Learn to Love You

Learn to Love You
Part 46



Tok! Tok!


"Masuk!"


Hening.


Tok! Tok!


"Masuk!"


Hening.


Alan bangkit dari duduknya, berjalan menuju pintu.


Ceklek.


"Siapa?" Alana melihat sekeliling tapi tidak ada orang, lalu siapa yang mengetuk pintu kamarnya?


"Tidak ada orang, mungkin hanya orang iseng saja."


Saat dia hendak kembali masuk, dia melihat kotak yang berukuran cukup besar di depan pintu kamarnya.


"Dari siapa ini?" Alana mengambil kotak tersebut dan membawanya masuk.


Alana meletakkan kotak tersebut di atas tempat tidur, dia akan membukanya.


Lagi-lagi sosok bermata hitam pekat mengintip dari balik celah pintu, b1b1r pink-nya tersenyum saat Alana akan membuka kotak tersebut.


Alana pun membuka tutup kotak tersebut, tak lama. "Aaa! Apa ini?"


Bug.


Alana melemparkan kotak tersebut ke lantai setelah melihat isinya, ternyata isi di dalam kotak tersebut. berisikan foto-foto keluarga Levin yang berlumuran darah.


"Siapa yang sudah mengirimkan ini, apa maksudnya? Apakah dia orang yang sama dengan yang sudah menculikku?"


Wanita bertopeng itu tiba-tiba muncul di depan Alana. "Kau?!" kaget Alana memundurkan langkahnya.


"Ada apa, hmm. Terkejut?"


"Se--sedang apa kau di sini?"


"Tidak ada ..., apa kau menyukai hadiah dariku?"


"Ja--jadi kau yang mengirimkan foto-foto berlumuran darah itu?"


"Iya, kenapa?"


"Apa yang ingin kau lakukan, hah?!"


"Yang ingin kulakukan. Kau pun sudah tau. Jadi, bersiaplah ... selamatkan keluargamu terutama suamimu. Jika kau bisa," ujarnya tersenyum tipis.


"Jangan coba-coba kau menyakiti suamiku!"


"Kenapa, apa kau sudah mulai mencintai laki-laki biad4p itu?"


"Apa maksudmu? Laki-laki biad4p apa?"


"Kau tidak akan mengerti, apapun yang akan terjadi itu sudah balasan yang tepat untuknya."


"Apa maksudnya? Katakan saja!" bentak Alana.


"Alana!" panggil Levin, Alana menoleh ke arah Levin yang berdiri di ambang pintu.


"Levin."


"Kau berbicara dengan siapa? Kenapa kau berbicara dengan nada membentak seperti itu?" tanyanya menghampiri Alana.


"Aku berbicara dengan wanita ini." Alana menunjuk tempat wanita bertopeng tadi.


"Wanita siapa?"


"Wanita i---"—hilang.


'Wanita bertopeng itu pergi ke mana?'


"Tadi dia di sini, lalu ke mana dia pergi sekarang? Aku benar-benar yakin. Wanita bertopeng itu ada di sini tadi, dan dia juga mengirimkan foto-foto keluarga kita berlumuran darah dalam kotak itu ...." Alana menghentikan ucapannya saat kotak dan wanita bertopeng itu sama-sama menghilang.


"Kotak, wanita bertopeng. Apa maksudnya? Tidak ada orang di sini ataupun kotak yang kau sebut, mungkin kau hanya kelelahan. Istirahatlah!" Levin menuntun Alana untuk berbaring.


"Tapi Levin. Tadi—"


"Ssst! Tidur."


"Le—"


Cup.


"Tidurlah, aku ada di sini."


Alana memeluk erat lengan Levin.


Alana akhirnya menurut dan menutup matanya, mungkin benar dia kelelahan. Tapi kenapa rasanya tadi itu benar-benar nyata adanya?


Sepasang mata hitam menatap keduanya. "Aku rasa. Aku sudah tahu bagaimana caranya untuk menghancurkan Levin perlahan. Yaitu, lewat dirimu Alana, jika kau hancur Levin juga akan ikut hancur."





Byurr!


Arif menyemburkan kopi yang baru di minumnya. "Apa katamu? Ingin menikahi Disha?"


"I–iya," jawab Alex menunduk.


"Lex ...."


"Dad, aku harus menikahi Disha."


"Tapi kenapa?"


"Aku ingin menyelamatkannya dari keluarganya yang jahat itu, aku yakin jika aku menikah dengan Disha. Dia memiliki tempat untuk berlindung."


Arif memijat pelipisnya, putranya ini masih kuliah semester awal. Tiba-tiba meminta ingin menikah.


Siapakah Disha wanita yang ingin dinikahi oleh Alex?