Learn to Love You

Learn to Love You
Trauma Arsyi



Selesai malam malam, Eric baru akan akan bersiap-siap untuk kembali pulang. Tapi, siapa sangka dia malah terjebak hujan yang cukup deras dirumah Arsyi.


Lagi-lagi, Eric harus berdiam diri dirumah Arsyi. Sampai seketika Eric meminta izin pada Mamih Syahnaz bertemu dengan anaknya untuk sekedar meminta maaf. Setelah mendapatkan izin, Eric pun tersenyum dan segera pergi menuju kamar Arsyi.


...*...


...*...


Di dalam kamar terdengar suara isak tangis Arsyi, yang sedang duduk menyender di atas kasur. Arsyi memeluk foto Papihnya begitu erat.


"Hiks, Pa-papih. Arsyi kangen sama Papih, andaikan waktu itu Arsyi berhasil menghentikan Papih,"


"Mungkin saat ini, Papih masih ada disamping Arsyi dan Mamih. Ma-maafkan Arsyi, Pih. Ka-karena Arsyi Papih tiada, hiks ...."


"Arsyi, bod-doh! Arsyi tol*lol! Kenapa waktu itu lu tidak menahan Papih aja sih!"


"Kenapa juga, lu harus ngebiarin Papih berangkat kerja! Padahal malamnya lu tuh, udah dikasih peringatan, lewat mimpi!"


"Cuman, kenapa lu malah menganggap mimpi itu sebagian dari bunga tidur! Akhirnya sekarang, apa? Lu kehilangan Papih, kan! Arghh ... Ini semua gara-gara lu, Arsyi!"


Arsyi berteriak sekeras mungkin sambil melempar semua bantal, guling, selimut atau apa pun yang ada disampingnya dalam keadaan masih terduduk memeluk foto Papihnya.


Terlihat dari sorotan mata Arsyi, kalau dia sedang diambang emosi yang sangat besar. Dia marah dan kecewa sama dirinya sendiri.


Belum lagi Arsyi merasa begitu menyesal, dia mengira bahwa kematian Papihnya akibat ulah dirinya. Dari sini Arsyi merasa menjadi anak yang tidak berguna.


Arsyi tidak bisa menyelamatkan nyawa Papihnya sendiri, didetik-detik terakhir pasca sebelum kecelakaan terjadi.


Tanpa disadari, Eric mendengar semua teriakan Arsyi saat dia hendak masuk kedalam kamar Arsyi dengan membawakan nampan berisikan makanan.


"Astaga, ada apa dengan sikap Arsyi? Kenapa dia terlihat begitu marah, akibat Papihnya sudah tiada? Apakah sehancur itukah, ketika anak wanita ditinggal oleh cinta pertamanya, yaitu Papihnya sendiri?" gumam batin Eric.


Tangan Eric perlahan memegang gagang pintu, lalu membukanya secara perlahan.


Ketika Eric berhasil membuka pintu tersebut, dia melihat Arsyi sedang memegang sebuah lampu yang hampir saja mau dia lembar kedinding.


"Arsyi!" teriak Eric.


Eric langsung berlari sekuat tenaga, menaruh nampan tersebut lalu mengambil lampu itu dari tangan Arsyi dengan sedikit paksaan.


"Apa lu udah gila, hah! Bagaimana jika lampu itu pecah, terus mengenai tubuh lu sendiri?"


"Lu itu, mikir enggak sih. Ketika Mamih Syahnaz melihat lu terluka. Apakah dia enggak akan sedih!"


Eric menaruh lampu tersebut kembali ke tempatnya, tetapi sorotan matanya tetap menatap manik mata Arsyi yang saat ini masih di penuhi emosi.


"Apa urusan lu, hah! Lu tuh enggak tau apa-apa, jadi enggak usah sok tahu tentang gua dan keluarga gua! Lebih baik lu pergi dari sini, gua muak liat lu!"


Arsyi membentak Eric begitu kencang, disertai tetesan air mata yang terus mengalir. Eric bisa melihat ada sesuatu yang tidak beres dengan Arsyi.


Meskipun Eric bukan dari keturunan cenayang ataupun seseorang yang memiliki indra ke-6. Cuman dari tatapan tajam Arsyi seperti berbicara, kalau dia mengalami sedikit trauma tentang Papihnya yang sudah tiada.


"Gua bilang pergi dari sini, itu tandanya lu keluar dari kamar gua! Apa itu kurang jelas, hah!" bentak Arsyi, sekali lagi.


"Gua bilang keluar!" teriak Arsyi.


"Enggak mau!" sahut Eric.


Entah kenapa jiwa ketakutan didalam diri Eric seketika menghilang, seandainya jika Ace yang bersikap seperti ini, sudah bisa dipastikan Eric tidak akan bisa berkutik.


Namun jika Arsyi, Eric malah merasa kalau dia harus bisa menjadi tongkat untuknya. Agar disaat Arsyi kehilangan semangat untuk melangkah seperti ini, maka Ericlah yang akan menjadi menompangnya.


Tanpa disadari, disela pintu Mamih Syahnaz sedang menguping pembicaraan mereka. Teriakan Arsyi membuatnya sangat mengkhawatirkan kondisi anaknya.


Sampai seketika Mamih Syahnaz menemukan Eric dan Arsyi saling melontarkan argumennya satu sama lain.


Cuman ada satu hal yang membuat Mamih Syahnaz terkejut yaitu, ketika Arsyi memukuli tubuh Eric sekencang mungkin.


Mamih Syahnaz begitu salutkan dengan Eric. Dia sama sekali tidak gentar dengan pukulan yang Arsyi berikan.


Eric tetap berdiri tegak di depan Arsyi sesekali memejamkan kedua matanya sekilas, ketika tangan Arsyi hampir saja menamparnya.


"Lu tuh kenapa sih, Eric! Kenapa lu enggak mau keluar, gua kan udah bilang keluar ya keluar. Tapi, lu kenapa kekeh ada disini, hah! Harusnya lu tuh pergi, tinggalin gua sendirian!"


"Lu tuh enggak tahu, kalau gua ini adalah orang satu-satunya yang menjadi penyebab Papih meninggal! Gua ini pembunuh, Ric! Pembunuh, hiks ...."


"Gua nyesel, Ric! Gua nyesel enggak bisa nahan Papih, padahal gua udah dikasih isyarat lewat mimpi, kalau hari itu akan ada kejadian buruk sama Papih. Cuman gua enggak percaya, gua kira mimpi itu adalah bunga tidur,"


"Tapi nyatanya apa, Ric! Semua itu benar-benar terjadi, meskipun kejadiannya berbeda hiks ...."


"Lu tahu kan, Ric. Gua itu sayang banget sama Papih. Gua enggak mau lihat Mamih selalu sedih karena ingat sama Papih, dan semua kesedihan Mamih itu gara-gara gua! Gua enggak pantes jadi anak baik, Ric! Gua enggak pantes, hiks ...."


Arsyi menangis sesegukan sambil terus memukuli Eric, sedangkan Eric yang tidak tega mendengar celoteh Arsyi langsung memeluknya begitu Erat.


Eric berusaha keras membuat Arsyi mengerti, jika kejadian itu murni merupakan takdir alam. Bukan kesalahan Arsyi, karena untuk membedakan isyarat melalui sebuah mimpi itu sangatlah sulit.


Sehingga Eric selalu menjelaskan bahwa Arsyi bukanlah penyebab kematian dari Papihnya.


Mamih Syahnaz mendengar semua ucapan anaknya, tidak menyangka jika inilah penyebab kenapa Arsyi selalu menyalahkan dirinya sendiri.


"Ja-jadi i-ini, alasan kamu selalu menyalahkan dirimu sendiri atas meninggalnya Papih, Nak! Kenapa selama ini kamu tidak jujur sama Mamih, Syi. Kenapa kamu selalu tertutup sama Mamih,"


"Tetapi berbeda dengan Eric, kamu bisa menceritakan semua yang kamu pendam dengan mudah. Ada apa denganmu, Nak. Apa kamu tidak percaya sama Mamih, atau kamu takut Mamih akan semakin sedih mendengar ini?"


"Justru jika kamu seperti ini, Mamih akan sangat-sangat bersedih, Nak. Apa lagi selama 5 tahun ini kamu memendam semuanya sendirian,"


"Andai saja kamu mau cerita, pasti Mamih akan menjelaskannya. Cuman apa yang Eric katakan itu sudah mewakili hati Mamih, jika semua yang terjadi ini karena takdir yang mengharuskan Papih kembali kesisiNya, bukan karena kamu."


Mamih Syahnaz bergumam di dalam hatinya, sambil terus menatap Arsyi yang saat ini emosinya sedikit mulai mereda didalam pelukan Eric.


Dengan perlahan Eric mendudukan Arsyi di pinggir kasur, Eric pun menemani Arsyi duduk. Dia mencona selalu menasihati Arsyi agar tidak selalu menyalahkan dirinya sendiri.


Mamih Syahnaz pun mengukit tersenyum kecil saat melihat Arsyi sudah mulai tenang, belum lagi Eric benar-benar bisa menjadi superhero untuk anaknya.


Disaat Eric sedang menyuapi anaknya, Mamih Syahnaz pun pergi kearah kamarnya dengan perasaan yang sangat lega.