
"Astaga Alana!" Ibu Melda rasanya tidak sanggup melihat Alana.
"Kenapa dengannya?" bingung Nenek.
"Membuat malu saja," ujar Larasati menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Almahira dan Rendra hanya tertawa melihat seluruh keluarga malu dengan apa yang dilakukan Alana.
"Kau lihat! Betapa malunya keluarga ini?"
"Sudah dipastikan sangat malu, lihatlah mereka sampai-sampai menutup wajah dengan telapak tangan," ujar Rendra tertawa melihat apa yang sedang terjadi.
Almahira tertawa mengejek. "Kita lihat sampai kapan dia akan mempermalukan keluarga ini."
Nenek tidak mengerti apa yang terjadi dengan Alana. "Alana kau kenapa?"
"Aaa, Nenek. Ayo menari-nari!" Alana memutar-mutar tubuh Nenek.
"Astaga ...! Almahira panggil Kakakmu!" teriak Nenek.
"Baik, Nek."
Almahira tertawa sejenak sebelum pergi memanggil Levin.
Alana semakin tidak karuan, pengaruh minuman itu sudah membuat Alana g1la.
Levin yang melihat itu benar-benar marah, apa yang dilakukan Alana?
"Alana!" Levin menarik paksa tangan Alana.
"Aaaa, apa yang kau lakukan? Lepaskan! Aku ingin menari."
"Jangan membuatku malu, hentikan!" tekan Levin.
"Tidak!"
"Alana, aku katakan. Hentikan tingkah g1lamu ini!"
"Aku hanya ingin menari!"
"Hentikan musiknya!" bentak Levin.
Musik pun secara tiba-tiba berhenti.
"Kenapa kau berhenti DJ? Ayo mainkan lagi!" rengek Alana.
"Sudah cukup!"
Levin membawa paksa Alana masuk ke dalam kamar.
"Tolong maafkan atas kejadian barusan, silakan dinikmati pestanya. Kami akan segera kembali," ujar Melda.
...----------------...
Di dalam kamar, Levin membaringkan Alana di atas tempat tidur.
"Apa yang kau lakukan?!" bentak Alana tidak terima.
"Harusnya aku yang bertanya, apa yang sudah kau lakukan tadi hah?!"
"Kau ingin membuat aku malu?"
"Tidak."
"Lalu apa yang kau lakukan tadi?"
"Aku tidak tahu."
Levin memijat pelipisnya, dia benar-benar bingung.
...****************...
"Aku benar-benar tidak habis pikir apa yang sudah diperbuat Alana, dia mempermalukan kita," ujar Larasati.
"Kau benar Ibu, dia sudah merusak citra keluarga ini," imbuh Rendra.
"Dia itu hanya gadis kelas menengah, wajar jika dia bersikap seperti itu. Tidak tahu malu!" ketus Almahira.
"Dia seperti itu karena pengaruh minuman," ujar Nenek.
"Justru itu, Nek. Sudah tahu ini acara penting untuk kak Levin. Kenapa dia minum dan membuat kekacauan." lanjut Almahira
"Dia sudah membuat keluarga kita malu." Larasati benar-benar tak habis pikir.
"Dia memang tidak pantas menjadi menantu keluarga ini," ujar Rendra.
"Aku setuju."
"Sudahlah, ini hanya ketidak sengaja. Alana juga mungkin tidak tahu apa yang dia minum," ujar Melda.
"Kenapa Ibu malah membelanya? Dia sudah membuat keluarga kita malu, semalu-malunya!" geram Almahira.
"Ibu hanya ...."
"Sudahlah."
"Minum!" Levin memaksa Alana untuk meminum air lemon.
"Ihh asam!"
"Cepat habiskan!"
Alana menghabiskan air lemon tersebut. Walaupun rasanya asam.
"Siapa yang sudah memberinya minum?" bingung Levin.
"Ehh, kenapa aku ada di kamar?" tanyanya pada diri sendiri. Dia masih belum sepenuhnya sadar.
"Jawab aku! Siapa yang sudah memberimu minum?" Levin menangkup wajah Alana.
"Aku tidak minum, aku hanya minum sirup yang diberikan oleh Alesha," jawabnya.
"Alesha?"
Alana mengangguk. "Iya, katanya itu untuk merayakan ulang tahunmu." Alana menoel-noel perut Levin.
Levin hendak bangkit, tapi Alana menahannya. "Kau mau ke mana? Jangan tinggalkan aku!"
"Kau tunggu di sini, ok?"
"Oke."
Levin keluar dari dalam kamar untuk mencari Alesha.
"Di mana Alesha?" tanya Levin.
"Dia tidak ada di sini, memangnya ada apa?" tanya Melda.
"Ada sesuatu yang harus aku tanyakan."
"Kak, menurutku sebaiknya kita usir saja Alana dari rumah ini. Dia sudah membuat keluarga kita malu," ujar Almahira
"Nenek tolonglah! Ini sudah keterlaluan, kita tidak bisa mentoleransi lagi."
"Jangan buru-buru mengambil sebuah keputusan kita belum tahu apa yang terjadi sebelum itu," ujar Levin.
"Tapi, kak---"
"Mahira."
"Ck!"
"Aku akan mencari Alesha."
"Iya."
Levin mencari Alesha ke beberapa tempat, tapi tak ada.
"Apa kau melihat Alesha?"
"Dia di kamarnya Tuan."
"Hm."
Levin pergi ke kamar Alesha.
"Alesha!"
Ceklek.
"Kak kau, ada apa?"
"Aku hanya ingin bertanya, apa kau yang memberikan Alana minum?"
"I--iya, ta--tapi itu atas perintah Almahira, Aku hanya menurut." Alesha menunduk takut.
"Almahira!" geram Levin.
"Maaf kak, aku tidak tahu kalau akan seperti ini."
"Tidak apa-apa, lain kali jangan diulangi!"
"Iya."
...----------------...
"Jangan sampai Alesha mengatakan kalau kau yang menyuruhnya memberikan minuman itu kepada Alana." bisik Rendra.
"Semoga saja."
"Levin bagaimana?"
Levin melirik Almahira. "Dia tidak mengatakan apapun."
"Huft! Syukurlah." Rendra dan Almahira bernafas lega, ternyata Alesha tidak mengatakan apapun.
'Aku sengaja tidak mengatakan yang sebenarnya, karena aku ingin lihat sampai mana kalian akan berbohong.'
"Levin, tolong maafkan aku. Aku benar-benar tidak menyadari apa yang terjadi padaku, aku tidak berniat untuk merusak pestamu," ujar Alana merasa bersalah, harusnya dia tidak meminum minuman itu begitu saja.
"Lupakan saja!" ketus Levin yang tengah melepaskan jam tangannya.
"Apa kau tidak marah?"
"Untuk apa aku marah, kau juga tidak sengaja."
"Kau benar, tapi aku merasa tidak enak karena telah membuat kau malu ...," lirihnya.
"Jadi?"
"Aku ingin menebus atas kesalahan yang kubuat, katakan saja kau menginginkan aku melakukan apa untuk menebus rasa malumu? Apa aku harus meminta maaf kepada seluruh tamu?"
"Tidak perlu, pestanya sudah berakhir."
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Kau ingin menebus kesalahanmu dengan apapun?"
"Iya."
"Kalau begitu kau tebus kesalahanmu dengan jadi milikku kembali malam ini." Levin menyentuh setiap inci wajah Alana.
"Ma--maksudnya?"
"Kita lakukan seperti malam-malam sebelumnya."
"Ta--tapi ...."
"Tadi kau mengatakan ingin menebus kesalahanmu, anggap saja ini sebagai tebusan itu. Dan kado ulang tahunku."
'Aku terjebak dengan perkataanku sendiri!' Alana menggerutu dalam hati, sekarang dirinya harus melayani Levin kembali.
"Kau setuju atau tidak?"
Alana membuang nafas panjang. "Baiklah."
Levin tersenyum miring. "Good."
Akhirnya terjadi lagi malam panjang yang harus Alana jalani, dirinya terjebak dengan ucapannya sendiri.
Pagi tiba, hari ini Devano dengan diam-diam datang ke perusahaan milik komandan Kim. Dia ingin mencari tahu di mana Alana sebenarnya.
Devano menyamar sebagai OB, dia mengendap-endap menuju ruangan pribadi komandan Kim.
Devano mengintip dari balik pintu yang sedikit terbuka. 'Bukankah itu om Arif!' Devano terkejut melihat kehadiran Arif di ruangan pribadi komandan Kim.
'Jadi om Arif mengenal komandan.'
"Ada keperluan apa kau kemari?" tanya komandan Kim.
"Aku hanya ingin bertemu dengan Alana, apa bisa?" tanya Arif.
"Kau ada-ada saja, untuk sekarang ini kau tidak bisa menemui Alana."
"Tapi aku sangat merindukan putriku."
"Aku mengerti, tapi keadaannya tidak memungkinkan."
"Kim, aku tidak tahu rencana ini benar atau tidak dengan menikahkan Alana dan Levin, tapi ...." Arif menggantung ucapannya.
'Jadi diam-diam komandan Kim telah menikahkan Alana dengan orang lain, si4l!' kesal Devano.
"Rif, sudahku katakan ini yang terbaik ... kita lihat bagaimana kedepannya."
"Tapi kapan aku bisa menemui Alana?"
"Aku akan coba untuk mengajak Alana bertemu, nanti kau juga bisa menemuinya."
"Hmm."
'Aku akan mencari tahu di mana Alana berada sekarang, akan aku pastikan. Alana akan kembali kepadaku.'