
Aku seperti merasa diikuti.' batin Alana. Dia terus berjalan sambil memperhatikan sesuatu di belakangnya lewat ekor mata.
Sosok bayangan hitam itu menyentuh punggung Alana.
Alana menghentikan langkahnya, dia dengan perlahan membalikkan badannya, dan ....
Alana membalikkan badannya perlahan, dan ....
"Aaaa!" teriak keduanya.
"Alesha!" Alana benar-benar terkejut, ternyata dia Alesha.
"Kak, kenapa kau berteriak?"
"Aku pikir bukan kau, kau sedang apa malam-malam begini?" tanya Alana.
"Tidak, aku hanya ingin mengambil minum. Tapi pas aku mau pergi ke dapur. Aku melihat Kakak sedang berdiri di bawah tangga, aku takut terjadi sesuatu makanya aku menghampirimu," jelas Alesha.
Alana tersenyum. "Aku tidak papa, sebenarnya tadi ...." Alana menggantung ucapannya, dia kembali mengingat seperti ada sosok hitam yang mengikutinya.
"Tadi apa, Kak?"
"Ah, tidak ada. Kalau begitu aku pergi ke kamar dulu, setelah kau minum kau harus langsung tidur. Karena ini sudah malam."
"Baik, Kak."
Alana melanjutkan langkahnya, walaupun sebenarnya dia masih memikirkan sosok bayangan hitam yang mengikutinya.
Alana tidak mengatakan yang sebenarnya karena Alesha termasuk orang yang penakut, bisa bahaya jika Alesha tahu apa yang Alana alami. Bisa-bisa dia tidak mau tidur sendiri.
Alesha melangkah menuju dapur untuk mengambil minum.
Sosok bayangan hitam itu muncul dari balik salah satu pilar dekat tangga, rencananya untuk menculik Alana menjadi gagal karena kehadiran Alesha yang tiba-tiba.
'Kali ini kau boleh lolos Alana, tapi lain kali. Tidak akan!'
...----------------...
Levin menatap Alana dengan bingung, sejak tadi Alana terus melamun dengan tatapan kosong. Bahkan, Levin sudah hampir 20 menit berdiri tegak. Karena Alana sedang memasangkan dasinya, tapi tidak kunjung selesai karena dia melamun dengan tangan yang terus bergerak memainkan dasinya.
'Siapa sosok bayangan hitam itu? Aku benar-benar yakin semalam dia mengikutiku, tapi setelah Alesha datang. Pergi ke mana dia?'
"Alana!" panggil Levin, tapi Alana tak merespon.
"Alana!"—Levin menepuk pundak Alana.
"Hah! Iya, apa?" Alana menatap Levin dengan tatapan polos.
"Kau kenapa sejak tadi, melamun?"
"Tidak, aku tidak papa."
"Bohong, lalu kenapa kau tidak fokus begitu?"
"Itu karena aku sedang tidak enak badan saja."
Levin menyentuh dahi Alana, memang sedikit panas.
"Kalau begitu ayo berbaringlah, nanti aku panggilkan dokter."
"Tidak usah! Aku tidak papa. Tidak perlu panggil dokter, aku akan tidur sebentar pasti nanti juga lebih baik."
"Kau yakin?"
"Hm."
"Yasudah, aku akan pergi ke kantor sebentar karena ada meeting. Nanti siang aku pulang, kau baik-baik. Jika ada apa-apa langsung hubungi aku, mengerti?"
Sebelum pergi Levin menc1um kening Alana yang sedikit hangat, sebenarnya Alana tidak papa. Tubuhnya panas bukan sebab sakit.
"Hati-hati!"
Levin tersenyum dan dibalas senyuman manis oleh Alana.
"Levin. Ntah, sihir semacam apa yang kau gunakan sehingga membuatku jatuh cinta padamu," gumam Alana.
Iya, dia memang sudah jatuh cinta pada Levin. Hanya saja dia belum mau mengakuinya di depan Levin langsung.
Lagi-lagi dua pasang mata mengintip di balik celah pintu, kedua bola mata itu terus memperhatikan Alana yang sedang tertidur.
'Kali ini rencanaku tidak boleh gagal.'
Orang misterius tersebut masuk ke dalam kamar Alana dengan langkah pelan, dia menatap Alana yang tertidur dengan lekat.
'Maafkan aku gadis manis, aku harus memisahkanmu untuk sementara dari keluarga ini. Agar rencanaku berhasil.'
Sosok bermata hitam pekat itu mengulurkan tangannya untuk membekap Alana.
'Sebentar lagi semuanya beres.'
Sosok bermata hitam tersebut hendak membekap Alana, tapi ....
Tok! Tok! Tok!
'Si4l!' sosok tersebut langsung bersembunyi.
Alana membuka matanya. "Siapa?"
"Aku Nona, Alana."
"Masuklah!"
Ceklek.
Maid yang bernama Alana tadi masuk dengan seorang wanita di belakangnya, sepertinya dia dokter.
"Ada apa?"
"Ini Nona. Tadi, tuan meminta saya untuk memanggil dokter katanya Nona sedang tidak enak badan."
"Astaga Levin ini, baiklah."
Alana pasrah saja saat harus diperiksa oleh dokter, sebenarnya dia tidak membutuhkan dokter.
Tapi Alana senang, ternyata Levin begitu memperdulikannya.
"Kau tidak papa, kau hanya butuh istirahat. Apa lagi setelah kejadian keguguran itu kau jadi mudah lelah."
"Terima kasih, Dok."
"Sama-sama, saya permisi. Mari!"
"Permisi Nona."
"Silakan!"
Setelah Maid dan dokter keluar, Alana bangkit masuk ke dalam kamar mandi.
Sosok bermata hitam tersebut keluar dari balik gorden. 'Gagal untuk yang kedua kalinya, si4l!'
BERTEMBUNG....