
Mereka masih terus melanjutkan makan malam mewahnya, Alana hanya diam dan sesekali mengaduk-aduk makanan di piringnya. Dia tak berselera untuk makan rasanya, dia merindukan Devano. Harusnya kini dirinya sudah bersama Devano, tapi karena rencana konyol Devano dirinya harus tetap berada di rumah Levin.
Tujuan dirinya datang ke sinikan untuk Devano. Sekarang Devano sudah selamat tapi dirinya masih terjebak di dalam kehidupan Levin, dia tak terlalu memikirkan soal pernikahannya dengan Levin. Walaupun dia sudah menyerahkan apa yang begitu berharga dalam hidupnya, tapi itu tidak merubah apapun. Pernikahan ini hanya Alana anggap sebagai konspirasi semata.
Alesha yang melihat Alana hanya mengaduk-aduk makanannya pun merasa heran.
"Kak. Kau kenapa?" tanya Alesha.
Alana tersenyum. "Tidak, aku tidak apa-apa."
"Kau yakin? Atau Kakak sakit?" tanyanya lagi.
"Tidak Alesha, aku tidak apa-apa."
"Ada apa, Nak?" kini nenek buka suara setelah memperhatikan Aleshaa dan Alana yang seperti berdebat.
"Tidak Nek, tidak apa-apa."
"Hmm, sepertinya aku tahu Kak Alana kenapa," ujar Alesha.
"Memangnya kenapa?" tanya Melda.
"Sepertinya kak Alana ingin disuapi oleh Kak Levin."
"Uhuk-uhuk!" Levin segera meminum air yang ada di depannya.
"Benarkan, Kak?" Alesha menatap Alana.
"Bu--bukan, aku hanya tidak selera makan saja."
"Itu yang membuat Kakak tidak selera makan. Karena tidak disuapi kak Levin." Alesha masih saja berusaha untuk membuat Levin menyuapi Alana.
"Nenek setuju," ujar Nenek sambil menahan tawa.
"Nek---"
"Hei, kenapa? Lakukan saja. Dia itukan istrimu, bukan orang lain." Melda menimpali.
Levin dengan pasrah menyuapi Alana. "Buka mulutmu!"
"Tidak! Aku bisa sendiri!" tolak Alana.
"Sudah terima saja, jika tidak mereka akan terus menggoda kau dan aku." bisik Levin, Alana dengan terpaksa membuka mulutnya dan menerima suapan dari Levin dengan ragu.
Alesha yang melihat itu sangat senang, akhirnya kakaknya ini bisa juga bersikap romantis walaupun penuh perjuangan untuk membuatnya mau melakukan itu.
Almahira hanya memutar bola matanya malas. "Ck! Terlalu banyak drama," ujarnya pelan.
"Kau benar, kita harus segera menyingkirkan Alana sebelum mereka saling jatuh cinta. Itu akan mempersulit kita." bisik Rendra.
"Hemm .....
......................
Dia mencari keseluruhan tempat yang ada di kamarnya, tapi kenapa kalung itu tidak ada? Seingat Alana. Dia meletakkan kalung itu di sebuah kotak, sekarang kenapa tidak ada?
Alana mencari-cari kalung hati tersebut, apakah hilang? Jika benar, bagaimana dirinya berkomunikasi dengan komandan Kim? Dia harus memberi tahu bahwa Devano baik-baik saja, tapi kalung itu sekarang tidak ada.
Alana menggigit kukunya. "Sekarang bagaimana? Ke mana kalung itu?!" kesal Alana.
"Kalung apa?"
Deg.
Alana menoleh ke belakang, ternyata Levin berdiri tepat di belakangnya. Apakah dia mendengar segalanya?
"I--itu aku kehilangan kalung dari ibuku," jawab Alana, semoga saja Levin percaya.
"Kau taruh di mana?"
"A--aku menaruhnya di salah satu kotak di sana, tapi saat aku ingin memakainya. Ternyata kalung itu tidak ada, mungkin hilang."
"Tidak usah kau cari."
"Kenapa?"
"Aku akan membelikan yang baru."
"Aku tidak mau, kalung itu pemberian ibuku. Tidak ada yang bisa menggantikannya!" kesal Alana.
"Baiklah, sayang. Maafkan aku." Levin memegang kedua pipi Alana, Alana merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
Mereka saling bertatapan, keduanya sama-sama merasakan perasaan aneh.
Alana segera memalingkan wajahnya. "Ini sudah malam, sebaiknya kita tidur." Alan menghindari Levin dengan buru-buru naik ke tempat tidur, dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Ada apa dengannya?" gumam Levin.
•••
"Halo."
"Bagaimana keadaan di sana?"
"Semua baik, Alana maupun Levin tetap bersikap biasa saja."
"Bagus, terus awasi mereka. Pastikan tidak ada yang terjadi."
"Baik."
Tut.
"Semoga saja tidak ada apapun yang terjadi dengan keduanya."