Learn to Love You

Learn to Love You
Fayra Mau Pisah, Titik!



Namun, Fayra kembali meneteskan air matanya ketika ucapannya beberapa detik lalu saling bertolak belakang sama perasaannya.


Amma Trysta yang melihat adanya perasaan dilema pada anaknya, hanya bisa memeluknya begitu erat. Lalu, pecahlah tangisan Fayra didalam dekapan Ammanya.


"Sstt, Sayang. Kamu tidak boleh berbicara seperti itu, apa kamu tidak percaya kalau suamimu sudah mulai men--"


"Tidak, Amma. Tidak! Kak Ace itu berbohong, dia itu tidak mencinta Fayra. Kalau dia mencintai Fayra dia tidak akan menyakiti Fayra secara terus menerus seperti ini, hiks ...."


"Fayra lelah, Amma. Fayra, lelah! Fayra udah enggak mau lagi berjuang buat Kak Ace, pokonya Fayra mau pisah saja sama Kak Ace, titik!"


"Fayra mau pisah, pisah, pisah! Hiks ...."


Emosi didalam hati Fayra mulai tidak stabil, sehingga dia beberapa kali memberontak didalam dekapan Amma Trysta.


Appa Daniel yang melihat istrinya mulai kewalahan, segera mengambil alih Fayra. Dia mencoba menenangkan sang anak yang semakin dipenuhi dengan rasa kekecewaan.


Ini merupakan patah hati untuk yang pertama kalinya buat Fayra. Jadi dia belum bisa sepenuhnya mengendalikan dirinya sendiri.


Jika boleh Fayra memilih, maka dia akan memilih patah hati ketika dikhianati oleh kekasihnya dari pada tidak dihargai oleh suaminya sendiri.


Brak!


Ace membuka pintu secara keras, dia masuk kerah ruangan dalam keadaan yang sangat menyedihkan.


Semua orang terkejut bukan main, begitu juga Fayra langsung melepaskan pelukan Appanya, kemudi menatap manik mata suaminya.


"Aku tidak mau pisah dari kamu, titik!" tegas Ace, suaranya begitu nyaring terdengar dari telinga Fayra.


"Tapi aku mau pisah sama Kakak, titik!" bentak Fayra, matanya terlihat sangat memerah memancarkan kekecewaan yang sangat mendalam.


"Aku enggak mau! Sampai kapan pun kamu tetap akan menjadi istriku!" sahut Ace dengan nada tinggi.


"Dasar egois! Kakak egois! Fayra benci Kakak!" teriak Fayra begitu nyaring.


Fayra melempar Ace dengan semua yang ada di dekatnya. Mulai dari bantal, gelas atau apaun yang ada di sana.


Untungnya pecahan tersebut tidak mengenai wajah Ace, melainkan salah satu pecahan tersebut malah menancap tepat di punggung kakinya.


"Fayra!" pekik Amma Trysta. Dia terlihat begitu kecewa dengan sikap anaknya, yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Ini benar-benar jauh dari sifat Fayra yang sebenarnya.


"Stop, Fayra, stop! Kamu tidak boleh seperti ini, kasihan suamimu. Lihatlah kakinya, apa kamu tidak tega melihat luka yang cukup mengerikan disana?" sahut Appa Daniel, yang terus memeluk anaknya agar tidak kembali mengamuk.


"Pokonya Fayra mau pisah Appa, Fayra mau pisah hiks ...." Fayra memeluk Appanya, kini suaranya kian melemas ketika matanya menatap kaki suaminya yang terluka karenanya.


Ace hanya bisa tersenyum menunduk, menatap kakinya sendiri. Lalu dia mengangkat kembali kepalanya dan menatap wajah istrinya.


"Maafkan aku, Sayang. Waktu itu aku pernah melukai kakimu dan sekarang? Lihatlah, aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan hehe ...."


"Ya aku tahu, mungkin ini tidak seberapa sakit. Aku rela menerimanya lebih dari ini, asalkan kamu selalu terus bersamaku. Aku mohon Sayang, jangan pergi dariku dan jangan membuatku merasakan kehilangan. Karena, ak-aku sangat me-mencintaimu."


Bugh!


Ace terjatuh, ketika keseimbangan tubuhnya mulai melemah. Wajah pucat, kaki berlumuran cairan merah dan juga kondisi badan mulai kurus membuat Ace seperti tidak terurus.


"Ace!"


"Kak Ace!"


Semuanya berteriak, ketika melihat Ace terbaring lemah dilantai.


Kedua orang tua Ace terlihat begitu cemas, bahkan Mommy Rosa yang awalnya enggan untuk mendekati anaknya. Sekarang telah menurunkan egonya.


Sebesar apa pun rasa kekecewaan seorang Ibu kepada anaknya, tetapi hati nuraninya tidak akan bisa berbohong bahwa dia sangat menyayangi anaknya.


Seorang Ibu akan selalu mementingkan kondisi anaknya, terlepas dari semua kenakalan sang anak yang berhasil memancing kemarahan Ibunya.


"Ace, bangun Sayang, bangun. Hiks ...." isak tangan Mommy Rosa, melihat anaknya terbaring lemas diatas lantai.


Fayra yang belum dibolehkan banyak bergerak dan mengharuskannya setia diatas bangkar, segera memencet tombol diatas bangkarnya beberapa kali.


Tak lama seorang dokter pun datang, lalu masuk kedalam ruangan Fayra tergesa-gesa. Melihat kondisi Ace begitu menyedihkan, segera mengeceknya.


Kemudian Ace, baru saja mau dibawa keruangan sebelah. Cuman tanpa disadari Fayra sadari, mulutnya menyeletuk dan meminta sang dokter agar merawat suaminya disatu ruangan yang sama dengannya.


Awalnya semuanya terkejut, karena mereka tidak mengira bahwa Fayra akan berkata seperti itu. Hanya saja, mereka semua enggan bertanya apa pun dan langsung menyetujui usul dari Fayra.


Dari situ, mereka sudah mulai paham. Jika saat ini Fayra masih sangat mencintai suaminya, meskipun dia selalu mencari-cari alasan yang tepat. Agar dia tidak akan membuat kedua orang tuanya merasa curiga.


Fayra tiduran diatas ranjangnya menengok kearah Ace, dimana wajah Ace terlihat sangat pucat. Bahkan sang dokter telah memberikan penjelasan, kalau Ace harus beristirahat total untuk beberapa hari kedepan.


Kedua orang tua Fayra dan Ace, mereka segera meninggalkan kamar dengan alasan mau mengisi perutnya, akibat jam sudah menunjukkan makan siang.


Padahal mereka bersikap seperti itu hanya mau memberikan waktu luang untuk keduanya beristirahat.


Namun, dibalik itu mereka juga berharap semoga hubungan Ace dan Fayra tidak akan merembet semakin panjang. Kemudian Fayra dan Ace bisa kembali menjalani rumah tangganya penuh kebahagiaan.


"Kakak kenapa bisa sampai terkena penyakit tipes seperti ini? Sebenarnya apa yang terjadi sama Kakak? Setahuku Kakak tidak pernah sakit, tapi sekarang? Kenapa Kakak malah terbaring lemah disampingku."


Fayra bergumam kecil bersamaan runtuhnya air matanya, dalam keadaan kondisi tubuh miring menatap wajah suaminya yang begitu pucat.


Rasanya ingin sekali Fayra menggenggam tangannya. Tetapi, balik lagi. Fayra enggan menyentuhnya, setelah bayangan perlakuan Ace padanya selalu teringat jelas didalam pikirannya.


Tak lama kedua mata Ace terbuka secara perlahan, Fayra refleks langsung membenahi posisi miring menjadi terlentang, sambil memejamkan kedua matanya


Ace membuka matanya lalu menatap kearah depan sekilaa, lalu Ace menoleh kearah sampingnya. Disitu terdapt Fayra yang sedang berpura-pura tidur.


"Di-dimana semuanya? Kenapa mereka tega meninggalkan Fayra sendirian?" gumam Ace kecil.


"Aku bukan anak kecil lagi yang harus ditungguin." sahut Fayra didalam batinnya, sedikit kesal.


"Terus ini apa? Kenapa aku bisa sampai berada diatas bangkar? Perasaan tadi aku baik-baik aja, deh." gumam Ace kembali.


"Baik-baik aja, gimana? Orang tadi Kakak pingsan! Dasar menyusahkan!" batin Fayra.


Ace menatap kondisi tubuhnya sendiri, dia masih sangat bingung kenapa dia bisa sampai diimpus seperti ini.


Sementara Fayra, dia sesekali mengintip keadaan Ace yang terlihat masih memikirkan sesuatu. Ace kembali mencoba mengingat semua kejadian sebelumnya.


Setelah Ace sudah mengingat semuanya, air matanya kembali runtuh. Niatan Fayra yang mau mengakhiri hubungannya dengan Ace, telah berhasil menyayat hatinya begitu dalam.


Secepat mungkin Ace segera menatap wajah Fayra, dia melihat istrinya sedang tertidur sangat pulas diatas bangkarnya.


"Raa, apa aku boleh jujur sama kamu?"


"Sebenarnya aku itu, udah sayang banget sama kamu. Aku juga sudah menyadari jika apa yang aku lakukan selama ini adalah sebuah kesalahan,"


"Aku menyesal pernah membencimu hanya karena kamu wanita yang manja, menyebalkan, ngeselin dan juga ambisius. Tapi entah kenapa ketika kamu perlahan menjauhiku, disaat itulah jiwa mulai merasakan kehilangan."


Ace yang sedang mencurahkan segala isi hatinya sangat serius, tanpa sadar Fayra malah menjawabnya meskipun suaranya begitu kecil.


"Masa ..." jawab Fayra spontan, membuat Ace sedikit terkejut. Fayra yang telah menyadari kebo*dohannya langsung terdiam.


"Ra-raa? Ka-kamu masih tidur kan?" sambung Ace


"Heeh ...." Fayra mengangguk kecil, sambil sedikit berdekem.


Ace yang belum menyadari kepura-puraan Fayra, hanya bisa mengangguk kecil. Dia kembali meneruskan ceritanya.


Sampai akhirnya tidak tahu dimenit keberapa, Ace telah tersadar kalau ternyata istrinya ternyata hanya berpura-pura tertidur.


Ace tersenyum miring, jika istrinya bisa mengerjainya. Maka dia pun bisa mengerjai Fayra. Beginilah cara Ace untuk kembali mengambil hati istrinya.