Learn to Love You

Learn to Love You
Part 32



"Devano, kau ...?"


"Kenapa kau ada di sini?" tanya Alana tak habis pikir, kenapa Devano senekat ini.


"Alana. Aku sangat merindukanmu, makanya aku datang kemari."


"Tapi bagaimana jika ada yang melihatmu?"


"Sudah kau tenang, tidak akan ada yang tahu kalau aku ada di sini."


"Tapi Devano---"


"Alana, mengertilah! Aku hanya ingin bersamamu sekarang ini."


"Tapi aku tidak bisa, saat ini aku harus bersama keluargaku."


"Jadi kau lebih mementingkan keluargamu dibandingkan diriku?"


"Tidak bukan begitu, saat ini aku harus pergi. Aku tidak bisa berlama-lama di sini, jika tidak Levin akan curiga."


"Alana---"


"Levin mengertilah!" kesal Alana.


"Ck! Baiklah, sudah sana!"


Alana langsung pergi meninggalkan Devano.


Bugh!


"Si4l! Alana sudah berani membantahku!" kesalnya.


"Aku harus bisa membuat Alana kembali seperti dulu, yaitu patuh akan ucapanku ... aku tidak bisa membiarkan dirinya lepas sebelum tujuanku tercapai, ak---"


Devano menghentikan ucapannya saat ada seseorang yang menepuk pundaknya.


...----------------...


"Nek, ini garpu yang Nenek minta." Alana memberikan garpu yang baru dia ambil kepada Nenek.


"Terima kasih."


"Sekarang mari kita mulai saja makan malamnya."


Mereka pun mulai makan malam dengan obrolan-obrolan kecil dan sesekali tertawa, Alana tersenyum senang karena keluarganya dan keluarga suaminya bisa sedekat ini dalam waktu singkat.


Hampir memakan waktu yang cukup lama, makan malam pun selesai. Keluarga Arif pun pamit untuk pulang karena ini sudah lewat.


"Terima kasih untuk undangan makan malamnya, makanannya enak sekali," ujar Arif.


"Sama-sama, jika berkenan sering-seringlah datang."


"Iya, nanti kalian juga harus datang ke rumah kami."


"Tentu kami pasti akan datang."


"Daddy, Bunda. Mengapa kalian tidak menginap saja? Ini sudah malam," ujar Alana, rasanya dia tidak ingin kedua orang tuanya pulang.


"Tidak bisa, Nak. Besok Daddy ada meeting penting."


"Kedua adikmu juga harus sekolah," ujar Anaya.


"Jangan sedih. Nanti giliran kalian yang datang ke rumah, lalu menginap."


"Baiklah, Daddy dan Bunda hati-hati!"


"Iya, sayang. Kami pamit, selamat malam."


"Selamat malam," serempak keluarga Levin.


Setelah memastikan mobil Arif cukup jauh, mereka mulai masuk satu persatu ke dalam rumah.


"Levin, Alana. Kalian juga harus istirahat, ya?"


"Iya, Nek."


Setelah itu Nenek pun masuk ke dalam.


"Kapan kita akan menginap di rumah bunda?" tanya Alana menatap Levin.


"Sabarlah, aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu. Jika tidak kita hanya akan menginap semalam saja."


"Tidak! Aku tidak mau menginap semalam."


"Maka dari itu, aku harus selesaikan dulu pekerjaan pentingku, oke?"


"Oke."


"Bagus, ayo masuk!"


"Levin ... rasanya kakiku sakit sekali, kakiku juga mulai bengkak!" adunya.


"Katakan saja kau ingin aku gendong!" ketus Levin.


"Hehehe." Alana hanya menyengir, ntah kenapa dirinya jadi begitu manja? Saat bertemu dengan Devano juga dirinya tidak seperti biasanya tadi. Ada rasa tidak nyaman saat bertemu dengan Devano, dulu ketika bertemu dengan Devano, Alana pasti akan sangat senang dan tidak mau jauh-jauh. Tapi tadi ntah apa yang terjadi dirinya jadi biasa saja.


Levin pun menggendong Alana menuju kamar. "Kau itu sangat berat."


"Iya aku memang berat. Karena kau menggendong dua orang," jawabnya, Alana melingkarkan kedua tangannya di leher Levin.


"Nanti hanya anakku saja yang akan aku gendong, kau tidak akan."


"Kenapa begitu?!" Alana tak terima dengan itu.


"Karena kau berat!"


"Kau ini ...!"


...****************...


"Pergilah Devano jangan datang lagi kemari, kau hanya membuat kegaduhan!" usir seseorang, dia membawa Devano menjauh dari area rumah.


"Berani sekali kau mengusirku, hah!"


"Tentu aku berani, apa masalahmu?"


"Kau ...." Devano menggantung ucapannya.