Learn to Love You

Learn to Love You
Part 25



Alana menatap pantulan wajahnya di cermin, dia termenung sambil mengelus perut ratanya. Alana masih tak menyangka hasil hubungannya yang tidak didasari dengan cinta bisa menumbuhkan cinta dalam rahimnya.


Kata orang, seorang anak itu hadir sebagai bentuk cinta nyata kedua orang tuanya. Tapi yang Alana rasakan justru berbanding terbalik, bagaimana jika Devano mengetahui ini? Dia pasti akan sangat marah. Karena Alana, orang yang paling dia cintai sudah menyerahkan tubuhnya kepada Levin sampai menghasilkan seorang malaikat kecil dalam rahimnya.


Saat Alana sedang termenung, Levin masuk ke dalam kamar sambil membawa gelas berisi susu khusus ibu hamil.


"Alana!" panggil Levin. Alana yang terpanggil pun hanya melihat Levin dari cermin tanpa ada niatan untuk berbalik menghadap lawan bicaranya.


"Iya?"


"Ini minumlah!" Levin menaruh segelas susu itu di depan Alana.


"Aku tidak mau!" tolak Alana.


"Kau harus meminumnya! Agar bayi dalam kandunganmu bisa berkembang dengan baik."


Alana dengan terpaksa mengambil gelas di depannya, dia bukan tidak ingin meminumnya. Hanya saja banyak orang yang mengatakan susu ibu hamil itu rasanya amis.


Alana dengan sedikit ragu mulai meminum susu tersebut, benar saja rasanya aneh.


"Huwek!" Alana memuntahkan susu yang baru saja dia telan.


Levin yang melihat itu segera merangkul Alana. "Apa rasanya tidak enak?" tanya Levin, Alana hanya mengangguk.


"Kalau begitu aku akan mencampur susu itu dengan es batu. Agar menetralisir rasa amisnya."


"Hmm ...." Alana hanya mengangguk lemas.


Levin menuntun Alana menuju tempat tidur, Alana menyandarkan kepalanya di kepala ranjang, wajah pucat, lemas, tak berselera. Itu yang Alana rasakan saat ini.


"Kau perlu sesuatu? Atau menginginkan sesuatu? Katakan saja!" ujar Levin.


"Aku mau jus jambu" jawab Alana.


"Baiklah akan aku buatkan."


Levin beranjak dari duduknya, dia pergi keluar kamar untuk membuatkan jus jambu untuk Alana.


Alana hanya menatap Levin yang mulai menghilang dari balik pintu.


'Apakah aku harus mulai menerimanya dan membuka hati untuknya? Bagaimanapun aku tidak ingin anakku nanti kekurangan kasih sayang kedua orang tuanya.'


......................


"Apa perlu nenek bantu?" tanya Nenek.


"Tidak usah, Nek. Aku akan melakukannya sendiri."


"Baiklah, semoga sukses."


Levin hanya tersenyum tipis, setelahnya nenek pergi keluar dari dapur.


Di balik pintu Almahira mulai memikirkan ide jahatnya untuk Alana, dia harus segera menyingkirkan bayi dalam kandungan Alana. Karena jika tidak, harta kekayaan Levin akan menjadi milik bayi itu.


'Baiklah, kak. Selama ini aku selalu ingin melihatmu bahagia, tapi jika kebahagiaanmu akan mengancam hidupku. Maka aku tidak bisa membiarkan itu.' Almahira mengangkat sebuah botol kecil dalam genggamannya.


'Obat ini akan membuat kebahagiaanmu pergi darimu kak, bahkan mungkin Alana juga akan ikut bersama bayimu.'


"Kak!" panggil Almahira berjalan mendekati Levin.


"Ada apa, Ra?"


"Kau bisa tolong ambilkan aku teh herbal itu, aku tidak bisa mengambilnya karena terlalu tinggi."


"Akan aku ambilkan."


Levin berbalik untuk mengambilkan apa yang diinginkan Almahira, Levin sedikit kesusahan karena tempat teh herbal itu terhalang beberapa toples bumbu.


Almahira dengan buru-buru langsung menuangkan obat yang dia bawa ke dalam jus jambu milik Alana, Almahira tersenyum puas karena sudah menaruh racun dalam minuman itu.


'Sekarang kita tinggal lihat bagaimana keluarga ini akan sangat terpuruk. Dengan kejadian yang akan sangat menyakitkan ini.'


"Almahira!" panggil Levin membuyarkan lamunan Almahira.


"Iya, kak?"


"Ini teh herbalnya!"


"Terima kasih, aku pergi dulu."


"Iya."


Levin mengambil gelas yang sudah terisi dengan jus jambu, dia akan memberikan jus ini pada Alana.