya membola besar menatap suaminya.


"Tuhkan, Honey tambah marah. Huaa, Mommy!" pekik Ace uring-uringan sambil menangis.


"Eh, i-iya iya, ma-maaf Bunny. Habisnya Bunny sih ngomongnya kaya gitu. Kan Fayra enggak mau kalau Banny kenapa-kenapa. Udah ya jangan nangis, nanti kedengeran Mommy sama Daddy loh."


Fayra mencoba untuk mendiami suaminya, yang kini suaranya bagaikan kaleng rombeng yang sangat berisik.


"Bunny mau di peyuk, hiks ...." ucap Ace, sambil merentangkan kedua tangannya.


Degh!


Detak jantung Fayra seketika terhenti untuk beberapa menit, dan kemudian kembali bekerja cukup kencang. Rasanya Fayra benar-benar seperti merasakan serangan jantung secara mendadak.


Padahal sikap-sikap manja seperti inilah yang Fayra inginkan sejak awal pernikahannya dengan Ace, cuman setelah Fayra mendapatkannya entah kenapa rasanya Fayra masih tidak percaya.


Fayra beberapa kali menepuk-nepuk kedua pipinya agar mengetahui apakah dia sedang bermimpi, atau memang ini kenyataan.


"Ho-honey kenapa pipinya di tepuk-tepuk begitu?" tanya Ace matanya masih berkaca-kaca menatap istrinya.


"Aku sedang bingung, apakah ini mimpi atau bukan?" jawab Fayra, yang sudah menghentikan aksinya.


Ace dengan santainya malah menepuk pipi Fayra cukup keras, sehingga membuatnya memekik keras.


"Awsshh, Kak Ace!" bentak Fayra memegang pipinya.


Ace yang awalnya sudah mulai tenang, kini kembali menangis ketika mendengar suara Fayra yang melengking tinggi, menatap Ace begitu tajam.


"Tuhkan, Honey marah lagi. Padahal Bunny enggak ngapa-ngapain, cuman membantu Honey aja. Supaya Honey tahu kalau ini itu bukan mimpi, tapi kenyataan. Hiks ...." rengek manja Ace.


"Ya iya sih ngebantu, tapi kan enggak di tabok keras juga kali, Kak!" gumam Fayra didalam hatinya, menatap Ace yang saat ini sedang menunduk.


Fayra yang tidak tega melihat suaminya, langsung memeluknya begitu erat sambil mengelus punggung suaminya. Sedangkan Ace dia tersenyum miring didalam peluka istrinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...