
"Tapi apa, Dok?" Arif memegang pundak sang dokter yang menangani Alana.
"Kami tidak bisa menyelamatkan bayinya, goncangan yang sangat hebat saat kecelakaan membuat kandungannya bermasalah. Jadi, kami harus mengangkatnya."
"Apa!" Arif benar-benar terkejut, begitu juga Anaya. Dia sangat syok.
"Yang sabar, saya permisi."
"Mas, bagaimana sekarang cara kita untuk memberi tahu Alana dan Raja?"
"Kita harus tetap memberi tahu mereka."
......................
"Kak, kau baik-baik saja?" tanya Alesha.
"A--aku tidak papa, bagaimana Alana?"
"Kami belum tahu, Kak."
"Levin, kenapa kau bisa kecelakaan seperti ini? Apa yang terjadi?"
"Aku juga tidak tahu, Nek. Tiba-tiba rem mobilku blong."
"Tapi syukurlah kau selamat, Ibu tidak tahu apa yang akan terjadi dengan Ibu. Jika sampai terjadi sesuatu denganmu."
"Jangan katakan itu, Ibu. Aku baik-baik saja."
"Kau yakin, Kak?"
"Iya, Almahira."
Ceklek!
Arif masuk ke dalam ruang rawat Levin. "Levin. Kau baik-baik saja?"
"Aku baik, hanya luka sedikit ... Daddy, bagaimana Alana? Apa dia juga baik-baik saja?"
"Lalu bayi kami bagaimana?" lanjutnya.
"Itu yang ingin Daddy sampaikan kepadamu, Alana dia baik-baik saja. Dia tidak terlalu terluka secara fisik."
"Syukurlah." Levin bernafas lega mendengarnya.
"Tapi, bayi kalian ...."
"Ada apa dengan bayi kami?"
"Dokter mengatakan, guncangan yang terjadi saat kecelakaan membuat kandungan Alana bermasalah. Jadi, dokter dengan terpaksa harus mengangkat bayi kalian yang baru memasuki dua bulan."
Deg!
Levin yang mendengar itu benar-benar tidak menyangka, keluarga Levin juga benar-benar syok.
"Ti--tidak mungkin!" Levin menggeleng tak percaya.
"Vin ...."
"Apa Alana tahu tentang ini?" tanya Melda.
"Belum, aku rasanya tak sanggup untuk memberitahu Alana tentang ini. Dia pasti akan sangat syok."
"Kami mengerti."
"Aku akan menemui Alana."
"Tidak, Kak. Kau masih sangat lemah!" cegah Almahira.
"Alana butuh diriku."
"Tapi, kak---"
"Mahira!"
"Ck! Baiklah."
"Akanku bantu." Rendra membantu Levin menuju ruang rawat Alana.
Levin berjalan dengan tertatih-tatih sesekali dia memegangi kepalanya.
"Bun!" panggil Levin yang melihat Anaya duduk di luar ruangan rawat Alana.
"Levin, kau tidak apa-apa?" Anaya bangkit dari duduknya.
"Iya, Bun. Bagaimana keadaan Alana? Apa dia sudah sadar?"
"Su--sudah."
"Aku akan masuk."
"Kau yakin, Kak?"
"Iya."
"Perlu kubantu?"
"Tidak! Aku bisa sendiri."
Levin dengan perlahan membuka pintu ruangan Alana.
Ceklek!
Dia melihat Alana yang terbaring lemah di atas brankar, Levin duduk di kursi samping Alana.
"Al!" panggilnya, Alana membuka matanya saat mendengar suara Levin.
"Le--Levin. Kau tidak apa-apa, 'kan?" tanyanya dengan suara lemah.
"Aku lebih baik."
"Syukurlah."
"Levin!"
"Heum?"
"Apa bayi kita baik-baik saja?"
Levin gelagapan mendengar penuturan Alana, apa yang harus dia katakan?
"Levin, jawab! Bayi kita baik-baik saja, 'kan?"
"Alana, i--itu ...."
"Itu apa?"
"Alana dengarkan aku ...! Saat kecelakaan, perutmu terguncang cukup kuat. Yang menyebabkan kandunganmu bermasalah. Jadi, dokter harus mengangkat bayi kita," jelas Levin dengan berat hati.
"Ja--jadi, bayiku tidak ada?"
Levin mengangguk dengan sedih. "Iya," lirihnya.
Air mata Alana mengalir dengan begitu saja, walaupun kehadiran bayi itu tidak begitu Alana harapkan. Tapi kenapa saat dia kehilangannya rasanya sesakit ini?
"Vin, itu tidak mungkin! Anak kita ...." Alana mengguncang lengan Levin.
Levin segera memeluk Alana. "Sst! Tenanglah, kita harus ikhlas."
"Bagaimana aku bisa terima? Bayiku pergi meninggalkan aku. Sebelum dia lahir ke dunia!" tangis Alana mencengkeram kuat punggung Levin.
"Aku tahu itu, aku pun merasakan yang sama. Tapi ini sudah kehendak Tuhan, Al."
"Bayiku!" teriaknya, Levin semakin erat memeluk Alana.
Bukan hanya Alana yang terluka, tapi dirinya juga. Walaupun kehadiran bayi kecil itu bukan didasari oleh cinta, tapi Levin sangat menanti kelahirannya ke dunia ini. Sekarang dirinya harus menelan kekecewaan setelah sang bayi dinyatakan keguguran.
Cobaan apa ini Tuhan?
"Alana!" panggil Arif.
Mereka semua masuk setelah mendengar teriakkan Alana.
"Daddy!" Alana beralih memeluk Arif.
"Bayiku."
"Iya, Nak. Daddy tahu, sabarlah!"
"Iya, sayang. Ini memang berat, tapi kau harus terima." Anaya mengusap punggung putri tercintanya yang terlihat begitu terluka.
"Al, Nenek tahu kau sangat sedih. Tapi siapa yang akan menyangka jika ini semua akan terjadi," ujar Nenek turut merasakan perasaan sedih.
"Bersabarlah, Tuhan pasti akan mengganti semua yang terjadi dengan yang lebih baik." Melda menimpali.
"Aamiin," ujar serempak anggota keluarga.
"Sekarang kau harus istirahat! Agar cepat pulih," ujar Arif.
"Tapi---"
"Benar apa yang dikatakan Daddy, nanti jika kau sudah pulih. Kau bisa cepat pulang," ucap Anaya.
"Vin, apa bisa nanti kita pulang ke rumah Bunda saja?"
"Iya, Alana. Tapi sekarang kau harus istirahat, ya?"
"Iya."
Alana kembali berbaring, Levin menarik selimut hingga menutupi setengah dada Alana.
Levin juga menc1um kening Alana cukup lama, diikuti oleh Arif.
"Aku akan keluar sebentar." pamit Levin.
Alan hanya mengangguk lemah. "Daddy juga harus pergi, nanti Daddy akan datang ke sini bersama kedua adikmu."
"Kami juga pamit, ikhlaskan." Melda mengusap kepala Alana.
"Iya, Bu."
Mereka semua keluar dari ruangan Alana.
Alana meraba perutnya yang kini sudah tidak ada kehidupan lagi.
"Bayiku, Ibu. Sangat menyayangimu, kau baik-baik di surga sana!" tangis Alana, rasanya sulit sekali menerima apa yang terjadi padanya.
...----------------...
"Halo, Dino. Kau cari tahu siapa orang yang sudah membuat rem mobilku blong, aku sangat yakin pasti ada pelakunya."
"Baik, Tuan. Aku akan melaksanakan perintahmu."
Tut.
"Argh!"
Bugh!
Levin memukul tembok rumah sakit, dia tidak akan mengampuni orang yang sudah berani merusak rem mobilnya. Sampai dirinya harus kehilangan sang calon bayi.
Ada yang tau kira-kira pelakunnya siapa ya🤔
BERTEMBUNG...