Learn to Love You

Learn to Love You
Part 44



Levin berjalan tergesa-gesa menghampiri Alesha dan Nenek yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


"Alesha, Nenek!"


"Kak."


"Levin."


"Bagaimana dengan Alana, apa dia sudah ditemukan?"


"Belum Kak. Tadi, para bodyguard sudah menyusul kak Alana ke taman, tapi tidak ada."


"Apa! Bagaimana bisa?"


"Aku juga tidak mengerti, seharusnya kak Alana ada di taman. Sesuai isi surat itu."


"Argh ...! Dino!"


"I--iya, Tuan?"


"Cari tahu siapa yang sudah menulis surat itu untuk Alana, siapapun orangnya pasti dia tahu di mana Alana sekarang ... Alesha berikan suratnya!"


"Ini Dino."


"Baik, saya akan cari tahu siapa pelakunya."


Dino segera bergegas pergi untuk melacak penulis surat tersebut yang membuat Alana menghilang.


"Kak, apa kita akan mencari kak Alana?"


"Iya, tapi kita harus tahu dulu siapa orang itu, karena jika tidak. Akan sangat sulit menemukan Alana, dia sepertinya orang yang cukup berbahaya."


"Apakah Alana akan baik-baik saja?"


"Nek, Alana pasti baik-baik saja. Nenek jangan khawatir."


...----------------...


Alana berusaha membuka ikatan di tangannya. "Kenapa sulit sekali?!" kesalnya.


"Alana, makan!" Wanita bertopeng tersebut datang memberikan sepiring makanan.


"Aku tidak mau!"


"Jika kau tidak makan. Maka, kau akan mati sia-sia saja, dan aku tidak perduli untuk itu. Yang terpenting tujuanku tercapai."


"Tujuan apa maksudmu?"


"Tujuan untuk menghancurkan Levin!" tekannya di telinga Alana.


"Jangan macam-macam kau!" bentak Alana.


Dia tertawa. "Tapi sayangnya sudah terlambat, aku sudah meletakkan sesuatu di dalam rumah Levin. Yang akan menghancurkan segalanya," ujarnya bersedekap dada.


"Jangan sakiti keluargaku!"


"Kau bisa apa sekarang, hmm? Kau tidak bisa apa-apa ... lihatlah akan ada kabar besar yang akan membuatmu begitu terkejut."—dia pergi.


"Hei, lepaskan aku! Jangan sakiti keluargaku, apa yang ingin kau lakukan?!" bentak Alana.


"Ihhh!" geram Alana berusaha melepaskan ikatannya.


'Tuhan, lindungilah keluargaku. Aku mohon, dan bantulah aku untuk bebas dari sini.'


"Dino!" teriak Levin.


"I--iya, Tuan."


"Apa kau sudah menemukan siapa yang menulis surat itu?"


"Belum, Tuan."


"Kenapa belum? Kita harus segera menemukan di mana Alana, dan kau masih belum tahu siapa pelakunya?!" bentak Levin.


"Maaf, Tuan. Saya sudah melakukan pencarian, tapi sepertinya orang yang menulis itu benar-benar cerdik. Dia menulis itu bukan dengan tangannya sendiri."


"Aku tidak perduli, yang kuperdulikan di mana Alana sekarang!"


"Saya akan mencari tahu lagi, permisi."


Brak!


"Argh!"





"Mahira!"


"Iya, Bu."


"Ambil ini dan berikan kepada Xander."


"Iya."


Saat Almahira melintas di salah satu lorong, dia mendengar sebuah suara.


Tit. Tit. Tit ....


"Suara apa itu?" Almahira melihat sekeliling, tapi suara yang dia cari tidak ada.


Almahira hanya mengangkat bahunya acuh, dan kembali melanjutkan langkahnya.


"Diam! Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu, lebih baik kau bersyukur karena aku menculikmu. Karena jika tidak. Maka, kau akan ikut menjadi abu nanti," ujarnya menatap tajam Alana.


"Apa maksudmu ikut menjadi abu?"


"Karena aku sudah memasang peledak di salah satu tempat di rumah itu, yang jika aku menekan tombolnya. Maka, bumm ...!"—Wanita itu tertawa.


"Jangan kau macam-macam, lepaskan aku!"


"Ck-ck! Sayang sekali, tidak akan."


Dia pergi meninggalkan Alana sambil tertawa.


"Hei, lepaskan aku ...! Argh!"


'Aku harus bisa pergi dari sini, jika tidak. Keluargaku dalam bahaya.'


Alana melihat sekeliling guna mencari sesuatu yang bisa membantunya untuk melarikan diri.


Dia melihat kaca yang pecah di atas sebuah meja kayu, Alana dengan susah payah berusaha mendekati meja tersebut.


"Ayo bisa!" Alana terus berusaha berjalan dengan susah payah.


Setelah berhasil, dirinya mengambil salah satu pecahan kaca dengan salah satu tangannya yang bisa sedikit bergerak.


Srek. Srek. Srek ....


Setelah mencoba beberapa kali akhirnya tali yang mengikat tangan Alana berhasil terlepas.


"Hah! Akhirnya." Alana menarik nafas lega saat tangannya sudah tak terikat.


Dia juga melepaskan tali yang mengikat kedua kakinya. "Aku harus segera pergi dari sini. Sebelum wanita bertopeng itu datang lagi."


Alana mencari-cari celah yang cukup besar untuk dirinya agar bisa keluar, dia tidak mungkin keluar lewat pintu. Karena pasti akan ketahuan.


Alana mendongak ke atas, dia melihat sebuah cahaya yang begitu terang dari luar. Sepertinya itu sebuah jendela yang sudah rusak.


"Tapi bagaimana aku bisa sampai ke atas sana?" bingungnya.


Alana pun menumpuk beberapa meja dan kursi agar dirinya bisa memanjat dan sampai ke jendela tersebut, dirinya harus cepat jika tidak. Wanita bertopeng itu akan menghalangi dirinya untuk pergi.


Alana naik dengan perlahan-lahan. "Aku harus segera pergi, dia pasti akan segera masuk ke sini."


Wanita bertopeng itu memang selalu memeriksa Alana setiap satu jam sekali. Itu, yang membuat Alana harus cepat-cepat pergi.





"Dino, sebaiknya kita cari Alana."


"Benar, Tuan. Karena jika kita terus menunggu. Aku rasa kita tidak akan pernah menemukan nona Alana."


"Siapkan mobil!"


"Baik."


Dino pergi untuk menyiapkan mobil, sedangkan Levin dia pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya dengan yang lebih simpel.


Sampai kamar ternyata Sirtu sedang membersihkan kamarnya, Levin berjalan ke arah lemari tanpa memperdulikan Surti yang diam-diam menatapnya.


Surti tersenyum tipis. "Tuan, apa Tuan akan pergi mencari nona Alana?" tanyanya basa-basi.


"Hemm."


"Apa Tuan sudah tahu di mana nona Alana sekarang?"—Levin berbalik dan menatap tajam Surti.


"A--aku hanya ingin tahu saja."


Levin langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


Surti berdecak kesal.


Lima menit kemudian Levin keluar dari kamar mandi, dia terkejut karena masih mendapati Surti di kamarnya.


"Apa pekerjaanmu sudah selesai?"


"Sudah, Tuan."


"Lalu kenapa kau masih di kamarku?"


"Aku hanya ingin membantu Tuan untuk bersiap-siap."


"Tidak usah! Kau bukan istriku, dan kau tidak berhak untuk itu. Hanya Alana yang berhak, keluar!"


Sirti dengan kesal akhirnya keluar dari kamar Levin.


Bug.


"Aws ...!"—Alana berhasil melompat, walaupun begitu tinggi mau tak mau dirinya harus berani melompat. Jika tidak, dirinya tidak akan bisa pergi.


"Aku harus segera sampai di rumah." Alana segera berlari dengan kakinya yang sedikit sakit. Akibat pendaratan dirinya saat melompat yang kurang tepat.


Brak!


"Alana!"


"Si4l! Wanita itu kabur."


Wanita bertopeng itu menatap meja-meja dan kursi yang di tumpuk. Sudah pasti Alana melarikan diri lewat jendela yang rusak itu.


BERTEMBUNG...