
Ace tidak menyangka, lagi dan lagi Appa Daniel masih mau menatap serta merangkulnya. Berbeda sama yang lain.
Padahal yang lain malah menjauhinya, sampai Mommynya sendiri pun masih enggan untuk menatap anaknya.
"Apa kamu mau, bertemu dengan anakku?"
Pertanyaan yang terlontar dari mulut Appa Daniel, mampu membuat Ace terkejut tak percaya. Dia membolakan matanya ketika menatap Appa Daniel.
"A-appa, se-serius?" tanya Ace, gugup.
"Sejak kapan aku pernah bercanda, hem?" ucap Appa Daniel.
Wajah Ace terlihat begitu bahagia, hingga tak terasa air matanya kembali menetes di serta sudut bibir yang tersenyum.
Namun hanya berselang beberapa detik, senyuman di bibir Ace kian memudar. Dia langsung mengalihkan tatapannya, lalu menatap lurus kearah depan.
Ace membungkukkan badan, menggenggam kedua tangannya begitu kuat dan matanya mulai terlihat memerah.
"Ada, apa? Kamu tidak senang bertemu dengan, anakku?" tanya Appa Daniel, bingung.
Entah apa yang ada dipikiran Ace, sehingga dia enggan untuk menemui istrinya. Padahal Appa Daniel sangat tahu, jika Ace benar-benar merindukan istrinya.
Mungkin dibalik kerinduan yang terpendam, Ace masih memikirkan ancaman dari Mommy Rosa. Ancaman itu selalu membuat langkah Ace semakin berat, untuk menemui istrinya sendiri.
"A-aku ti-tidak bisa, Appa. Le-lebih baik, Appa kembali saja kedalam untuk menemani istriku. Bi-bilang sama istriku, ji-jika aku sangat mencintainya."
Ace menundukkan kepalanya, ketika air matanya kembali menetes. Rasanya Ace ingin sekali menemui istrinya, cuman semua ucapan Mommy Rosa berhasil membuat Ace dilema.
Satu sisi Ace ingin selalu ada disamping istrinya, disisi lainnya Ace tidak mau membuat sang Mommy kembali kecewa.
Appa Daniel yang telah menyadari kebimbangan didalam hati menantunya, segera menepuk punggung Ace sambil tersenyum.
"Apa kamu takut dengan semua ancaman Mommymu?" ucap Appa Daniel.
Ace sedikit menoleh, menatap Appa Daniel dan berkata. "Aku tidak mau mengecewakan Mommy lagi, Appa. Bahkan aku juga tidak mau, jika suatu saat nanti aku tidak bisa bertemu kembali dengan istriku untuk selamanya."
"Mau sampai kapan kamu seperti ini? Jika nanti istrimu terbangun, lalu dia mengira bahwa suaminya tidak mencintainya. Bagaimana? Apa itu tidak akan membuat ikatan cinta kalian semakin jauh?"
Nasihat Appa Daniel, berhasil membuat Ace semakin dilema. Apa yang dikatakan Appa Daniel memang benar. Jika dia tidak memiliki pendirian atas cintanya. Maka, kemungkinan besar jarak diantara mereka akan semakin jauh.
Ace menatap wajah Appa Daniel, lalu berkata. "Terus aku harus bagaimana, Appa? Apa yang harus aku lakukan, agar ikatan cinta itu tidak sampai menjadi jarak diantara kami, Appa?"
"Temui istrimu, buatlah dia kembali membuka matanya. Aku yakin, ikatan cinta diantara kalian, akan menjadi petunjuk arah kembalinya anakku,"
"Kamu tidak usah khawatir, aku dan istriku telah memberikan kesempatan. Kamu bisa menemui anak kami sesuka hatimu, walaupun harus bermain petak umpat dari kedua orang tuamu."
Ace terkejut bukan main, ternyata kedua orang tua Fayra benar-benar telah menerima semua kesalahannya dan juga memaafkannya. Meski belum sepenuhnya.
"Ya aku serius, jadi cepatlah temui istrimu. Bawalah dia pulang dengan ikatan cinta kalian, sebelum langkahnya akan semakin menjauh." ucap Appa Daniel, penuh ketegasan.
Ace sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya bisa meneteskan air matanya. Ace langsung memeluk Appa Daniel begitu erat, berkali-kali dia meminta maaf dan juga berterima kasih.
Selang beberapa menit Ace melepaskan pelukannya, kemudian mereka bangkit dari tempat duduk, lalu berjalan perlahan kearah kamar Fayra.
Ceklek!
Appa Daniel membuka pintu kamar Fayra begitu lebar, bersamaan munculnya Amma Trysta yang saat ini duduk disamping anaknya.
Tubuh Ace kian menegang, ketika matanya melihat istrinya tertidur diatas bangkar dengan semua alat-alat medis yang masih terpasang sempurna.
Amma Trysta bangkit, berjalan kearah suaminya. Mereka melihat Ace yang masih terdiam berdiri menatap bangkar istrinya.
Perlahan Ace kembali melangkahkan kakinya satu demi satu, tatapan terus menyorot kewajah istrinya yang saat ini terlihat begitu cantik. Walaupun sedikit pucat.
"Fa-fayra? A-akhirnya, a-aku bisa me-melihat ka-kamu lagi, Sa-sayang. A-aku sa-sangat me-merindukanmu." gumam Ace, air matanya terus mengalir seiring langkah kakinya mendekati bangkar istrinya.
Tangis Ace pecah, dia berdiri tepat di samping bangkar istrinya. Ace tidak menyangka bahwa, dia bisa menemui istrinya yang beberapa hari ini hanya bisa memendam rasa rindunya.
Ace membungkukkan badannya lalu memeluk istrinya, isak tangis terdengar begitu pilu ditelinga kedua orang tua Fayra. Mereka tidak menyangka, menantunya benar-benar sudah menyadari kesalahannya.
Ace melepaskan pelukannya, lalu mengusap pipi istrinya dan mencium keningnya cukup lama. Air mata Ace, berhasil menetes tepat diwajah Fayra. Kemudian Ace duduk dikursi sambil terus mengelus pipi istrinya.
"Ma-maafkan aku, Raa. A-aku telah gagal menjadi suamimu, hiks. Ak-aku tahu, aku salah. Ta-tapi a-aku mohon, Raa. Ba-bangun ya, ja-jangan tidur terus kaya gini hiks ...."
"Ka-kamu harus tahu, Raa. Kalau aku sudah berhasil mencintai kamu loh, hehe ... Pasti kamu senang kan. Tapi, kamu harus bangun dulu Sayang, biar aku bisa membuatkan momen spesial yang sangat indah untukmu,"
"Ya, aku tahu mungkin aku bukan suami yang romantis seperti Appa, tapi aku janji akan berusaha menjadi yang terbaik untukmu, aku janji, Raa. Aku janji!"
"Maka dari itu, kamu harus bangun ya Sayang. Aku mohon, aku rela kamu marahin, kamu pukul atau pun kamu cuekin. Gapapa, aku rela!"
"Tapi yang buat aku enggak rela, ketika melihat istriku hanya bisa tidur diatas ranjang yang sempit seperti ini. Padahal kamu itu bisa tertidur pulas diranjang yang sangat besar bersamaku, Sayang ...."
"Apa kamu tidak rindu pulang kerumah kita? Bahkan apa kamu tidak rindu bertengkar sama suami yang menyebalkan ini?"
"Lihatlah, Sayang. Lihat kearahku. Apa kamu senang melihat Ace idolamu, yang ketampanan dan juga kerapihannya sekarang telah berubah menjadi Ace yang lusuh dan juga dekil,"
"Pasti kamu sangat sedih bukan, ketika melihatku seperti ini. Aku pun juga sedih melihat istriku yang hanya bisa tertidur, kalau pun bisa digantikan. Biar aku yang mengganti posisimu, Raa. Biar aku saja! Hiks ...."
Ace terus menangis meraung melihat istrinya tak berdaya, bahkan kedua orang tua Fayra pun mencoba untuk menenangkan keadaan Ace yang semakin melemas.
Tanpa di sadari Ace terjatuh ketika dia masih memeluk istrinya, mereka yang melihat itu langsung panik.
Appa Daniel memapah ace tiduran di sofa panjang. Sedangkan Amma Trysta dia segera memanggil dokter untuk bisa memeriksa keadaan Ace.