
Ace memejamkan kedua matanya bersamaan air matanya yang terus mengalir, kemudian Ace merentangkan kedua tangannya begitu lebar, bagaikan seekor burung yang akan terbang.
Saat Ace ingin menerjunkan dirinya kebawah, seketika tubuhnya tertahan oleh sesuatu yang begitu berat.
"Astaga, Ace! Kamu mau ngapain, hahh!" pekik seorang pria yang tidak lain dan tidak bukan adalah Appa Daniel.
Ya, Appa Daniel niatnya ingin menemui Ace untuk menanyakan apa penyebab dia selalu membenci anaknya. Tapi, siapa sangka Appa Daniel tidak menemukan Ace dimana-mana.
Sampai seketika Appa Daniel kembali ke kamar Fayra dan menanyakan kepada kedua orang tua Ace, lalu Daddy Gerry memberitahukan bahwa Ace beberapa kali sering berada diatas rooftop ketika hatinya terasa begitu sakit.
Namun yang membuat Appa Daniel tidak habis pikir.l, kenapa kedua orang tua Ace terlihat biasa saja dan juga tenang, ketika anaknya beberapa kali berada di tempat yang sunyi seperti itu.
Apa lagi tempat itu merupakan tempat yang sangat berbahaya bagi orang-orang yang memiliki banyak pikiran seperti Ace.
Cuman, Appa Daniel tidak mengatakan semua itu lantaran dia takut akan membuat mereka menjadi panik. Dengan cepat Appa Daniel melangkahkan kakinya ketempat tersebut.
Dan, benar saja. Ketika sesampainya disana, Appa Daniel melihat Ace benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya dan berniat untuk mengakhiri hidupnya yang terbilang masih sangat muda.
Dengan langkah cepat Appa Daniel segera memeluk kaki Ace begitu erat, hingga teriakannya mampu membuyarkan Ace dan segera membuka kedua matanya.
Ace menoleh ke arah bawah, dimana matanya menatap wajah Appa Daniel membuat hatinya kembali teriris.
Ace tahu saat ini Appa Daniel kecewa berat padanya, yang Ace tidak menyangka kenapa Appa Daniel malah menahannya.
"A-appa? A-appa nga-ngapain a-ada di sini?" gumam Ace.
"Sekarang Appa minta kamu turun dari sini!" tegas Appa Daniel menatap tajam kearah Ace sambil terus memeluk kedua kaki Ace.
"Tidak, Appa. Tidak! Mungkin dengan kepergian Ace ini, Fayra akan kembali merasakan kebahagiaan. Appa tahu kan, Fayra menderita itu semua karena Ace!"
"Jadi buat apa Ace hidup jika hanya menyakiti hati Fayra, buat apa Appa, buat apa! Lebih baik Ace pergi, dengan begitu Fayra tidak akan tersakiti lagi!"
"Ace mohon Appa. Lepaskan tangan Appa! Ace tidak mau hidup jika Fayra tersadar nanti dia akan menjauhi Ace, mendingan Ace yang menjauhi Fayra untuk selamanya hiks ...."
Ace memekik keras bersamaan runtuhnya air mata penyesalan, Appa Daniel yang melihat Ace begitu depresi bisa menyimpulkan bahwa Ace memang sudah mulai mencintai anaknya.
"Apa kamu mau membuat anakku ketika dia terbangun nanti statusnya sudah berubah menjadi janda, hah!"
"Apa kamu pernah berpikir bagaimana perasaan anakku ketika terbangun dari tidur panjangnya, dia sudah tidak bisa lagi menemukan suaminya!"
"Dan satu lagi, anakku itu sangat-sangat mencintaimu. Lantas apa yang akan terjadi di kehidupan kedepannya nanti?"
"Jika memang kamu merasa bersalah, menyesal dan juga kecewa dengan dirimu sendiri. Maka yang perlu kamu lakuin sekarang itu, belajar!"
"Belajar dalam hal memperbaiki diri, agar suatu saat nanti anakku bisa bangga karena memiliki suami yang begitu menyayangi keluarganya!"
"Ingat Ace! Saat ini kamu sudah menghancurkan hatinya, jadi jangan coba-coba kembali menghancurkan mentalnya!"
"Aku tidak sanggup Ace, aku tidak sanggup! Anak semata wayangku yang selama ini berusaha keras untuk aku bahagiakan, pada akhirnya menjadi wanita yang sangat menyedihkan!"
Appa Daniel menangis bukan berarti dia lemah atau pun kasihan dengan Ace. Tetapi, dia seperti ini karena melihat kondisi anaknya yang benar-benar sangat membuat hatinya hancur.
Jika Ace pergi dengan cara seperti ini, Appa Daniel tidak akan bisa lagi membayangkan betapa hancurnya anaknya nanti.
Ya, memang mungkin ketika bangun nanti wajar saja Fayra pasti akan marah, diam dan juga kecewa sama Ace. Cuman, tidak menutup kemungkinan bahwa Fayra tidak mau kehilangan Ace.
Appa Daniel tahu kalau anaknya begitu mencintai suaminya, sampai rela menahan rasa sakitnya seorang diri. Tapi, jika untuk kehilangan Ace selamanya, mungkin Fayra tidak akan sanggup kembali menjalani hidupnya.
"Ta-tapi Appa, Ace sudah banyak menyakiti Fayra, bahkan membuat hatinya hancur. Ditambah Ace telah mempertaruhkan Fayra hanya demi keegoisan, jadi kemungkinan besar Ace akan kembali melakukan kesalahan ketika Fayra terbangun dan Ace tidak mau itu hiks ...."
"Lepaskan, Appa lepaskan! Ace tidak mau hidup, jika kehadiran Ace cuman mampu menyakiti hati istri Ace sendiri, buat apa? Lebih baik Ace mati!"
"Oke! Aku akan lepaskan, tapi tunggu!"
Appa Daniel melepaskan pelukan di kakinya membuat Ace sedikit bingung, tak berlangsung lama mata Ace malah membola ketika melihat Appa Daniel sudah berdiri di sampingnya sambil menoleh menatapnya.
"Ayo kita pergi sama-sama!" ujar Appa Daniel yang sudah menatap ke arah depan.
"A-appa! Apa yang Appa lakukan disini, ayo cepat turun! Bagaimana jika Appa yang terjatuh?"
Ace berbicara nada tinggi saat terkejut melihat Appa Daniel sudah berada di sampingnya. Ace benar-benar takut jika Appa Daniel kehilangan keseimbangannya maka, dialah yang akan terjatuh bukan Ace.
"Ya biarkan saja, kamu ingin mengakhiri hidupmu, bukan? Jadi mari kita sama-sama mengakhiri hidup!"
Appa Daniel sambil tersenyum menoleh kearahnya, bahkan badannya sedikit berberok ke arahnya.
"Appa, stop! Jangan bergerak, saat ini kita berada dilantai paling atas, jika Appa kehilangan seimbangan maka aku tidak akan bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan Appa!" tegas Ace, jatungnya berdebar sangat cepat.
"Kenapa? Kamu takut jika aku terjatuh lalu, aku mati? Memangnya kamu peduli dengan perasaanku? Tidak, kan!"
"Biarkan saja aku mati, buat apa juga aku hidup? Kan, kamu sendiri yang bilang, kamu ingin mengakhiri hidupmu karena tidak mau menyakiti anakku, bukan?"
"Dan aku juga akan mengakhiri hidupku karena aku tidak mau melihat anakku menderita diusianya yang sangat muda!"
Ucapan Appa Gerry mampu membuat Ace terdiam sejenak, apa yang dikatakan Appa Gerry memang ada benarnya.
Jika Fayra terbangun nanti, lalu tidak ada Ace di sampingnya maka Ace bisa membayangkan berapa hancurnya Fayra.
Namun balik lagi, jika dia tetap berada disampingnya apakah dia tidak akan kembali menyakitinya? Itulah, yang menjadi pertimbangan bagi Ace sendiri saat ini.
Appa Daniel sekilas melirik kearah Ace yang masih terdiam, kemudian satu kakinya dia langkahkan ke arah depan.