
"Bagaimana dengan kabar Devano, ya?" Alana masih terus saja memikirkan nasib Devano, sampai saat ini dirinya masih belum menemukan di mana Devano.
Sebenarnya di mana ruangan rahasia itu?
"Devano aku merindukanmu."
"Semoga saja aku bisa segera menemukanmu, aku ingin kita seperti dulu lagi Devano."
"Siapa Devano?"
Deg.
Alana buru-buru bangkit, Levin ternyata ada di belakangnya.
'Astaga! Apa dia mendengarnya?' Alana menatap Levin dengan keringat dingin.
"Katakan! Siapa Devano?"
"I--itu ...."
Alana menarik nafas dalam. "Devano, adalah kucing kesayanganku," jawabnya.
"Benarkah?"
Alana mengangguk.
Levin membelai rambut Alana. "Aku melihat ada sesuatu yang tidak kau ceritakan padaku, aku harap sesuatu itu tidak membuatku kecewa." bisik Levin.
...----------------...
"Nek, akan ada acara apa? Kenapa nenek menghias rumah ini?" tanya Alesha.
"Hari ini adalah. Hari ulang tahun Levih," jawab nenek.
"Astaga! Aku lupa, ternyata hari ini adalah ulang tahun kakakku." Alesha menepuk jidatnya, bagaimana bisa dia lupa hari spesial kakaknya.
"Aku harus memberikan kado apa?" bingung Alesha.
"Akan aku tanyakan pada Kakak ipar."
Alesha pergi mencari Alana. Dirinya akan bertanya kado apa yang cocok untuk Levin.
"Mau ke mana kau?"
"Aku ingin mencari Kakak ipar."
"Untuk apa?"
"Ya ampun, kenapa kau banyak bertanya? Aku hanya ingin bertanya tentang kado apa yang harus aku berikan kepada kak Levin."
"Untuk apa kau bertanya kepadanya? Kau seperti tidak tahu tentang kak Levin saja, berikan apa yang dia suka," ujar Almahira.
"Almahira---"
"Aku heran, sihir apa yang sudah gadis kelas menengah itu berikan kepada anggota keluarga ini? Sampai-sampai kalian begitu menyukainya."
"Almahira, berhentilah! Jangan kau menjelek-jelekkan kakak ipar terus!"
"Ale---"
"Almahira, Alesha!" bentak Levin.
Almahira dan Alesha menoleh ke arah Levin.
"Kenapa kalian selalu saja bertengkar?"
"Kak, aku tidak pernah bertengkar dengan Alesha selama ini semenjak kehadiran gadis kelas menengah ini. Aku jadi sering bertengkar dengan Alesha hanya karenanya!" sinis Almahira menatap tak suka ke arah Alana.
"Kak, aku hanya tidak terima Almahira menjelek-jelekkan Alana terus menerus. Aku hanya---"
"Sudah! Dan kau Almahira, berhentilah untuk menjelek-jelekkan Alana. Dia sekarang istriku, jika ada orang siapapun itu termasuk keluargaku yang menjelek-jelekkannya. Maka, mereka sama dengan menjelek-jelekkan diriku!" tegas Levin.
"Inilah satu bukti lagi pengaruh penyihir Alana ini sangat dahsyat. Sampai-sampai membuat kakakku ikut terpengaruh."
"Almahira---"
Alana memegang tangan Levin saat dia ingin menampar Almahira.
"Kak, kau ingin menamparku?" Almahira benar-benar tak habis pikir.
"B--bukan b--begitu, aku---"
"Sudahlah! Aku kecewa. Semenjak ada dirinya kalian tidak lagi sayang padaku."
Almahira pergi meninggalkan mereka.
"Kak!" panggil Alesha.
"Almahira!"
"Kak aku pergi dulu!" pamit Alesha. Levin hanya mengangguk.
"Tidak seharusnya kau melakukan itu," ujar Alana.
"Dia sudah keterlaluan."
"Tapi tidak seharusnya kau ingin bermain tangan dengannya, bagaimanapun dia adikmu."
"Kau tidak akan mengerti bagaimana sikap Almahira, jika sudah tidak suka dengan orang."
Alana membantu beberapa Maid menyiapkan sarapan, dia juga memasak. Hari ini adalah hari pertamanya menjadi menantu di keluarga Christensen walaupun bukan atas keinginannya.
Dia tidak ingin menjadi menantu ataupun istri yang tidak bertanggung jawab, mau tidak mau dia harus tetap melakukannya.
Seluruh keluarga sudah mulai duduk di kursi masing-masing untuk melakukan sarapan pagi.
"Nak, panggil suamimu untuk makan!" titah nenek.
"Baik, Nek."
Alana menaiki anak tangga menuju kamar untuk memanggil Levin, sampai dia tiba di depan pintu kamar. Dia mendengar Levin berbicara dengan orang lain di telpon.
"Kau harus pastikan semuanya berjalan dengan lancar, aku tidak ingin ada kata gagal." Itulah sepotong pembicaraan yang Alana dengar.
"Alana!"
"Hah? Oh maaf, aku ingin memanggilmu untuk sarapan," ujar Alana, setelahnya dia pergi.
"Kenapa dengan gadis itu?"
Tanpa memperdulikan Alana, Levin pun ikut turun untuk sarapan.
Sampai meja makan mereka langsung memulai sarapannya.
"Kak, coba ini!" Alesha menyendok sup jamur dan meletakkannya di mangkuk Levin.
"Apa ini?" tanyanya.
"Ini sup jamur rasanya enak sekali. Kakak ipar yang membuatnya," jawab Alesha.
"Betul itu, ayo cobalah!" Ibu Melda menimpali.
Levin menyuapkan sup jamur ke dalam mulutnya, rasanya ....
"Bagaimana, kak?" tanya Alesha.
"Sudah pasti rasanya biasa saja, hanya sup jamur!" sinis Almahira.
"Almahira, kakakmu baru mencobanya!" tegur nenek.
"Aku tahu kakakku bagaimana, lidahnya tidak akan cocok dengan makanan seperti itu."
"Bagaimana Kak?" Alesha kembali bertanya.
Levin melirik Alana sekilas. "Hmm, enak."
Alana tersenyum mendengar pujian dari Levin, lidah Levin memang tidak mudah untuk menerima makanan yang masuk ke mulutnya untuk dikatakan enak atau tidak. Tapi setelah memakan makanan Alana lidahnya cocok-cocok saja.
"Tidak mungkin," ujar Almahira setengah berbisik.
Mereka melakukan sarapan dengan hikmat.
...----------------...
"Halo, Kim." sapa Arif.
"Iya, Rif. Ada apa? Tidak biasanya kau menelponku pagi-pagi," ujarnya.
"Aku sedikit khawatir dengan Alana, apakah dia baik-baik saja di sana?"
"Sudah kau percayakan saja padaku, sekarang ini Alana berada di tangan orang yang tepat."
"Tapi kalau Alana tahu kita merencanakan ini. Apa dia tidak akan marah?"
"Hanya waktu yang bisa menjawab, kita melakukan ini juga demi kebaikan Alana."
"Aku tahu itu, tapi kau mengertikan bagaimana posisiku sebagai seorang ayah yang jauh dari putri satu-satunya."
"Aku tahu, aku mengerti ... sekarang lebih baik kita doakan saja yang terbaik untuk Alana."
"Iya, walaupun sebenarnya aku sedih. Karena di hari pernikahan putriku satu-satunya aku tidak bisa ada di sampingnya."
"Aku mengerti, tapi kau sudah melihat rekaman pernikahan Alana kan?"
"Sudah."
"Ayah mana yang tidak sedih disaat pernikahan putrinya tidak bisa hadir, tapi masalahnya rencana ini harus tetap berjalan."
"Aku tahu, ya sudah aku tutup ... Aku akan pergi ke kantor."
"Baik."
Tut.
Arif, Anaya, dan kedua adik Alana Tahu tentang rencana komandan Kim dan tentang rencana licik Devano mendekati Alana. Makanya mereka ikut bersandiwara dalam hal ini demi memuluskan rencana komandan Kim.
Secara logika mana mungkin Arif mengizinkan Alana untuk tinggal sendiri hanya karena alasan tempat kuliahnya jauh, jika mau Arif mungkin bisa memindahkan tempat kuliah Alana ke depan mansionnya.
Demi rencana komandan Kim, mau tidak mau.
'Aku merindukan bunda.' Alana duduk di tepi kolam renang di samping kamarnya.
"Aku juga merindukan Daddy, dan kedua adik nakalku," ujar Alana terkekeh sendiri saat mengingat masa-masa dirinya bersama Alex dan Rex kenakalan yang mereka buat selalu membuat Alana marah-marah sampai mengadu kepada Arif. Walaupun ujung-ujungnya Arif selalu membela anak-anaknya.
Levin yang melihat Alana tersenyum-senyum sendiri merasa aneh.
"Apa kau sudah gila?"
"Apa!" Alana tak terima saat Levin mengatakannya gila, enak saja.
"Iya, kau sudah gila karena tersenyum-senyum sendiri."
"Aku tidak gila, aku hanya teringat masa-masa diriku bersama kedua adik nakalku."
"Kau punya adik?" Levin duduk di samping Alana.
"Iya, yang pertama namanya Alex. Yang kedua namanya Rex, mereka adalah adik-adikku ... mereka itu sama seperti Alesha dan Almahira, makanya setiap aku melihat Alesha dan Almahira aku teringat kedua adikku."
"Sepertinya kau sangat menyayangi adik-adikmu."
"Apa kau menyayangi adik-adikmu?" tanya Alana.
"Tentu, karena mereka adik-adikku."
"Kalau begitu untuk apa kau bertanya, seorang Kakak sudah pasti sangat menyayangi adik-adiknya."
"Apa kau juga menyayangiku?"
"Apa?"
"Tidak ada, kau hanya salah dengar." Setelah mengatakan itu Levin pergi meninggalkan Alana.
"Apakah aku salah dengar? Aku dengar Levin bertanya apakah aku menyayanginya?" Alana memukul-mukul telinganya, apakah dia salah dengar? Levin bertanya ....
"Hah, sudahlah. Mungkin aku hanya salah mendengarnya."