Learn to Love You

Learn to Love You
Donatur Terbesar Disekolah



Hanya saja untuk yang pertama kalinya Ace bisa mengatakan jelas kalau Fayra adalah kekasihnya.


Mereka tidak mengerti bagaimana bisa Ace mengatakan semua itu, sebelum adanya pernyataan cinta untuk Fayra? Entahlah, cuman Ace yang bisa mengerti dirinya sendiri.


"Lu jadian sama Kak Ace, Raa? Kenapa lu enggak bilang sama kita-kita? Wah, pelanggaran sahabat ini namanya!" celetuk Arsyi.


"Yak! Enak aja, lagian Kakak ngapain sih ngaku-ngaku pacar Fayra. Orang kita enggak ada hubungan apa-apa, juga!" sahut Fayra, begitu kesal.


"Ya udah, kalau begitu kita fix pacaran. Hari ini, detik ini, jam ini dan juga tahun ini. Fayra akan menjadi kekasih Ace selamanya, kalian dengar semua!"


Semua orang terkejut dan ada sebagaian juga yang bertepuk tangan sangat meriah serta meminta di teraktir oleh Ace.


"Oke, gua akan teraktir kalian semuanya hari ini. Silakan makan sepuasnya. Dan satu lagi, jangan pernah ada yang berani sedikit pun mengganggu cewek gua, atau kalian akan tahu akibatnya! Paham!"


Ace berdiri menatap semua orang yang ada di kantin dengan tatapan Elangnya. Kali ini Ace berada didalam mode penuh keseriusan, Fayra yang mendengar itu pun merasa sedikit terkejut.


Jika memang Ace tidak mencintainya, kenapa dia harus memaksa Fayra untuk menjadi kekasihnya di sekolah. Padahal, kenyataannya Ace belum menyatakan cintanya padanya. Membingungkan!


Tapi, ya sudahlah. Memang seperti ini Ace, dia akan bertingkah semaunya jika memang sudah menjadi keputusannya, tanpa bermusyawarah pada Fayra lebih dulu.


Perasaan kesal, jengkel dan juga marah kembali menyelimuti Fayra. Dia tidak habis pikir sama Ace, bisa-bisanya dia menyatakan semua itu tanpa persetujuan dirinya.


Brak!


"Pokoknya aku enggak mau jadi kekasih, Kak Ace. Titik!"


Fayra menggebrak meja begitu keras lalu berbalik dimana tepat saat Fayra berbalik, satu tamparan keras berhasil mengenai pipinya dari seseorang yang selama ini menjadi musuhnya.


Plak!


Semua orang terkejut, berdiri menatap kearah Fayra yang sedang memegangi pipinya. Fayra melirik tajam kearah orang yang sudah menamparnya.


"Alena!" geram Ace, mengepalkan tangan kanannya. Dia terlihat begitu emosi saat melihat istrinya disentuh oleh wanita licik sepertinya.


"Udah berapa kali gua peringatin sama lu, Ace itu cowok gua! Jadi jangan pernah lu rebut dia dari gua, dasar ja*lang!" pekik Alena.


"Lu yang harusnya tahu diri ja*lang! Gua bukan cowok lu lagi! Jadi stop, merendahkan harga diri lu!"


"Harusnya lu malu lihat orang miskin yang memiliki harga diri lebih tinggi. Sedangkan lu, gadis kaya raya tapi miskin harga diri! Cih ...." tegas Ace.


"Ace! Kenapa sih lu tuh selalu aja belain Fayra, apa sih kurangnya gua, hah! Gua cantik, kaya, mulus. Lu belum tahu aja, di depan lu dia sok polos, sok lugu. Tapi dibelakang lu dia simpenan Om-om yang haus akan sentuhan!" pekik Alena.


"Alena, lu benar-benar udah kelewat batas!" ucap.Ace penuh penekanan.


Ace yang tidak bisa mengontrol emosinya langsung mengangkat tangannya setinggi mungkin.


Namun, sayangnya. Fayra segera menahannya dan menggelengkan kepalanya.


"Cukup, Kak! Jangan pernah mengotori tanganmu hanya demi menyakitinya. Ingat, kamu pria! Jangan sampai semua wanita menganggapmu rendah, hanya karena berani melukai seorang wanita!"


Ace menurunkan tangannya bersamaan dengan tangan Fayra. Alena menatap tajam kearah Fayra, berbeda halnya sama kedua sahabat Alena.


Mereka menutup wajahnya, karena mereka berpikir bahwa tamparan yang akan Ace berikan pasti terasa sangat menyakitkan.


"Lu tuh ya, enggak ada kapok-kapoknya ganggu sahabat gua! Mau lu tuh apa sih, hah!" teriak Arsyi yang langsung melangkahkan kakinya berdiri disamping Fayra.


"Kayanya mereka berdua itu enggak cocok deh berteman dengan Alena, lebih cocok berteman sama kita aja sini. Skuy!"


"Lumayan kan dapat kehidupan yang lebih cerah, dari pada kena tekanan batin tiap hari, punya ketua bringas kaya dia haha ...."


Nata meledek kedua sahabat Alena, sehingga Lydia dan Violet segera menurunkn tangannya dan bersikap seolah-olah sedang menantang mereka semua. Nata berdiri tepat disamping sahabatnya sambil menaruh lengannya di pundak Sheila.


"Lepasin tangan lu!" ucap Sheila menoleh kearah Nata. Secepat kilat Nata melepaskannya sambil cengengesan.


Alena yang mendengar ucapan Nata merasa terhi*na, kemudian menoleh kearah kedua sahabatnya yang ada 1 langkah di belakangnya.


"Lu berdua udah bosen temenan sama gua?" tanya Alena, matanya menyorot tajam. Kedua sahabatnya menatap satu sama lain dengan perasaan ketakutan.


"E-enggak, mereka aja kali yang takut sama lu. Terus ngelimpahinnya ke kita-kita. Lagian siapa juga yang bosen temenan sama lu. Udah baik, cantik, pintar lagi" ucap Violet yang berada di samping Alena bersama Lydia.


"Lebih tepatnya sih kaya raya. Dengan begitu ketika gua butuh, gua bisa ngandelin Alena yang bo*doh ini!" sambung Violet didalam hatinya.


"Kalau bukan orang kaya raya juga, gua sama Vio juga enggak mau temenan sama cewek yang bisanya cari masalah mulu!" gumam batin Lydia, tersenyum menatap Alena.


Alena yang terlalu bo*doh untuk dikelabuhi, hanya bisa percaya oleh mulut manis kedua sahabatnya. Fayra yang melihat gelagat aneh dari Violet dan juga Lydia, sedikit menaruh curiga.


"Sepertinya ada yang tidak beres sama mereka berdua, tapi apa ya? Entahlah, aku enggak mau ikut campur urusan mereka bertiga!" sahut Fayra didalam hati kecilnya.


"Lebih baik lu pergi dari sini, atau gua enggak segan-segan untuk keluarin lu bertiga dari sekolah ini!" pekik Ace.


"Siapa lu nyuruh-nyuruh gua, hah? Asal lu semua tahu ya. Bokap gua ternyata donatur terbesar di sekolah ini, jadi lu semua ada dibawah kekuasaan gua!"


"Dan untuk lu, Ace! Seharusnya bukan gua yang akan keluar dari sekolah ini. Melainkan, Fayra dan ketiga sahabatnya!"


Alena memekik keras, dipenuhi oleh perasaan bangga sambil melipat kedua tangannya di dada. Senyuman licik serta miring, kini menebar di bibir Alena dan juga sabahatnya.


Bahkan semua orang yang mendengarnya pun langsung terkejut, ketika mengetahui bahwa Alena adalah anak dari seorang donatur terbesar disekolahnya.


Mau tidak mau semua murid hanya bisa menunduk, mereka bertekat mulai setik ini tidak mencari gara-gara dengan Alena atau pun kedua sahabatnya.


Lydia dan Violet saling melirik satu sama lain penuh senyuman. Mereka tidak menyangka bahwa Alena adalah anak orang yang benar-benar kaya raya.


Jadi kemungkinan besar mereka berdua mempunyai peluang besar agar bisa memanfaatkan Alena.


Fayra dan ketiga sahabatnya merasa bingung, tetapi mereka tidak gentar untuk terus berpegang teguh pada pendiriannya.


Terlepas dari siapa Alena, bagi mereka tetaplah sama. Karena yang berperan penting disekolah ini hanyalah Daddynya bukan anaknya.


Ace yang melihat kesombongan didalam diri Alena benar-benar terkejut, wanita yang awalnya pernah dia sukai akibat kecantikan dan juga keanggunannya.


Kini, membuat Ace sangat menyesal lantaran telah menyisipkan perasaan untuk Alena. Ya walaupun hanya seujung kuku.


Namun, perkataan seseorang mampu membuat kesombongan Alena berhasil menghilang. Rasa malu, kesal dan juga marah melanda diri Alena. Hingga akhirnya dia menaruh dendam kepada orang tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...