
Alana kembali berbaring, Levin menarik selimut hingga menutupi setengah dada Alana.
Levin juga menc1um kening Alana cukup lama, diikuti oleh Arif.
"Aku akan keluar sebentar." pamit Levin.
Alan hanya mengangguk lemah. "Daddy juga harus pergi, nanti Daddy akan datang ke sini bersama kedua adikmu."
"Kami juga pamit, ikhlaskan." Melda mengusap kepala Alana.
"Iya, Bu."
Mereka semua keluar dari ruangan Alana.
Alana meraba perutnya yang kini sudah tidak ada kehidupan lagi.
"Bayiku, Ibu. Sangat menyayangimu, kau baik-baik di surga sana!" tangis Alana, rasanya sulit sekali menerima apa yang terjadi padanya.
"Halo, Dino. Kau cari tahu siapa orang yang sudah membuat rem mobilku blong, aku sangat yakin pasti ada pelakunya."
"Baik, Tuan. Aku akan melaksanakan perintahmu."
Tut.
"Argh!"
Bugh!
Levin memukul tembok rumah sakit, dia tidak akan mengampuni orang yang sudah berani merusak rem mobilnya. Sampai dirinya harus kehilangan sang calon bayinya.
......................
"Lihatlah apa yang sudah aku lakukan untuk membalas semua dendam yang aku rasakan selama ini Levin. Kau membuatku kehilangan orang yang paling aku sayang, sekarang giliran kau juga merasakan hal yang sama," ujar seseorang yang melihat Levin dari kejauhan.
"Akan aku pastikan, hidupmu tidak akan pernah bahagia."
Iya, dialah orang yang sudah merusak rem mobil milik Levin.
Keesokan harinya ....
"Daddy, apa aku bisa pulang?" tanya Alana, dia sudah sangat bosan di rumah sakit. Tinggal semalam saja rasanya sangat tidak nyaman.
"Daddy akan tanyakan dulu kepada dokter," jawab Arif.
"Iya ..., Dad. Apa Levin juga bisa pulang?"
"Sepertinya tidak," ujar Arif menggoda Alana.
"Aaaa, Daddy!" rengeknya, Arif tersenyum tipis. Sepertinya Alana sudah mulai menerima apa yang menimpanya.
"Daddy hanya bercanda." Arif mengelus rambut Alana.
Alana hanya menanggapi dengan senyuman.
Ceklek!
Levin berjalan menghampiri Alana, dia sudah memakai baju biasa. Itu artinya Levin sudah boleh pulang, kondisinya juga sudah baik-baik saja. Walaupun luka di kepalanya cukup dalam.
"Apa kau sudah boleh pulang?" tanya Alana melihat Levin yang sudah rapi.
"Hmm."
"Aku juga ingin pulang."
"Tapi keadaanmu masih sangat lemah."
"Daddy akan keluar." Arif pun keluar dari kamar Alana, dia ingin membiarkan menantu dan putrinya berbicara berdua.
"Tapi aku ingin tetap pulang, aku sudah baik-baik saja. Percayalah!"
"Kau yakin?"
"Apa perlu aku buktikan?"
Levin langsung menahan pergerakan Alana saat dia hendak bangkit. "Aku percaya."
"Kalau begitu, ayo pulang!"
"Baiklah, sekarang kau ganti pakaianmu!"
Alana mengangguk, Levin menuntun Alana masuk ke dalam kamar mandi. Sebelum itu Levin sudah mengambil pakaian ganti untuk Alana.
"Kau bisa sendiri atau perlu aku bantu?"
Alana sedikit oleng saat berdiri mungkin karena pengaruh obat. "Hmm ...?"
"Aku akan membantumu."
Levin akhirnya membantu Alana berganti pakaian, ntah. Kenapa Alana tidak menolak sama sekali saat Levin mulai membuka pakaiannya satu persatu, dia merasa tidak canggung lagi jika tanpa pakaian di depan Levin.
Apakah dia sudah mulai jatuh cinta?
"Selesai ... ayo!"
"Iya."
Levin dan Alana pun keluar dari kamar mandi, Levin membawa Alana menuju mobil dengan Alana duduk di kursi roda.
Arif sudah mengurus kepulangan Alana. Jadi, mereka bisa langsung pulang.
Mereka akan pulang ke rumah Arif. Sesuai permintaan Alana.
Mereka semua keluar dari ruangan Alana.
Alana meraba perutnya yang kini sudah tidak ada kehidupan lagi.
"Bayiku, Ibu. Sangat menyayangimu, kau baik-baik di surga sana!" tangis Alana, rasanya sulit sekali menerima apa yang terjadi padanya.