
Ucapan Louis dan Tian berhasil membungkam Ace, dia bahkan sampai tidak kepikiran sejauh itu. Sampai seketika emosi Ace mulai kembali tidak stabil, lagi-lagi dia menyakiti dirinya sendiri.
Semua sahabat Ace mencoba untuk menahannya, hingga akhirnya pintu kamar Fayra pun terbuka bersamaan dengan munculnya orang yang mereka kenal.
"Ekhem ... Ada masalah apa ini, Ace?" ucap seorang pria penuh ketegasan.
Ace membolakan kedua matanya ketika menatap pria itu, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Daddy Gerry.
Semua berbalik menatap wajah Daddy Gerry, dimana Louis dan Nicho sangat terkejut ketika mengetahui bahwa Daddy dari Ace juga berada disini.
"O-om, Ge-gerry?" gumam Louis dan Nicho bersamaan. Wajah mereka berdua terlihat syok, begitu juga dengan yang lain.
Hanya Louis dan Nicho yang sudah mengenal keluarga Ace, sehingga matanya melirik kearah Ace sekilas.
Mereka benar-benar tidak percaya, kenapa bisa anak dan orang tua ada dirumah sakit yang sama.
Belum lagi, mereka sama-sama menunggu Fayra. Inilah yang membuat mereka berdua mulai menaruh curiga. Sampai akhirnya, Daddy Gerry menjelaskan sesuatu yang akan membuat mereka percaya.
"Huhh. Tenang Ger, tenang! Cobalah berpikir bagaimana caranya agar mereka tidak tahu, jika Ace merupakan suami sah dari Fayra." gumam batin Daddy Gerry.
"Maaf sudah membuat kalian terkejut." ucap Daddy Gerry menatap Louis dan Nata secara bergantian.
"Kehadiran saya disini hanya untuk meminta maaf kepada keluarga Fayra, akibat kesalahan anak saya membuat Fayra menjadi korban." sambung Daddy Gerry kembali.
"Ja-jadi O-om, su-sudah tahu semuanya?" tanya Nicho dan hanya di angguki oleh Daddy Gerry.
"Bagaimana caranya Om bisa tahu, jika semua ini kesalahan Ace?" sahut Louis, menatap kearah Daddy Gerry.
"Saya tahu, ketika anak saya telah menyadari kesalahannya dan menjelaskan semua yang sudah terjadi,"
"Saya kecewa, tapi saya juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan kesalahan pada anak saya. Apa lagi semua sudah kehendak takdir, jadi untuk itu saya mohon jangan ada yang membenci anak saya."
"Semua orang memang pernah melakukan kesalahan, tapi semua orang juga berhak untuk mendapatkan kesempatan. Agar kelak Ace bisa memperbaiki dirinya dan menebus semua kesalahan, yang pernah diperbuat."
Penjelasan Daddy Gerry, benar-benar membuat rasa curiga diantara Louis dan Nicho mulai menghilang.
Ace awalnya sangat khawatir, jika pernikahannya sama Fayra akan diketahui.
Pada akhirnya, Ace kembali bernapas lega disaat Daddynya telah berhasil mengalihkan pikiran teman-temannya.
"Ya-ya, a-apa yang dibilang Da-daddy benar. Pada saat itu, gua takut, panik dan juga khawatir melihat keadaan Fayra yang benar-benar kritis,"
"Gua pusing, bingung. Jadi mau tidak mau, gua langsung menghubungi Daddy. Cuman itu yang ada dipikiran gua saat itu."
Ace menjelaskan sambil sesekali melirik Daddynya, sedangkan yang lain hanya bisa menyimak saja. Setidaknya, mereka semua sudah tidak lagi menaruh curiga pada Ace.
Disaat semua terdiam penuh ketegangan, Mommy Rosa keluar ruangan dalam keadaan terkejut. Matanya membola besar dan tangannya memegang dadanya sendiri.
Namun, Daddy Gerry segera menatap istrinya dengan beberapa kedipan mata.
Untungnya Mommy Rosa mengerti sama kode tersebut, kemudian dia tersenyum canggung menatap semuanya.
"Loh kalian ada disini juga? Pasti mau menjenguk Fayra ya?" ucap ramah Mommy Rosa.
"Bagaimana kabar Fayra, Tante?" tanya Tian berhasil membuat kedua orang tua Ace menatapnya.
"Ma-maaf Om, Tante. Jika pertanyaanku membuat kalian terkejut." sambung Tian, sedikit menunduk.
"Siapa namamu, Nak?" tanya Mommy Rosa.
"Saya Tian, Tante." jawab Tian.
"Tian? Nama itu tidak asing ditelingaku." gumam Mommy Rosa di dalam hati.
Mommy Rosa kembali mengingat nama Tian, lantaran nama itu tidak asing untuknya.
Berbeda dengan suaminya, cuman mendengar Tian menyebutkan nama sudah bisa menebak. Jika Tian, merupakan salah satu saingan terbesar anaknya.
"Dad, Mom. Tolong antarkan mereka segera ke dalam, untuk bertemu Fayra dan juga orang tuanya. Ace pergi dulu ya, soalnya ada urusan sebentar."
Ace langsung berlari meninggalkan mereka. Dia takut jika semua akan bertambah curiga, kalau sampai tahu Ace tidak bisa ikut masuk kedalam ruangan Fayra.
"Tante, boleh kita masuk?" tanya Sheila.
"Ayo silakan, didalam juga ada orang tua Fayra." ucap Mommy Rosa sambil tersenyum.
Kemudian mereka mengangguk dan berjalan mengikuti Mommy Rosa.
Semua masuk kedalam ruangan Fayra, dimana air mata Sheila dan Nata kembali menetes ketika melihat sahabatnya terbaring lemah.
Mereka berdua berlari, lalu memeluk Fayra. Begitu juga Chelsea, dia tidak tega melihat keadaan seseorang yang sudah dianggap adiknya sendiri.
Tian, Nicho dan juga Louis hanya bisa menatap tubuh Fayra yang masih dipenuhi alat-alat medis. Mereka kasihan melihat keadaan Fayra yang sudah tidak berdaya.
Tanpa disadari tangan Tian mengepal hebat, rasanya Tian ingin sekali menghabisi Ace ketika orang yang sangat dia cintai terbaring lemah.
Namun siapa sangka, Chelsea yang menyadari hal itu refleks memegang tangan Tian.
Entah mengapa, rasanya Chelsea ingin sekali menjadi air saat kobaran api dihati Tian kian membesar.
Tian menoleh menatap senyuman Chelsea membuat hatinya sedikit tenang. Bahkan tangan Chelsea yang awalnya hanya memegang punggung tangan Tian, kini sudah berubah menjadi genggaman.
Chelsea terkejut bukan main, matanya melirik kearah tangan Tian yang menggenggamnya begitu erat. Sedangkan Tian kembali menatap wajah Fayra yang sangat pucat.
Dari situ Chelsea telah menyadari bahwa benih-benih cinta kian menebar didalam hatinya.
Meski Chelsea tahu, bahwa Tian masih mencintai Fayra. Cuman, dia yakin jika suatu saat nanti Tian pasti akan membalas perasaannya, walaupun secara perlahan.
Hampir 1 jam lebih didalam ruangan Fayra, kemudian mereka semua berpamitan untuk kembali pulang kerumah.
Mereka keluar dari ruangan Fayra dan menatap kearah Ace, dia masih setia duduk dalam keadaan risau.
"Lu ngapain di sini? Kenapa bukannya masuk aja, sih. Orang tua lu aja, ada didalam lagi ngobrol." tanya Nicho.
Ace berdiri sedikit tersenyum sambil berkata. "Ya-ya gua e-enggak mau ganggu kalian aja. Paling nanti kalian pulang, gua kedalam sekalian pamit."
Ace berusaha sekuat tenaga untuk tetap terlihat tidak panik, padahal jantung dari tadi berdetak sangat kencang.
"Oh gitu, yaudah. Kalau lu masih enggak bisa masuk, Om Gerry telpon wali kelas aja. Sayang kalau rapot lu banyak surat cinta, yang ada lu dikira bolos lagi." nasihat Nicho yang langsung diangguki oleh Ace.
"Ini yang terakhir gua peringatin sama lu, sekali lagi lu nyakitin Fayra! Gua akan ambil alih Fayra dari tangan lu. Walaupun gua harus melawan temen gua sendiri, paham lu!"
Tian menatap tajam kearah Ace, dimana tangannya masih menggenggam tangan Chelsea. Sedangkan Chelsea mencoba menahan rasa sakit akibat genggaman tangan Tian begitu kencang.
Tanpa sadar Tian menarik Chelsea pergi meninggalkan mereka semua. Dimana mereka sedikit bingung dengan sikap Tian.
Satu sisi Tian terlihat tidak suka jika Fayra terluka, cuman disisi lainnya Tian terlihat semakin dekat dengan Chelsea.
Tapi, semua itu membuat mereka tidak mau ikut campur. Nicho dan Louis segera berpamitan karena hari sudah semakin gelap.
Apa lagi mereka harus mengantar 2 bidadari cantik yang saat ini ada disampingnya untuk kembali kerumahnya dengan selamat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Happy new years guys, semoga diawal tahun ini semua impian yang tertunda akan segera menjadi kenyataan 🥰😍...
...Author mau kasih sedikit wejangan nih 🤣...
...Jika hari ini episode yang author up tiap bab tembus 100 like dan 25 komen, insyaallah author akan crazy up 1 hari full buat kalian 😍...
...Jangan lupa vote dan hadiahnya ya 🙈...
...Terima kasih ... 🙏🏻🥳...