
Fayra berjalan sambik berbicara didalam hatinya. Setelah melihat Fayra keluar dari kamar, Ace berkali-kali terkekeh lantaran telah menyadari betapa jahilnya dirinya sendiri.
Hanya saja untuk mendapatkan kasih sayang istrinya dia selalu berusaha melakukan berbagai cara yang sedikit terkesan licik. Tetapi tidak sampai membahayakan istrinya, ya meskipun Ace harus memanfaatkan kepolosan Fayra.
...*...
...*...
Ceklek ...
Pintu kamar Ace terbuka bersamaan masuknya Fayra kedalam sambil menutup pintunya. Kemudian Fayra berjalan, lalu duduk di tepi ranjang.
Mata Fayra melihat kearah meja, disana obat Ace masih tetap utuh tanpa di sentuh sedikit pun. Bahkan posisnya juga tidak berubah sama sekali. Inilah yang membuat Fayra sedikit kesal.
Fayra langsung merebut ponsel suaminya begitu cepat, membuat games online yang baru Ace mainkan beberapa menit lalu game over.
"Yak, Honey! Bunny kan, lagi mainan. Kenapa main rebut aja sih. Lihat tuh, jadi game over kan, arghh ...." keluh Ace, sangat kesal.
"Kenapa? Mau marah? Mau kasar lagi?" ucap Fayra, menatap tajam kearah suaminya.
"Eh, e-enggak kok Honey hehe ... Kan, sekarang Bunny udah jadi suami yang baik buat Honey. Jadi, mana mungkin Bunny marah-marah." ucap Ace, berusaha menutupi kegugupannya.
"Terus kenapa tadi ngeraung kek Macan begitu? Terus ini apa, kenapa bukannya diminum obatnya malah main games! Memangnya udah bosan hidup?" sahut Fayra, sangat gondok melihat suaminya yang begitu menyebalkan.
"Enggak mau, pahit! Aku enggak suka obat, titik!" jawab Ace cepat, sambil menutup mulutnya sendiri.
"Terus kalau enggak suka obat, gimana caranya Bunny bisa sembuh?" ucap Fayra.
"Kan obat Bunny, cuman Honey. Setiap ada Honey disamping Bunny, pasti semua penyakit akan menghilang dengan sendirinya. Karena Honey adalah sumber kekuatan bagi Bunny."
"Jadi ketika Bunny sakit, obatnya ya bukan pil seperti itu. Melainkan obat berupa kasih sayang Honey. Hanya saja bedanya kalau obat pil itu diminum, sedangkan Honey hanya untuk di peluk seperti ini."
Degh!
Ace memeluk istrinya secara tiba-tiba, tubuh istrinya kembali menegang. Fayra hanya bisa terdiam, matanya melotot dan merasakan detak jantungnya yang hampir saja melompat dari tempatnya.
Untuk yang pertama kali Ace bisa mengeluarkan gombalan maut buat istrinya, padahal ini benar-benar sudah keluar dari jati diri seorang Ace. Bagaikan amoeba yang akan membelah diri.
Fayrakali ini benar-benar terlihat sangat syok, ketika mendengar ucapan suaminya yang kesannya begitu asing ditelinganya dan terus berputar-putar didalam ingatan Fayra.
"Honey kenapa diam? Honey gapapa, kan?" tanya Ace, khawatir.
"E-enggak, a-aku ke-ke kemar mandi dulu, bentar!" Fayra berlari begitu cepat, meninggalkan Ace dalam keadaan bingung.
Sesampainya di dalam kamar mandi Fayra segera membasuh wajahnya beberapa kali, terlihat jelas dari cermin besar jika saat ini wajah Fayra sangat merona ketika mengingat perkataan romantis dari suaminya.
"Sumpah! Ini sih, bukan Kak Ace! Kayanya itu titisannya Kak Ace deh. Masa iya, Kak Ace yang terkenal kaku, dingin, bahkan cuek. Tapi tiba-tiba bisa gombal seperti ini? Mustahil, kan?"
Fayra bergumam kecil menatap wajahnya yang sudah basah kuyub, setelah tenang dia kembali tersenyum berjalan mendekati suaminya.
"Ho---"
"Sstt, jangan berisik. Ini sudah malam, cepatlah minum obatnya nih ...."
Ace menatap Fayra sekilas, lalu melihat obat ditangan Fayra yang sudah ada di depan wajahnya. Ace secepat kilat menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Ayolah, Bunny. Minum obatnya, aku ngantuk banget mau cepat istirhat." keluh Fayra, yang sudah kehabisan tenaga mengurusi Ace dalam keadaan manja seperti ini.
"Enggak mau Honey, obat itu rasanya pasti sangat pahit. Jadi kamu aja yang minum, siapa tahu kan lewat kamu aku bisa sembuh hehe ...." ucap Ace, menyengir kuda.
"Jangan konyol deh, Kak! Cepat minum obatnya, atau--"
"Tuhkan, Ho-honey marah lagi." sahut Ace matanya kembali berkaca-kaca.
Fayra yang melihat ekspresi wajah Ace kembali redup, segera mungkin mencoba untuk menenangkannya, agar Ace tidak sampai kembali tertawa.
"Ma-maaf, ya habisnya Bunny susah banget disuruh minum obatnya. Kalau Bunny begini yang ada besok Bunny tidak bisa masuk sekolah, mau sendirian di rumah?" ucap Fayra membuat Ace segera menggelengkan kepalanya.
"Nah, kalau Bunny tidak mau. Makanny obatnya diminum. Ini enggak pahit kok, kalau pahit Bunny minumnya sambil lihat wajah Fayra aja pasti rasanya jadi manis kok hehe ...." sambung Fayra.
Fayra terkekeh membuat Ace hanya tersenyum, bukan berarti Ace tidak terhibur. Melainkan dia sedang mencari ide gila yang akan membuatnya merasa menang banyak untuk hari ini.
Ace tersenyum miring menatap istrinya yang masih terkekeh, sehingga ucapannya mampu membuat Fayra sedikit terkejut.
"Honey mau kan, Bunny meminum obat itu? Kalau mau coba deh, obat yang ada ditangan Honey itu, taruh di dalam mulut Honey." ujar Ace, tersenyum penuh arti.
"Hahh? Ma-maksudnya gimana, Bunny? Kenapa Fayra yang minum obatnya, kan yang sakit itu Bunny bukan Fayra." sahut Fayra, bingung.
"Bisa enggak sih, jangan sebutin nama. Pakai Bunny Honey aja kan bisa. Enggak perlu pakai nama segala, udah kaya interview kerjaan aja." jawab Ace, kesal.
"Yaya, maaf Bunny. Tapi kenapa harus Honey yang minum obatnya, kenapa bukan Bunny aja?" tanya Fayra, penasaran.
"Udah ikutin aja, masukan obat itu kedalam mulut Honey. Kalau udah Honey duduknya agak majuan di deket Bunny!" titah Ace.
Fayra bingung sama apa yang suaminya ucapkan, tetapi dia juga penasaran apa yang akan Ace lakukan padanya. Jadi, mau tidak mau Fayra dengan polosnya mengikuti ucapan suaminya tanpa merasa sedikit curiga.
Baru saja obat itu masuk kedalam mulut Fayra, kedua tangan Ace langsung memegang rahang istrinya dan menempelkan bibirnya dengan bibir istrinya.
Fayra terkejut bukan main, ketika Ace menyerbu bibirnya begitu ganas tanpa aba-aba. Lidahnya pun gencar mencari obat yang ada didalam mulut Fayra. Kemudian merebutnya lalu menelannya secara cepat.
Cuman tidak berhenti dari situ, Ace kembali menjelajahi mulut Fayra sampai beberapa menit. Setelah dirasa Fayra hampir kehilangan napasnya. Ace segera melepaskannya sambil tersenyum.
"Kalau rasanya semanis ini, aku rela berbaring ditempat tidur dalam waktu lama. Supaya aku bisa selalu mencicipi bibir ranummu itu, setiap kali aku mau meminum obat dengan sensasi yang berbeda, hihi ...." ucap Ace, terkekeh.
Fayra yang baru saja menyadari kepolosannya telah dimanfaatkan oleh suaminya membuat dia kesal. Tanpa berpikir panjang Fayra segera memukuli tubuh suaminya begitu gemas.
Ace hanya bisa tertawa melihat ekspresi wajah istrinya yang begitu lucu, ketika dia sedang marah. Sampai akhirnya mereka menyudahi semuanya dan segera beristirahat karena hari sudah semakin larut.
Dimana Fayra memberikan pembatas jarak diantara mereka berdua menggunakan guling ditengah-tengahnya, Fayra tidak mau jikalau sampai ada kejadian apa-apa lantaran dia belum siap untuk semuanya.
Mau tidak mau, Ace hanya bisa menerimanya. Bagi Ace, tidak masalah karena kemungkinan besar ini merupakan awalan yang baik untuknya agar bisa berada disatu kamar bersama Fayra. Layaknya suami istri pada umumnya.
Jika Ace yang memulai memberikan jarak, maka hanya Ace pula yang bisa menghapus semua jarak diantara mereka.